Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 59


__ADS_3

Di perjalanan aku melihat kerumunan orang, yang membuat jalanan macet dan tak lama datang ambulan dan juga mobil polisi.


"Sepertinya ada kecelakaan Bu, di depan sana." Ucap Pak Supir.


"Sepertinya begitu Pak! Iya sudah kita sabar saja iya Pak dan hati-hati bawa mobilnya Pak, tidak apa lama sampai nya yang penting kita selamat Pak." Ucap ku.


"Baik Bu." Ucap Pak Supir, dan kami pun melaju dengan lambat.


Tepat saat kami melewati kerumunan tersebut, korban di masukan ke dalam mobil Ambulan dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang aku kenal bersimbah darah.


Deg. . .


"Ma-s Ti-o." Ucap ku terbata-bata, dan tanpa sadar air mata pun mengalir di pipi ku melihat tubuhnya di masukkan ke dalam mobil Ambulan.


"Pak stop! Pak!" Ucap ku meminta Pak Supir mengentikan laju mobil kami dan tak lama kami pun berhenti tak jauh dari tempat kejadian, namun sayang mobil Ambulan telah pergi.


Aku pun bergegas berjalan menuju Polisi yang berada di tempat kejadian.


"Maaf Pak! Ambulan tadi ke Rumah Sakit mana?" Tanya ku kepada Pak Polisi.


"Korban di bawa ke Rumah Sakit Harapan Sehat Bu! Ibu keluarga korban?" Tanya Pak Polisi.


"Betul Pak! Saya istri nya, kalau begitu saya permisi dulu Pak! Terimakasih banyak iya Pak!" Ucap ku pamit, kemudian aku berjalan kembali ke mobil.


"Pak! Kita ke Rumah Sakit Harapan Sehat sekarang!" Ucap ku dengan perasaan khawatir.


"Baik Bu." Ucap Pak Supir.


Tak lama kami sampai di Rumah Sakit Harapan Sehat, bergegas aku keluar dari mobil dan menanyakan ke Mas Tio. Ternyata Mas Tio masih di UGD, aku pun menunggu dengan gelisah. Walau bagaimanapun Mas Tio adalah ayah dari anak yang aku kandung, di tambah hormon kehamilan membuat aku mudah sekali terbawa suasana.


Ceklek . . .


"Keluarga Ibu Sifa dan Pak Tio." Panggil Suster.


"Saya istri Mas Tio Sus, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya ku kepada Suster dan Suster mengerutkan dahi nya seperti bingung.


"Saat ini Pasien akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut, terutama Ibu Sifa yang sempat mengalami pendarahan. Keluarga di harapkan mengurus pendaftaran terlebih dahulu, dan mengurus Ruang Rawat Inap Pasien." Ucap Suster menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan suami saya Sus? Tadi saya melihat kepala nya berdarah, apa parah Sus?" Tanya ku.


"Untuk itu nanti di biar Dokter yang menjelaskan, tapi saat ini keadaan pasien sudah stabil. Kalau begitu saya pamit dulu iya Bu." Ucap Suster.


"Baik Sus terimakasih." Ucap ku, kemudian aku pun menuju Administrasi dan mengisi identitas Mas Tio.


"Mba maaf untuk pasien yang 1 lagi saya tidak tau identitas nya, bisa minta tolong di carikan saja di tas atau dompet nya Mba?" Ucap ku kepada bagian Administrasi.


"Sebentar iya Bu, saya telpon ke UGD dulu. Silahkan Ibu lanjutkan dulu mengisi formulir nya." Ucap nya ramah.


"Iya Mba." Ucap ku, kemudian aku duduk di salah satu kursi untuk mengisi identitas Mas Tio.


"Ini sudah selesai Mba!" Ucap ku sambil menyerahkan formulir tersebut, dan tak lama menunggu aku pun selesai membayar deposito untuk Mas Tio dan Sifa.


Aku pun kembali menunggu di UGD, sambil mengelus perut ku dan terus berdoa demi keselamatan Mas Tio.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


[Assalamualaikum Ma.] Ucap ku.


[Maaf Ma, tadi Ade lupa ngabarin. Ade mampir ke klinik Dr. Natali untuk cek kandungan dulu.] Ucap ku menyesal lupa memberi kabar.


[Ya Allah Nak! Kamu kan bisa pergi sama Mama ke sana, masa kamu pergi cek kandungan sendirian! Mama juga kan pengen liat keadaan cucu Mama.] Ucap Mama merajuk.


[Tadi ngga sengaja mampir Ma, pas di jalan pulang baru inget. Kalau belum pernah cek kandungan, semenjak pulang dari Rumah Sakit waktu itu. Jadi langsung puter balik ke Klinik dulu Ma, maaf banget iya Ma.] Ucap ku.


