
Kring . . . Kring. . . Kring. . .
Telpon Papa terus berbunyi dan Papa seakan tidak ingin mengangkatnya.
"Pa kenapa tidak di angkat? Siapa tau itu penting." Ucap Mama sambil tersenyum.
"Iya, Ma! Ini juga mau Papa angkat." Ucap Papa yang kemudian mengangkat telpon tersebut dan ternyata itu dari Mas Tio.
[Assalamualaikum.] Ucap Papa.
[. . . .]
[Ada apa Tio?] Tanya Papa singkat.
[. . . .]
[Nadira baik-baik saja, dia berada di tempat yang aman.] Ucap Papa datar.
[. . . .]
[Untuk apa?] Tanya Papa yang ntah membicarakan apa.
[. . . .]
[Intinya Nadira baik-baik saja dan dia butuh ketenangan! Assalamualaikum] Ucap Papa tegas dan mematikan teleponnya.
Suasana menjadi hening, melihat ekspresi Papa yang berubah. Tak ada yang berani memulai pembicaraan kembali, bahkan Kak Niko pun terdiam.
Setelah terdiam cukup lama, kulihat Papa menarik napas dan barulah Papa berbicara.
"Jadi kita liburan ke mana Niko?" Tanya Papa kepada Kak Niko.
"Gimana yang lain aja Pa! Pantai, Gunung? Atau ke tempat lainnya boleh aja, nanti aku yang hubungin asisten Papa." Ucap Kak Niko santai dan Papa mengkerutkan kening nya, sedangkan kami menahan tawa.
"Kenapa kamu mau menghubungi Asisten Papa?" Tanya Papa bingung.
"Iya kan Papa yang bayarin semuanya, aku cuman mau membantu meringankan pekerjaan Papa aja." Ucap Kak Niko santai, sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu ini! Kamu yang mengajak liburan! Papa yang bayarin!" Ucap Papa kesal.
"Lah uang Papa lebih banyak dari aku, jangan kan buat liburan hari ini. Untuk liburan 1 Desa selama 1 tahun juga itu uang Papa ngga akan habis, lagian semua uang Papa juga kan buat kita-kita." Ucap Kak Niko enteng dan kami semua hanya menggelengkan kepala, melihat perdebatan yang ada.
"Terus kamu mau ajak 1 Desa buat liburan? Gila aja kamu!" Ucap Papa ketus.
"Boleh itu Pa ide nya." Ucap Kak Niko sambil cengengesan, hingga Bang Naufal pun ikut berbicara.
"Bener-bener ngga modal, iya ngga Pa? Gaya nya aja ngajakin kita semua liburan, eh tau nya minta di bayarin." Ucap Bang Naufal menyindir Kak Niko.
"Apa salahnya menyelam sambil minum air? Kalau ada yang gratis kenapa ngga?" Ucap Kak Niko sambil cengengesan.
"Oke! Papa yang bayarin semua liburan hari ini, jadi mau ke mana liburannya?" Tanya Papa kepada kami semua dan Kak Niko langsung bersemangat.
"Ayo . . . Ayo kalian mau liburan ke mana? Cepat jawab! Nanti Papa berubah pikiran." Ucap Kak Niko mendesak kami memilih tempat liburan.
"PANTAI/GUNUNG." Ucap kami serempak, namun berbeda pendapat.
"Pantai aja." Ucap Selva.
__ADS_1
"Gunung itu adem, ngapain ke pantai panas." Ucap ku dan di angguki Dian setuju.
"Ayolah, adem ko di pantai juga kan ada pohon kelapa, banyak tempat yang adem. Udah lama ngga ke pantai tau Mba." Ucap Selva merengek.
"Tapi kita berdua pengennya ke Gunung, iya ngga Dian?" Tanya ku pada Dian.
"Iya mending ke Gunung aja deh! Biar bisa menyejukkan hati dan menyegarkan pikiran, cocok banget buat Mba Nadira yang lagi pusing. Ke pantai kan bisa kapan-kapan lagi." Ucap Dian mencoba menjelaskan kepada Selva.
"Oke deh! Kita sekarang ke Gunung, tapi janji iya nanti kita harus ke Pantai." Ucap Selva sambil melihat ke arah kami satu persatu dan kami pun serempak menganggukkan kepala.
"Oke! Berarti fix iya kita ke Gunung, sebentar Kakak telpon Asisten kesayangan Papa." Ucap Kak Niko cekikikan, kemudian menelpon Asisten Papa dan Papa hanya menggelengkan kepala.
[Assalamualaikum Pak Rian.] Ucap Kak Niko.
[ . . . ]
[Begini Pak, tolong siapkan liburan untuk kami semua di Gunung untuk hari ini. Jangan lupa cari tempat yang view nya bagus, fasilitas nya harus lengkap, tempat wisatanya bisa di lewati mobil, makanan harus enak-enak, sediakan juga peralatan untuk BBQ. Tenang saja sudah ACC Papa.] Ucap Kak Niko panjang lebar.
[ . . . ]
[Cukup itu saja, jangan lupa iya Pak! Untuk hari ini, kalau semua sudah siap kabari kami.] Ucap Kak Niko.
[ . . . ]
[Oke! Terimakasih banyak Pak Rian.] Ucap Kak Niko dengan senyum semangat.
[ . . . ]
[Siap! Saya tunggu kabar selanjutnya Pak, Assalamualaikum.] Ucap Kak Niko.
[ . . . ]
"Oke siap." Ucap kami semua.
"Dek, kamu ikut Mama sama Papa aja sekarang. Pakaian kamu banyak di Rumah." Ucap Mama lembut, sambil mengelus rambut ku.
