Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 38


__ADS_3

Deg. . .


"Kenapa diam? Tidak dilanjutkan menangis nya? Biar makin banyak orang yang liat." Sindir laki-laki tersebut.


Seketika aku pun melihat sekeliling ku dan benar apa yang dikatakannya, banyak pengunjung yang melihat ke arah ku. Malu, sungguh malu yang kurasakan.


"Sudah, jangan perduli kan mereka. Ayo bangun!" Ucap laki-laki yang masih berjongkok menyamakan tingginya dengan aku yang terduduk di lantai.


Kemudian dia meraih tangan ku, dan membantu ku berdiri. Menuntun ku ke sebuah Restoran yang memiliki Private Room, tanpa menolak aku pun mengikuti nya.


Dia membawa ku duduk dan memesan berbagai makanan kepada pelayan, setelah pelayan keluar.


"Masih mau nangis? Pundak Abang masih kosong!" Ucap nya sambil menepuk pundak nya dan aku pun menaruh kepala ku di pundak nya.


Tanpa diperintah air mata terus mengalir di barengi isakan kecil dari mulut ku, setelah beberapa saat aku menangis. Datanglah pelayan membawa pesanan dan menyiapkan di meja, seketika aku pun berhenti menangis.


"Kenapa berhenti? Ayo nangis lagi! Biar kering sekalian itu air mata, jadi ngga akan keluar terus!" Sindir laki-laki itu.


"ABANG!" Teriak ku kesal.


"Hahaha. . . Habis nya kamu dari dulu ngga berubah, setiap nangis ngga kira-kira pasti lama banget. Pegel ini pundak Abang, kamu harus tanggung jawab." Keluh laki-laki itu, yang tak lain adalah Bang Reza.


Sahabat baik Bang Naufal sejak masih kecil, namun sejak 4 tahun ini tinggal di Singapura setelah menikah.


"Aku kan lagi sedih Bang!" Ucap ku sambil menghapus air mata dengan kasar.


"Lebay deh! Udah makan dulu, liat tuh Abang udah pesan es krim bertingkat dengan aneka topping. Wah enak nih! Abang makan aja sendiri kalau gitu." Ucap Bang Reza yang akan menyendok es krim.


"Enak aja!" Cepat-cepat ku tepis tangannya dan ku dekatkan es krim itu ke dekat ku.


"Ini punya aku semua." Ucap ku sambil menyendok es krim itu dengan lahap.


Hanya orang-orang terdekat ku yang paling tau, setiap aku sedih ataupun menangis. Cukup berikan aku es krim dan makanan enak, maka aku akan merasa lebih baik.


Bang Reza hampir setiap hari bermain ke Rumah saat mereka masih sekolah, sehingga kami pun tidak canggung lagi. Karena aku menganggapnya sama seperti Bang Naufal.


Setengah jam berlalu tanpa ada pembicaraan apa pun, hanya ada denting sendok yang terdengar.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku kenyang." Ucap ku setelah membersihkan mulut ku.


"Gimana ngga kenyang, 1 steak, 2 piring seafood, 1 piring capcay dan 1 mangkok besar es krim." Ucap Bang Reza merincikan makanan yang sudah ku makan sambil menggelengkan kepala nya sedangkan aku hanya menggaruk leher belakang ku yang tidak gatal.


"Aku kan belum makan! Lagian sayang makannya banyak, nanti mubazir." Kilah ku.


"Iya terserah apa kata kamu saja." Ucap Bang Reza memutar bola mata malas dan aku cengengesan.


"Jadi sekarang mau ke mana? Mau pulang ke Rumah Mama, Naufal, Niko atau Dian?" Tanya Bang Reza yang sudah hapal kebiasaan ku.


"Ke Apartemen aja Bang." Ucap ku, setelah berpikir sejenak.


"Oke! Ayo." Ucap Bang Reza sambil berdiri dan tanpa banyak bicara, Bang Reza mengantarkan aku menuju Apartemen ku.


Setelah sampai di Lobby, aku pun turun dari mobil Bang Reza dan pamit untuk masuk.


"Terimakasih banyak iya Bang." Ucap ku.


"Sama-sama, sudah sana masuk!" Ucap Bang Reza.


"Iya ini juga mau masuk ko, hati-hati di jalannya iya Bang." Ucap ku.


"Ngga mau! Nanti di ledekin lagi, udah ah aku masuk. Bye." Ucap ku sambil melambaikan tangan dan berjalan masuk.


