Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 58


__ADS_3

"MAS TIOOOOO. . ." Teriak Sifa.


"Apa-apaan kamu Mas? Aku tinggal sebentar, kamu malah asik pegangan tangan dengan wanita ini!" Bentak Sifa, yang kemudian menghempaskan tangan kami, dan kami pun semakin menjadi pusat perhatian.


"Heh! Denger iya! Jangan berani-berani nya kamu menggoda ayah dari anak ku! Mas Tio ini cuman milik aku! Dasar wanita ngga tau malu! Lagian buat apa kamu di sini? Di sini itu khusus buat perempuan-perempuan yang bisa hamil! Bukan kaya kamu! Pasti kamu ngikutin kita sampai ke sini? Iya kan? Mending sekarang kamu pergi dari sini! Aku muak liat wajah kamu!" Ucap Sifa yang kemudian mendorong ku, aku yang terkejut tidak sempat mengelak. Beruntung Asisten Dr. Natali menangkap ku, hingga aku tidak jadi terjatuh.


"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Asisten Dr. Natali khawatir sambil memegang pundak ku dan aku pun hanya membalas dengan senyum paksa.


"CUKUP! Aku muak dengan kalian berdua! Kamu mau laki-laki ini? Silahkan kamu ambil! Aku tidak butuh laki-laki yang tidak bisa memegang ucapannya!" Ucap ku marah, kemudian aku pun pergi menuju Ruang Pemeriksaan di bantu oleh Asisten Dr. Natali sambil memapah ku dan berusaha menenangkan ku.


"Yang sabar iya Bu! Ayo tarik napas dan hembuskan perlahan." Ucap Suster dan aku pun mengikuti perkataannya.


"Ayo di minum dulu Bu, kalau Ibu sudah tenang kita masuk ke dalam." Ucap Suster, saat kami berada di kursi tunggu di depan Ruang Pemeriksaan dan aku pun minum terlebih dahulu.


"Terimakasih banyak iya Sus." Ucap ku tulus.


"Sama-sama Bu, gimana sudah lebih tenang?" Tanya Suster dan aku pun menganggukkan kepala, bertanda sudah lebih baik.


"Kalau begitu mari kita masuk ke dalam, Dr. Natali sudah menunggu." Ucap Suster ramah dan membantu ku berdiri.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


Ceklek. . .

__ADS_1


"Selamat sore Dok, maaf lama menunggu." Ucap ku merasa tidak enak.


"Sore juga, tidak apa-apa ko. Tenang saja, kebetulan saya juga habis telponan dengan anak saya tadi." Ucap Dr. Natali ramah dan aku pun bernapas lega.


"Ayo silahkan duduk Bu!" Ucap Dr. Natali dan aku pun langsung duduk.


"Terimakasih banyak iya Dok." Ucap ku dan di balas dengan senyuman.


"Baik kita lihat tensi nya dulu, loh! Belum di tensi, Sus?" Tanya Dr. Natali heran.


"Emmm. . . Maaf Dok, belum." Ucap Suster yang kemudian mengambil alat tensi di Ruang Pemeriksaan dan Dr. Natali hanya menggelengkan kepala.


"Mohon maaf iya Bu! Biar kita cek dulu tekanan darah Ibu." Ucap Dr. Natali.


"Ngga apa-apa ko Dok, ini juga salah saya! Jadi Suster lupa untuk memeriksa tekanan darah saya, karena menenangkan saya dulu tadi Dok." Ucap ku yang tidak enak, karena takut Suster di marahi. Dan Dr. Natali pun mengernyitkan dahi nya bingung.


"Tekanan darah Ibu tinggi, harap jangan terlalu banyak pikiran iya Bu. Kalau begitu mari Ibu berbaring, kita akan melihat keadaan janin yang Ibu kandung." Ucap Dokter, kemudian aku pun beranjak dari duduk dan berbaring di ranjang.