[Iya sudah tidak apa, yang penting kamu baik-baik aja kan? Lain kali kabari dulu kamu mau ke mana? Biar Mama ngga khawatir dan kalau mau cek kandungan ajak Mama juga iya sayang.] Ucap Mama.


[Iya Ma, lain kali pasti aku ajak Mama ko.] Ucap ku.


[Itu harus, hehe. . . Oh iya! Kamu lagi di mana? Apa di Klinik nya penuh? Atau kamu mampir dulu ke mana?] Tanya Mama.


[Ade lagi di Rumah Sakit Ma. . .] Ucapan ku terpotong mendengar teriakan Mama.


[APAAA! Kamu di Rumah Sakit mana? Kamu kenapa Nak? Perut kamu sakit? Atau kamu kenapa? Kenapa ngga bilang ke Mama dari tadi! Cepat kasih tau kamu di Rumah Sakit mana? Mama ke sana sekarang.] Ucap Mama yang khawatir.


[Ma tenang dulu. . .] Ucap ku berusaha memanggil Mama yang terus saja bicara.

__ADS_1


[Tenang! Tenang gimana? Kamu di Rumah Sakit sendirian, ya Allah Nak. Sabar iya! Sebentar lagi Mama ke situ, cepat kamu bilang di Rumah Sakit mana?] Ucap Mama dan tampaknya Mama sedang bersiap-siap, terdengar dari suaranya yang seperti ada yang jatuh atau apalah dan aku pun menghembuskan nafas kasar.


[Rumah Sakit Harapan Sehat Ma.] Ucap ku, karena percuma bicara yang lain. Pasti Mama sangat khawatir, hingga tidak mendengar ucapan ku.


[Kamu tunggu sebentar, Mama ke situ. Assalamualaikum.] Ucap Mama yang mematikan telpon dan aku pun hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum membayangkan betapa khawatir nya Mama.


Tak lama datang beberapa orang menuju Ruang UGD dan mereka pun melewati ku, mungkin Karena rasa khawatir yang mereka rasakan. Namun aku baru tersadar, bahwa mereka adalah keluarga Sifa. Aku ingat saat tak sengaja melihat Ibu nya menangis di pelukan ayah nya Sifa.


Ceklek. . .


"Keluarga Bapak Tio dan Ibu Sifa." Ucap Seorang Dokter yang keluar dari Ruang UGD.


"Kami orang tua Sifa Dok, bagaimana keadaan anak kami?" Ucap Bapak Sifa.


"Alhamdulillah Ibu Sifa baik-baik saja dan hanya mengalami syok, meski tadi sempat terjadi pendarahan. Namun Ibu dan janin nya dapat terselamatkan, sekarang Ibu Sifa akan di bawa ke Ruang Rawat nya. Ibu dan Bapak bisa menunggu di Ruang Rawat nya." Ucap Dokter ramah.


"Baik Dok terimakasih banyak, kami akan mengurus Ruang Rawat nya sekarang." Ucap Bapak Sifa.


"Loh! Bukannya sudah di urus iya Pak? Pak Tio dan Ibu Sifa saat ini sedang di antar ke Ruang Rawat masing-masing." Ucap Dokter.


"Kalau boleh tau siapa yang mengurusnya Pak? Apa pelaku penabrakan nya yang mengurus?" Tanya Kakak Sifa.


"Untuk itu bisa di tanyakan di bagian Administrasi Pak! Namun, menurut Kepolisian ini kecelakaan tunggal akibat kelalaian korban." Ucap Dokter.


"Kalau begitu terimakasih banyak Dok." Ucap keluarga Sifa dan mereka pun bergegas pergi, setelah itu baru aku menghampiri Dokter.


"Dokter maaf." Ucap ku mencegah Dokter pergi.


"Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Dokter.


"Saya istri pasien yang bernama Tio, boleh di jelaskan mengenai keadaan suami saya Dok?" Tanya ku dan membuat Dokter tersebut mengerutkan dahinya sesaat, kemudian mengganti ekspresi nya seperti awal.


"Pasien mengalami benturan di kepalanya, beruntung Pasien menggunakan helm. Sehingga melindungi kepala pasien, dan kami pun sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Alhamdulillah pasien tidak mengalami gagar otak, atau pun hal berbahaya lainnya. Saat ini Pasien telah berada di Ruang Rawat nya, silahkan Ibu bisa menemui Pasien di Ruang Rawatnya." Ucap Dokter.


"Syukur kalau begitu, terimakasih banyak Dok! Mohon maaf mengganggu waktu nya, kalau begitu saya permisi dulu dok." Ucap ku kemudian pamit menuju Ruang Rawat Mas Tio.


Ceklek. . .

__ADS_1


__ADS_2