Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 75


__ADS_3

"Bagus iya! Kamu enak-enak di sini sama perempuan lain! Sedangkan aku di rumah nyariin kalian! Siapa dia? Selingkuhan kamu? Dasar laki-laki mata keranjang! Kamu juga! Dia itu laki-laki beristri! Ngga tau malu banget kamu! Mau-mau nya kamu jadi selingkuhan!" Ucap marah perempuan yang ternyata istrinya Kak Aldi, yang mengundang perhatian beberapa orang di dekat kami.


"Apa-apaan kamu? Marah-marah ngga jelas! Kalau kamu ngga tau apa-apa, jangan asal nuduh! Yang kamu marahi itu, wanita baik-baik. Yang memberikan kasih sayang tulus untuk Ica anak kita!


. . . Sedangkan kamu mana? Kerja! Kerja! Kerja! Tanpa peduli sama sekali dengan anak kita! Apa pernah kamu nanya dia lagi apa? Dia sehat atau ngga? Seenggaknya kamu peluk dia saat kalian bertemu! Ngga kan? Yang ada kamu marahi dia! Kamu bentak dia!


. . . Dia itu anak kecil! Butuh kasih sayang seorang Ibu! Aku banting tulang demi bisa menghidupi kalian dengan layak! Tapi apa yang kamu lakukan? Karir dan karir yang kamu kejar! Sedangkan anak kita kamu telantarkan!


. . . Apa salah? Jika aku hanya ingin membahagiakan anak ku? Dia mendapat kasih sayang dari perempuan lain, kasih sayang tulus seorang Ibu. Ngga seperti kamu!" Marah Kak Aldi, sambil menunjuk ke muka perempuan itu.


"Iya aku tau aku salah! Apa harus kamu selingkuh? Dengan dalih Anisa? Aku tau! Dia mantan pacar kamu kan? Kalian berniat balikan? Enak aja! Sampai kapan pun, aku ngga akan membiarkan hal itu terjadi." Timpal perempuan itu.


"Selingkuh? Kamu hilang aku selingkuh? Lalu apa yang kamu lakukan di belakang ku? Dengan Asisten kamu itu? Sampai di hotel di kamar yang sama? Apa kamu kira aku ngga tau kelakuan kamu di belakang aku? Sekarang kamu tuduh aku selingkuh? Hanya karena jalan bareng dengan perempuan lain?" Ucap Kak Aldi, yang membuat wajah perempuan itu pucat seketika.


"A-pa ma-kud kamu? A-ku ngga selingkuh! Jangan memutar balikkan fakta!" Ucap Perempuan itu terbata-bata.


"Memutar balikkan fakta! Hahaha. . . Asal kamu tau! Aku sudah banyak memiliki bukti perselingkuhan kamu! Aku bertahan selama ini hanya demi Anisa!" Ucap Kak Aldi.


"Mau ke mana kamu ******!" Ucap Perempuan itu melihat aku ingin membawa Anisa menjauh dari keributan itu.


"Jaga mulut kamu Sinta! Kamu yang ******! Tidur dengan banyak laki-laki! Ingat! Kamu itu punya anak perempuan! Apa kamu ngga mikir masa depannya punya Ibu yang tidur dengan banyak laki-laki? Di mana otak kamu!" Ucap Kak Aldi.


"CUKUPPP!" Teriak Anisa, aku pun langsung memeluknya.


"Mama kenapa mama marah terus? Apa Mama ngga sayang sama Ica? Ica pengen Ma di sayang Mama, Ica pengen di manja sama Mama kaya temen-temen Ica yang lain. Tapi Mama selalu marah-marah kalau ketemu Ica, apa salah Ica Ma? Apa Mama benci ica? Ica juga ngga mau, kalau Ica cuman buat Mama sedih." Ucap Anisa dengan air mata yang mengalir, kemudian melepaskan pelukan ku dan berlari.


"Icaaaa. . ." Teriak ku dan yang lain, berusaha mengejar Anisa.

__ADS_1


BRUKKK. . .


"ICAAAAA. . . " Teriak kami, saat melihat tubuh mungil itu melayang dan jatuh bersimbah darah.