Ting. . .


Sampailah aku di lantai Apartemen yang ku miliki, tampak sama seperti 3 tahun yang lalu. Karena setiap 3 hari sekali akan ada petugas yang membersihkan nya.


Aku pun masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Aku berdiri di bawah shower, sambil memejamkan mata. Bayangan ketika kami berpacaran, hingga akhirnya kami menikah muncul.


Perjalanan panjang selama 3 tahun ini, mungkin memang harus berakhir sampai di sini. Terlalu sakit jika harus di teruskan, aku pun bertekad akan mengakhiri semuanya sampai di sini.


Setelah selesai membersihkan diri, aku pun menghubungi Pak Aziz.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


[Assalamualaikum.] Ucap Pak Aziz setelah mengangkat telpon.

__ADS_1


[Wa'alaikum salam Pak Aziz, mohon maaf mengganggu waktunya.] Ucap ku yah merasa tidak enak, karena saat tak sengaja melihat jam sudah hampir magrib.


[Tidak apa-apa Nad, kamu kaya ke siapa aja? Kebetulan saya juga sedang bersantai, ada perlu apa iya? Tidak biasanya kamu menelpon Bapak?] Tanya Pak Aziz heran.


[Begini Pak, saya ingin Bapak mengurus perceraian saya dan Mas Tio. Kira-kira kapan iya Bapak ada waktu?] Tanya ku.


[Tunggu. . . Bukannya 2 hari yang lalu kamu sudah berbaikan? Apa lagi yang terjadi? Kenapa secepat ini mengambil keputusan bercerai?] Pak Aziz terkejut dengan keputusan ku ini.


[Mungkin kami memang tidak berjodoh lagi Pak, rasanya sudah cukup sampai di sini saja Pak.] Ucap ku sendu.


[Baiklah, saya akan secepatnya mengurus perceraian kalian. Apakah orang tua kamu sudah tau?] Tanya Pak Aziz.


[Belum Pak, ini aku langsung menelpon Bapak. Agar bisa secepatnya memproses perceraian kami.] Ucap ku sendu.


[Pasti Bapak akan urus semuanya secepat mungkin, akan tetapi lebih baik kamu bicara kepada kedua orang tua kamu Nad! Mereka harus tau?] Ucap Pak Aziz.


[Iya Pak, aku akan memberi tahu kedua orang tua ku. Tapi aku mohon segera proses semuanya iya Pak.] Ucap ku memohon.


[Tentu, akan Bapak proses setelah mendapatkan dokumen yang di butuhkan. Kamu siapkan saja semua dokumen nya, nanti orang Bapak akan mengambil di tempat kamu.] Ucap Pak Aziz.


[Semua sudah aku siapkan ko Pak, nanti orang Bapak bisa mengambil di Apartemen ku.] Ucap ku yang memang sudah menyiapkan dokumen yang di perlukan.


[Baik, nanti sehabis Isya orang Bapak akan mengambil nya. Kalau boleh Bapak tau, apa yang sebenarnya terjadi? Hingga kamu mengambil keputusan secepat ini?] Ucap Pak Aziz hati-hati.


[Tadi sepulang bekerja Mas Tio menjemput dan . . . ] Aku pun menceritakan semua yang terjadi di Butik Flower.


[Lebih baik saat ini kamu menenangkan diri, untuk semua nya biar Bapak yang mengurus. Bapak ikut prihatin dengan Rumah Tangga kamu, semoga kehidupan mu kelak lebih baik lagi. Tetap semangat menjalani hidup, buktikan kamu bukan wanita lemah.] Ucap Pak Aziz memberikan semangat.


[Tentu Pak, Bapak tenang saja! Aku akan membuktikan bahwa aku ini wanita kuat.] Ucap ku penuh semangat.


[Iya sudah, nanti kita lanjut pembicaraan ini lagi. Sudah masuk Magrib, saya mau shalat dulu.] Ucap Pak Aziz.


[Baik Pak, terimakasih atas waktunya dan mohon maaf telah mengganggu. Assalamualaikum.] Ucap ku.


[Wa'alaikum salam.] Ucap Pak Aziz kemudian mematikan telpon.


Setelah menjalankan Shalat Magrib, aku pun berdo'a memohon yang terbaik untuk Rumah Tangga ku dan ku serahkan segala sesuatunya kepada yang di atas.

__ADS_1


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


__ADS_2