
"Tante suapi aku, aaa. . . " Ucap Anisa sambil membuka mulut nya.
"Sayang jangan ganggu Tante lagi makan Nak." Tegur Kak Aldi.
"Maaf Pa." Ucap Anisa menunduk.
"Ngga apa-apa kok! Kalau Anisa pengen Tante suapi, ayo buka mulut nya yang besar. Aaa. . ." Ucap ku dan membuat Anisa bersemangat kembali, akhir aku pun makan sambil menyuapi Anisa yang lahap sekali makan.
"Enak Tante. . . " Ucap Anisa riang gembira sambil menggoyangkan kepalanya.
"Iya sayang! Makanannya memang enak Nak." Ucap ku sambil tersenyum dan mengelus rambut Anisa lembut.
"Bener kata temen-temen aku! Kalau makan di suapi Mama, pasti lebih enak rasanya" Ucap Anisa riang, namun membuat wajah Kak Aldi sedih.
"Kalau begitu nanti, Anisa bisa minta Mama Anisa untuk menyuapi Anisa setiap hari. Biar makan nya lahap dan semakin gemoy." Ucap ku sambil mencubit pelan pipi nya.
"Loh! Kenapa sayang? Sakit iya? Maaf iya Tante cubit nya terlalu keras? Sakit iya Nak? Sini Tante lihat." Ucap ku khawatir, melihat Anisa murung dan mata berkaca-kaca.
Kemudian aku menghampiri dan melihat pipi nya, namun tidak merah sama sekali membuat aku bingung. Karena memang aku tidak mencubit nya kencang, tapi membuat Anisa sedih.
"Mama jahat Tante." Ucap Anisa sedih dan membuat aku terkejut.
"Kenapa Anisa ngomong begitu?" Tanya ku lembut, sambil memeluk nya sambil duduk.
"Mama ngga sayang Ica! Mama sibuk sama temennya! Kalau Ica minta di suapi Mama marah! Mama bilang Ica harus mandiri, Ica " Ucap Anisa sambil terisak di pelukan ku, membuat aku miris mendengar nya. Sedangkan Kak Aldi memalingkan pandangan nya ke arah lain.
"Ica kan pengen kaya temen-temen Ica! Mama nya sayang sama temen Ica, makan di suapin, tidur di bacain dongeng, di pakaikan kuncir rambut, bahkan di peluk kaya gini terus." Rengek Anisa dalam pelukan ku.
"Jadi Ica pengen kaya gitu?" Tanya ku dan di jawab anggukkan kepalanya.
"Oke! Kita lakuin semua yang Ica mau, gimana?" Tanya ku.
"Memang Tante mau?" Tanya Anisa ragu.
__ADS_1
"Mau dong! Ayo sekarang Ica mau apa dulu? Tadi di suapi sudah, di peluk sudah. Terus sekarang Ica mau apa lagi?" Tanya ku.
"Ica pengen banget tidur sambil di peluk, di bacain dongeng. Tapi Mama ngga pernah mau tidur sama aku, kalau aku maksa pasti di marahi dan di jewer." Ucap Anisa sedih.
"Kalau begitu nanti malam Ica nginep di Rumah Tante aja gimana?" Usul ku dan membuat Kak Aldi terkejut.
"Tidak usah Dira, sudah jangan di dengarkan ucapan Ica. Lebih baik kita makan lagi iya, ayo sayang kita makan lagi." Ucap Kak Aldi mengalihkan pembicaraan, namun aku tidak menggubrisnya.
"Gimana sayang? Kamu mau ngga nginep di rumah Tante?" Tanya ku sambil menatap ke arah Anisa.
"Memang nya boleh Tante?" Tanya Anisa ragu.
"Boleh banget dong sayang! Kamu boleh nginep di Rumah Tante, nanti kita tidur bareng di kamar Tante dan nanti Tante akan bacakan dongen yang kamu mau. Pokoknya nanti malam kita akan bersenang-senang, gimana? Kamu mau kan?" Tanya ku.