Dokter pun mengoleskan gel di perut ku, dan mulai mengarahkan alat USG di perut ku dan menjelaskan tentang keadaan bayi yang aku kandung. Rasa haru seketika menyeruak, hingga aku pun meneteskan air mata saat mendengar denyut jantung bayi ku.


Namun aku pun sedih, di saat anak yang aku dan Mas Tio damba-dambakan hadir. Namun kini, pernikahan kami pun hancur.


"Mari kita kembali duduk Bu." Ucap Dr. Natali.

__ADS_1


Aku pun di bantu oleh Suster untuk bangun dan kembali duduk, untuk mendengarkan penjelasan dari Dokter.


"Apa Ibu ada keluhan atau tidak nyaman dalam kehamilan ini?" Tanya Dr. Natali.


"Kalau pagi-pagi itu bawaannya mual terus Dok, apalagi kalau liat nasi. Pengennya muntah, dan perut sebelah kanan bawah kadang-kadang suka sakit. Terus pinggang aku ko rasanya sakit terus, apalagi aku kan bekerjanya duduk terus Dok. Jadi pinggang sering banget sakit." Keluh ku.


"Mual, muntah adalah hal yang wajar untuk Ibu hamil. Namun, jika terlalu berlebihan juga itu bisa berbahaya. Karena tidak akan ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh Ibu dan janinnya dan menyebabkan sang Ibu lemas, bahkan ada yang pingsan juga. Jika tidak bisa makan nasi, ganti dengan kentang atau jagung sebagai karbohidrat nya. Di saat perut Ibu sakit, sebaiknya Ibu segera berbaring sambil menarik napas perlahan dan mengembuskan nya. Lakukan itu hingga nyerinya berkurang, namun jika tidak berkurang segera ke Rumah Sakit. Perbanyak minum air putih, jika pinggang terasa sakit. Apalagi Ibu seorang wanita karir, yang pasti lebih banyak duduk. Jadi untuk menghindari rasa sakit di pinggang, Ibu bisa perbanyak minum air putih dan juga sesekali bangun atau merebahkan badan, jangan terlalu di paksakan." Terang Dr. Natali.


"Baik Dok." Ucap ku.


"Ibu datang sendiri?" Tanya Dr. Natali penasaran.


"Iya Dok! Pulang dari kantor, saya langsung ke sini." Ucap ku dengan senyum bahagia.


"Sebaiknya Ibu minta di antar oleh orang terdekat, apalagi tekanan darah Ibu tinggi. Itu sangat beresiko untuk Ibu dan juga janin yang ibu kandung. Kurangi makanan yang mengandung garam berlebih, perbanyak makan buah dan sayur, istirahat yang cukup, tidak bergadang, boleh berolahraga ringan. Dan perlu di ingat tidak boleh stres, tertekan, apalagi sampai terjatuh. Mohon di hindari hal-hal yang membahayakan iya Bu! Jangan lupa minum vitamin dan penguat kandungan secara rutin." Ucap Dr. Natali menjelaskan.


"Baik Dok, akan saya ingat. Terimakasih banyak iya Dok! Mohon maaf karna saya, Dokter jadi pulang terlambat." Ucap ku merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa tenang saja Bu, semoga Ibu dan janin nya sehat selalu. Sampai bertemu bulan depan iya Bu." Ucap Dr. Natali.


"Iya Dok, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap ku sambil tersenyum, dan meninggalkan Ruang Pemeriksaan menuju Apotek.


Aku berharap Mas Tio dan Sifa sudah pergi dari sini, aku tidak ingin bertemu mereka lagi yang hanya tau nya membuat keributan saja. Sambil menunggu, aku pun mengelus perut ku dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


'Tumbuhlah dengan sehat anak ku, jadilah anak yang baik kelak. Yang suka menolong orang dan jangan mudah tertipu dengan kebaikan orang.' Ucap ku dalam hati.


Setelah melakukan pembayaran dan menebus obat, aku pun pulang ke Rumah dengan perasaan yang gembira dan melupakan pertengkaran yang terjadi tadi.


__ADS_2