"Cepat bawa ke Rumah Sakit." Ucap ku, kami pun berjalan menuju mobil Kak Aldi.


"Biar saya yang bawa mobilnya Pak." Ucap Mang Eman, dan kami pun segera berangkat menuju Rumah Sakit terdekat.


"Sayang bangun Nak! Maafin Papa Nak! Bangun sayang." Ucap Kak Aldi sambil mengelus pipi Anisa yang di penuhi darah.


"Anisa anak cantiknya Bunda, harus kuat iya Nak! Bunda ada di sini." Ucap ku sambil menggenggam tangan nya.


Tak lama kami sampai di Rumah Sakit, dan Anisa pun di tangani oleh Dokter. Air mata ku mengalir, melihat darah Anisa di tangan ku. Betapa malangnya anak sekecil itu sudah merasakan semua ini, orang tua yang bersalah anak yang menanggung beban.


Kak Aldi terus berjalan bolak balik penuh dengan ke khawatir, sedangkan aku dan yang lain duduk di kursi tunggu. Sambil terus berdoa berharap Anisa baik-baik saja.


"An-nisa! Ini salah ku! Harus nya aku bisa menjaga emosi! Ini semua salah ku!" Ucap Kak Aldi yang menyalakan diri nya sendiri, tak lama datang lah Sinta ibu nya Anisa.


"Gi-gimana ke-adaan-nya?" Tanya Sinta terbata-bata dengan air mata yang mengalir.


"PUAS KAMU! PUAS SUDAH MEMBUAT ANAK SAYA CELAKA! PERGI KAMU DARI SINI!" Teriak Kak Aldi, sambil mengusir Sinta.


"Kak! Sudah! Lebih baik kita berdoa! Bukan saling menyalahkan! Ayo Mba duduk dulu, Kakak juga duduk. Yang terpenting sekarang adalah keadaannya Anisa! Tolong jangan dulu bertengkar." Ucap ku membuat semua nya diam.


Ceklek. . .


"Keluarga pasien Anisa." Tanya seorang suster, yang keluar dari Ruang UGD.

__ADS_1


"Saya ayah nya, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan? Bisa kami menemui nya sekarang?" Tanya Kak Aldi dengan berbagai pertanyaan.


"Pasien Anisa kehilangan banyak darah, namun darah yang tersedia masih kurang. Apa ada keluarga yang bergolongan darah yang sama dengan pasien?" Tanya suster.


"Saya, saya ayah nya! Ambil darah saya! Darah saya A, cepat sus ambil darah saya." Ucap Kak Aldi cepat.


"Mohon maaf Pak, Bapak tidak bisa mendonorkan darah bapak. Karena pasien membutuhkan golongan darah B+." Ucap Suster, yang mengejutkan Kak Aldi.


"Saya B+ sus, bisa ambil darah saya saja." Ucap ku menyela.


"Ibu sedang hamil?" Tanya suster dan aku pun menganggukkan kepala.


"Mohon maaf Bu! Ibu hamil tidak bisa mendonorkan darah." Ucap Suster menolak.


"Sebentar! Kakak saya juga golongan darah nya B+, bisa di tunggu sebentar tidak sus?" Tanya ku.


"Bisa Bu, tapi mohon jangan lebih dari 1 jam iya Bu. Kalau begitu saya permisi." Ucap Suster meninggalkan kami, bergegas aku menelpon Papa dan Bang Naufal meminta mereka datang ke sini.


"Sinta! Siapa ayah kandung Anisa?" Tanya Kak Aldi dengan tangan terkepal, air mata yang mengalir dan penuh amarah.


Deg. . .


"A-pa ma-ksud ka-mu? An-nisa anak kita." Ucap Sinta terbata-bata.


"Kamu kira aku bodoh? Golongan darah kita berdua A, bagaimana mungkin Anisa bergolongan darah B?" Tanya Kak Aldi penuh penekanan, sambil mencengkram tangan Sinta keras dan aku hanya bisa menonton mereka.


"Papa, Kakak!" Teriak ku yang melihat keluarga ku datang, bergegas aku menghampiri mereka.

__ADS_1


__ADS_2