Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 79


__ADS_3

"Anda bertanya apa mau saya? Dan anda bilang saya ngga punya hati? Lantas panggilan apa yang cocok untuk anda? Seorang istri yang lebih memilih karir, dan rela mengabaikan suami dan anak.


. . . Apa anda tau bagaimana pertemuan pertama saya dengan Anisa? Kami bertemu saat saya di danau dan Anisa tersesat mencari Nenek nya, anak sekecil itu berada di luar dengan hanya di temani Nenek nya yang sudah tua.


. . . Membuat saya menjadi iba dengannya, melihat anak sekecil itu hanya ingin merasakan pelukan seorang ibu, membuat saya menjadi tidak tega. Saya juga akan memiliki anak, dan saya tidak bisa membayangkan anak saya di posisi Anisa.


. . . Maaf jika memang kehadiran saya mengganggu keluarga anda, tapi saya tulus menyayangi Anisa dan tidak pernah sedikit pun saya berpikir untuk menjadi Ibu sambung anak anda.


. . . Coba lah perbanyak waktu untuk Anisa, agar Anisa tidak merasa kehilangan sosok Ibu. Dia masih kecil dan butuh sosok seorang Ibu, maaf jika ucapan saya salah. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum." Ucap ku kemudian pamit.


"Terimakasih." Ucap nya lirih, aku pun menoleh dan tersenyum kepadanya.


"Jadilah Ibu yang baik untuk anak kita, bukannya kita sebagai Ibu yang harus nya menjadi garda terdepan untuk anak kita? Jangan sampai menyesal kemudian hari." Ucap ku dan kemudian dia pun memeluk ku.


"Maaf saya sempat menuduh yang tidak-tidak, terimakasih sudah menyayangi Anisa." Ucapnya dengan terisak-isak.


"Sama-sama, tidak apa saya juga mengerti. Ayo segera masuk ke dalam, temani Anisa. Jangan khawatir, sampai kapan pun saya tidak akan pernah mengganti posisi anda." Ucap ku tersenyum dan dia pun menganggukan kepala.


"Kami permisi dulu iya, assalamualaikum." Ucap ku pamit dan kami pun pulang.


Aku memang menyayangi Anisa, namun memang tidak pernah terpikir oleh ku untuk menjadi ibu sambung Anisa seperti yang di pikirkan oleh ibu kandung Anisa.


Sengaja aku memberikan pengertian kepada Anisa tadi, agar jika aku tak ada pun tidak menjadi masalah. Aku hanya berharap kelak hubungan Anisa dan Ibu nya dapat kembali baik lagi, dan semoga Anisa menemukan kebahagiaannya.


"Mba. . ." Panggil Selva yang menyadarkan ku dari lamunan ku.


"Iya ada apa?" Tanya ku.


"Mba kenapa?" Tanya Dian khawatir.


"Mba hanya berharap Anisa dapat menemukan kebahagiaannya." Harap ku.


"Aamiin." Ucap Selva dan Dian bersamaan.

__ADS_1


"Mba kita makan di angkringan yuk! Udah lama nih ngga nongkrong di sana." Ajak Selva pada ku.


"Boleh, Mba juga udah laper banget nih!" Ucap ku, karena hari sudah malam dan kami pun berangkat menuju angkringan langganan kami.


"Penuh banget Mba, kita makan di mobil aja gimana?" Ajak Dian.


"Eh! Itu kayanya udah mau beres mereka makannya." Ucap Selva menunjuk pengunjung yang sudah bersiap-siap untuk pergi.


"Iya udah kita k situ aja iya." Ucap ku dan kami pun menunggu pelayan membersihkan meja, setelah itu kami pun mulai mengambil makanan dan memesan makanan tambahan.


"Mba. . ." Panggil Selva tiba-tiba.


"Ada apa?" Tanya ku heran.


"Denger ga?" Tanya nya lagi.


"Iya denger lah, banyak orang gini. Pasti berisik." Ucap ku sambil terus memakan makanan ku.


"Issshh. . . Itu ada suaranya pelakor sama tukang selingkuh." Ucap Selva membuat aku mengernyit kan dahi bingung.


"Ikh! Tio sama istrinya itu loh Mba." Ucap Selva sebal.


"Terus kenapa?" Ucap ku tak peduli.


"Jangan sampe mereka liat kita, pasti nanti mereka bikin masalah deh sama Mba." Ucap Selva curiga.


"Udah! Lebih baik kita makan dan segera pergi dari sini, udah malem ini." Ucap ku.


"Iya iya!" Ucap Selva kesal dan kami pun melanjutkan makan kami, akan tetapi tiba-tiba Dian pun ikut membicarakan Mas Tio lagi.


"Mba, kaya nya bener yang Selva bilang. Mending kita segera pergi dari sini." Ucap Dian tiba-tiba.


"Kenapa lagi ini?" Ucap ku heran.

__ADS_1


"Mereka ngeliatin ke arah kita terus Mba, jangan-jangan bener mereka mau cari masalah sama kita." Ucap Dian curiga.


"Benar kan Mba, mereka itu mencurigakan sekali. Jangan-jangan mereka punya rencana jahat ke Mba deh!" Ucap Selva curiga.


"Masa sih?" Ucap ku penasaran.


"Beneran Mba, itu liat tuh. Benarkan mereka ngeliatin kita terus." Ucap Dian menunjuk ke arah meja lain dan benar ternyata Mas Tio dan Sifa sedang mencuri-curi pandang ke arah kami.


"Eh. . . Itu mereka pergi loh! Aneh banget deh." Ucap Selva yang melihat mereka pergi dengan terburu-buru.


"Iya sudah lah! Biarin aja, mungkin mereka udah selesai. Kalian udah selesai belum? Mba udah kenyang nih!" Ucap ku.


"Aku juga udah kenyang nih, sebentar aku panggil pelayan dulu." Ucap Selva dan tak lama pelayan pun datang memberikan kami nota makanan kami.


"Loh! Ko ini ada 2 nota nya?" Tanya Dian heran.


"Yang satu ini nota suaminya Ibu Nadira, tadi katanya di bayar Ibu sekalian." Ucap pelayan yang memang sudah hapal dengan kami, dan ucapannya itu membuat kami kaget.


Bagaimana tidak kaget, mereka makan berdua. Tapi jumlah nota mereka 2 kali lipat dari makanan kami bertiga dan ternyata mereka membungkus makanan yang cukup banyak.


"Tuh kan! Apa aku bilang tadi, mereka mencurigakan sekali. Kalau ngga bikin keributan, pasti ada aja yang mereka lakuin. Liat ini Bill mereka banyak banget, bener-bener deh mereka itu." Ucap Selva kesal.


"Sudah! Sudah! Ini Mas uangnya, kembaliannya ambil aja iya Mas." Ucap ku, sambil memberikan sejumlah uang kepada pelayan.


"Terimakasih banyak iya Bu." Ucap pelayan itu, kemudian kami pun pergi dari angkringan.


"Ikh! Mba aku bener-bener kesel sama mereka, udah makan banyak. Di bungkus pula dan kita yang harus bayar, iya ampun mereka bener-bener iya!" Ucap Selva kesal.


"Sudah tidak apa-apa, nanti kita balas mereka." Ucap ku sambil tersenyum miring.


"Gimana cara balasnya coba Mba?" Ucap Dian heran.


"Nanti kamu juga tau kok! Oh iya! Nota nya jangan sampai hilang iya." Ucap ku.

__ADS_1


"Siap Mba." Ucap Dian, kemudian kami pun pulang.


__ADS_2