
Ceklek. . .
Dengan penuh percaya diri, Mas Tio masuk ke dalam Ruang Rawat ku dan menghampiri ku.
"Gimana keadaan kamu Dek? Nih! Lihat! Sesuai dengan ucapan Mas kemarin! Mas bayarin semua biaya Rumah Sakit kamu! Jadi kamu sudah boleh pulang! Gimana? Hebat kan Mas?" Ucap Mas Tio sambil menyerahkan bukti pembayaran biaya perawatan ku dan aku pun menghela nafas kasar.
"Terimakasih banyak! Tapi saya masih sanggup hanya untuk membayar biaya Rumah Sakit! Saya akan menggantinya! Karena saya tidak ingin ada masalah di kemudian hari nya!" Ucap ku tegas.
"Apa-apaan sih kamu! Udah untung Mas bayarin biaya Rumah Sakit! Bukannya bersyukur, malah pengen di balikin! Mas itu mau buktiin ke kalian semua! Kalau Mas sudah sukses sekarang dan punya penghasilan besar! Jangankan biaya Rumah Sakit ini! Beliin kamu dan anak kita barang branded juga Mas sanggup!" Ucap Mas Tio sombong.
"Terserah apa kata anda, yang jelas saya tidak mau ada keributan nantinya." Ucap ku datar.
"Kamu ini kenapa sih Dek? Ngomong sama Mas ko gitu banget? Ngga bisa gitu kamu ngomongnya kaya dulu lagi? Mas kangen banget sama kamu yang dulu, Mas pengen kita kembali lagi kaya dulu. Emangnya kamu ngga mau anak kita punya keluarga yang utuh?
. . Dia butuh kasih sayang kita berdua Dek! Jangan egois kamu Dek! Walau bagaimanapun anak kita butuh sosok ayahnya setiap hari, jadi lebih baik kita rujuk aja iya! Mas janji akan menuhin semua kebutuhan kalian." Ucap nya membujuk ku dengan tidak tau malunya.
Oek. . . Oek. . . Oek. . .
"Cup. . . Cup. . . Cup. . .
Berisik iya sayang? Maaf iya Nak! Ayo bobo lagi anak pintar." Ucap ku, kemudian menggendong bayi ku.
"Aduh anak Papi ke bangun iya? Sini sama Papi sayang." Ucap Mas Tio yang berusaha mengambil bayi ku.
__ADS_1
"Pelan-pelan." Ucap ku yang menyerahkan bayi ku kepada Mas Tio, namun tiba-tiba anak ku pun menangis kembali dan Mas Tio mendengus kesal.
Oek. . . Oek. . . Oek. . .
"Kenapa sih! Anak kita kok cengeng banget! Di gendong Papi nya aja nangis! Ini pasti kamu nih pas hamil sembarangan terus! Jadi anak kita cengeng gini." Ucap Mas Tio tanpa perasaan.
"Memangnya peduli apa Lo saat adik gue hamil? Nanya kabarnya aja ngga pernah! Seenaknya aja nyalahin orang! Introspeksi diri dong! Anak bayi itu sensitif perasaan nya! Dia tau mana yang tulus dan ngga! Jadi ngga usah nyalahin orang! Pikir sendiri!
. . . Anak Lo aja ngga mau sama Lo! Karena dia tau! Bapaknya ngga peduli sama dia, saat dia di kandungan. Sekarang belaga seperti seorang ayah yang baik, cih!" Ucap Kak Niko kesal.
"Kenapa sih! Kak Niko ikut campur terus urusan kami? Ini urusan kami! Dan itu anak kami! Jadi ngga perlu Kak Niko ikut campur." Ucap Mas Tio tidak suka.
"Apa kata Lo? Gue ngga boleh ikut campur? Asal Lo tau! Gue dan keluarga gue yang jagain Nadira saat hamil, kita standby 24 jam memastikan keadaannya! Memenuhi semua ngidam nya! Memberi apa yang dia mau! Dan kita yang membawa Nadira ke Rumah Sakit.
"Sudah Kak! Percuma Kakak bicara panjang lebar! Dia ngga akan mengerti." Ucap ku dan spontan Mas Tio melihat ke arah ku.
"Sekarang saya ingin bertanya, nama apa yang sudah anda siapkan untuk anak saya? Karena anda adalah ayah kandung nya, jadi saya tetap akan meminta persetujuan anda untuk nama nya kelak." Ucap ku yang membuat Mas Tio menatapku dalam.
"Ja-di anak kita belum kamu kasih nama?" Tanya Mas Tio dan aku menggelengkan kepala.
"Jadi siapa nama yang anda siapkan untuk anak saya?" Tanya ku sekali lagi.
"Mas kira kamu sudah menyiapkan nama yang bagus dengan arti yang bagus untuk anak kita! Jadi Mas tidak menyiapkan nama untuk anak kita." Ucap Mas Tio sesal.
__ADS_1
"Gila iya! Ada orang kaya gini! Ngga pantes tau! Lo di aku ayah sama anak Lo sendiri!" Ucap Kak Niko ketus dan aku hanya menghembuskan nafas kasar.
"Ternyata saya terlalu jauh berekspektasi tentang anda! Saya kira walaupun anda tidak pernah memperdulikan saya saat hamil, setidaknya anda akan menyiapkan nama untuk anak ini. Hingga hari ke 2 dia lahir belum di beri nama, karena saya menunggu anda memberikan nama.
. . . Kalau begitu, saya yang akan memberikan dia nama Kafael Hutama. Yang artinya laki-laki yang bertanggung jawab di keluarga Hutama, semoga kelak kamu akan menjadi anak yang bertanggung jawab. Baik dalam kehidupan kamu, keluarga kamu maupun sekitar mu." Do'a ku, kemudian mencium kening anak ku yang tertidur nyenyak dan sesekali tersenyum dalam tidurnya.
Deg.
"Maaf kalau selama ini Mas tidak bertanggung jawab atas kehamilan kamu dulu, Mas janji mulai sekarang Mas akan bertanggung jawab kepada kamu dan anak kita." Ucap Mas Tio tegas.
"Cukup lah anda bertanggung jawab terhadap anak saya, hubungan kita hanya sebatas orang tua Baby El. Kalau begitu kami pamit duluan, karena semuanya sudah beres dan kami akan pulang. Assalamualaikum." Ucap ku, dan beranjak menuju kursi roda yang di sediakan.
Karena jarak dari Ruang Rawat ku ke lobby Rumah Sakit cukup jauh, sehingga di sarankan menggunakan kursi roda.
"Tunggu. . ." Panggil Mas Tio dan kami pun menghentikan langkah kami.
"Bolehkan Mas sering-sering menjenguk Baby El?" Tanya Mas Tio penuh harap.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk orang yang berniat baik! Namun, jika ada niat terselubung! Maka mohon maaf pintu rumah kami akan tertutup rapat." Ucap ku dan kami pun meninggalkan Ruang Rawat ku.
Kak Niko mendorong kursi roda ku dan Mama menggendong Baby El, Bang Naufal saat ini sedang sibuk dengan urusan Perusahaan nya dan Kak Gina yang sibuk mengurus anak mereka yang sedang demam.
Sedangkan Arjun dia sedang sekolah, meski awalnya dia ingin minta izin tidak masuk sekolah dan ingin menemani ku. Namun, setelah memberikan pengertian kepadanya, akhirnya Arjun pun mau berangkat sekolah. Apalagi semalam dia pun menginap di Rumah Sakit menjaga ku, dan ikut terbangun saat Baby El bangun.
__ADS_1