"Ade berangkat dari sini aja, Ma. Di sini juga banyak baju aku dan Selva ko, Ma. Jadi tenang aja Ma, nanti kita kumpul di Rumah Mama dan Papa iya." Ucap ku sambil memeluk Mama.
"Mama ngga usah mikirin dia, baju dia itu ada di mana-mana. Beli ngedadak juga bisa, ngga usah kaya orang susah deh!" Cebik Kak Niko dan Mama hanya menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban Kak Niko.
"Iya udah kalau gitu Mama dan Papa pulang duluan iya, kalian hati-hati. Sampai berjumpa di Rumah iya sayang." Pamit Mama sambil memberikan kecupan di kening ku.
"Oke! Mama dan Papa hati-hati iya di jalannya." Ucap ku kemudian mencium tangan kedua orang tua ku.
"Iya sayang, kami duluan." Ucap Mama, melambaikan tangan kepada kami.
"Papa pulang dulu iya." Pamit Papa sambil mengelus kepala ku.
Kemudian kami mengantarkan Papa dan Mama menuju mobil. Setelah itu, Bang Naufal dan Kak Niko pun ikut pamit untuk menjemput istri dan anaknya.
Kami bertiga pun masuk ke dalam rumah, untuk bersiap-siap.
"Oke saat nya membereskan barang." Ucap ku kepada mereka dan kami pun masuk kedalam kamar masing-masing, untuk menyiapkan keperluan kami ke Gunung.
1 jam kemudian. . .
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
__ADS_1
Ceklek. . .
"Kamu udah siap?" Tanya ku pada Dian, yang mengetuk pintu kamar tamu yang biasa aku tempati.
"Udah Mba, aku ngga bawa banyak barang. Paling kita juga cuman 1 atau 2 hari liburannya, jadi aku bawa dikit aja." Ucap Dian kepada ku.
"Sama Mba juga, cuman bawa 1 tas ini aja." Ucap ku sambil menunjukkan tas yang aku bawa.
"Ngomong-ngomong Selva udah selesai belum iya Mba? Biasanya dia yang paling repot bawa barang." Ucap Dian pada ku
"Pasti dia bawa banyak barang, dan nanti akhirnya banyak yang ngga di pakai." Ucap ku sambil tertawa pelan, mengingat tingkah Selva setiap kami pergi bersama. Pasti selalu membawa banyak barang dan berakhir tidak terpakai.
"Iya bener banget Mba! Dia sukanya bawa barang yang ngga berguna." Ucap Dian kesal, karena sering kali menjadi sasaran Selva untuk membawa barang-barang bawaannya.
"Iya udah kita liat ke kamarnya aja yuk, tapi Mba simpan ini ke depan dulu iya." Ucap ku pada Dian.
"Oke Mba, aku duluan aja ke kamar selva." Ucap Dian yang dijawab anggukan kepala oleh ku dan aku pun berjalan menuju ruang tamu, untuk menyimpan tas ku.
Aku pun meletakkan tas milik ku di dekat tas milik Dian, ternyata sama dengan ku. Hanya membawa 1 tas yang tidak terlalu besar, kemudian aku kembali masuk menyusul Dian ke kamar Selva.
"Kamu kenapa Dian?" Tanya ku pada Dian yang sedang termenung di depan kamar Selva yang sudah terbuka, kemudian aku pun melihat ke dalam kamar.
"Astaghfirullah. . . SELVAAAA. . ." Teriak ku kesal melihat keadaan kamar tamu yang biasa Selva gunakan ternyata sudah berantakan, dengan baju yang berserakan ke sana ke mari.
"Apa sih! Ngga perlu teriak-teriak Mba." Ucap Selva kesal.
"Ini kamu apa-apaan? Kenapa kamar kamu udah kaya kapal pecah?" Ucap ku kesal sambil menunjuk baju yang berserakan.
"Mba ngga liat? Aku lagi packing?" Ucap Selva ketus, sambil melanjutkan kegiatan nya.
"Iya mba tau! Tapi apa harus semuanya di keluarin dari lemari? Dan ini udah 1 jam, tapi kamu belum selesai?" Ucap ku kesal.
"Aku kan harus bener-bener prepare, jangan sampai ada yang tertinggal. Nanti kan repot kalau ada yang tertinggal." ucap Selva enteng.
"Bukannya setiap kamu pergi pasti ada aja yang tertinggal?" Timpal Dian.
"Udah deh kalian diem aja! Kalau ngga mau bantu, mending sana keluar aja dari kamar." Usir Selva pada kami.
"Kamu itu iya! Menyebalkan sekali Selva! 15 menit lagi kita berangkat! Telat dari 15 menit, kamu berangkat sendiri!" Ucap ku kesal sambil melangkah keluar kamar Selva bersama Dian.
"WHAATTTT. . ." Teriak Selva, namun kami tak menggubris nya. Kami tetap berjalan menunggu di Ruang Tamu.
Ting Tong. . .
"Kamu pesan makanan?" Tanya ku pada Dian.
"Ngga Mba, aku kira Mba pesan makanan?" Ucap Dian.
"Laper sih! Tapi Mba belum pesan, terus itu siapa di depan yang pencet bel?" Tanya ku bingung.
"Aku juga ngga tau Mba, soalnya aku ngga ada tamu yang akan datang ke Rumah." Ucap Dian yang juga bingung.
Ting Tong. . .
"Itu bunyi lagi, biar Mba yang buka." Ucap ku pada Dian.
"Aku ikut deh, Mba. Aku penasaran siapa yang datang." Ucap Dian yang mengikuti ku berjalan membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek. . .