"Mau Tante. . . Mau. . . Ica mau nginep di rumah Tante." Ucap Anisa semangat.
"Oke! Pulang dari sini Ica langsung ke rumah Tante oke!" Ucap ku.
"Tante juga sayang sama Ica, kalau Ica butuh sesuatu jangan sungkan untuk hubungi Tante iya sayang." Ucap ku sambil mengelus rambut Anisa.
"Ekhmmm. . ." Dehem Kak Aldi dan membuat kami tersadar bahwa belum meminta izin kepada Kak Aldi sebagai Papa Anisa.
"Eh. . . Papa. . ." Ucap Anisa cengengesan dan aku pun tertawa.
"Kak Aldi boleh kan Anisa menginap di Rumah ku? Cuman malam ini aja kok! Besok pagi aku anterin Anisa pulang." Ucap ku memelas.
"Iya Pa! Boleh iya! Ica pengen nginep di rumah Tante cantik, pengen bobo bareng Tante cantik. Boleh iya Pa!" Rengek Anisa, sambil menggoyangkan tangan Papa nya.
"Nanti kamu merepotkan Tante, lebih baik besok pagi saja kamu main sama Tante. Kalau menginap nanti Tante tidak bisa istirahat, kasian dong Tante nya." Ucap lembut Kak Aldi dan Anisa pun langsung murung.
"Tidak merepotkan kok! Malah Tante seneng kalau Ica mau menginap di Rumah Tante, jadi Tante Ade teman tidur. Gimana? Boleh iya Kak? Kasian loh Ica." Ucap ku membujuk kak Aldi.
Kak Aldi pun tampak ragu, berulang kali menatap Anisa dengan ekspresi sendu. Hingga akhirnya Kak Aldi pun menganggukkan kepala, bertanda mengizinkan Anisa menginap di Rumah ku.
__ADS_1
"Yeyeyeeee. . . . Ica bisa Bobo sama Tante." Ucap Anisa riang gembira sambil menggoyangkan tangan ke atas.
"Ayo Tante, kita pulang sekarang. Ica udah ngga sabar pengen bobo bareng Tante." Ucap Anisa antusias, sambil menarik tangan ku.
"Oke! Cantik, ayo kita ke Rumah Tante." Ucap ku sambil tersenyum dan kami pun pulang ke Rumah ku, sepanjang perjalanan tak henti Anisa bercerita banyak hal yang ingin dia lakukan dengan ku.
"Maaf iya! Kami jadi merepotkan, harusnya tadi kamu menolak permintaannya. Kakak benar-benar tidak enak dengan kamu dan keluarga kamu." Ucap Kak Aldi, saat kami sampai di Rumah.
"Ngga merepotkan kok! Lagian aku seneng Ica mau menginap, hitung-hitungan latihan nanti kalau anak aku sudah lahir Kak." Ucap ku tersenyum sambil mengelus perut ku.
"Kamu memang ngga berubah, tetap baik hati seperti dulu. Terimakasih banyak iya." Ucap Kak Aldi.
"Baik hati tapi di putusin terus dan di selingkuhin lagi, hahaha. . . " Ucap ku kemudian kami pun tertawa.
"Itu masa lalu." Ucap Kak Aldi.
"Kamu tenang aja, nanti pagi-pagi sekali Kakak akan datang menjemput Ica." Ucap Kak Aldi lagi.
"Udah sana pulang, tenang saja. Ica aman di sini, tuh lihat kan langsung akrab sama Mama dan Papa. Udah gih sana pulang." Usir ku.
"Main usir aja! Ngga sekalian di suruh nginep juga di sini kaya Ica?" Goda Kak Aldi.
"Jangan dong! Nanti bisa-bisa langsung ijab kabul, hahaha. . . Masih masa Iddah loh!" Ucap ku bercanda.
"Baiklah ku tunggu masa Iddah mu. . ." Kelakar Kak Aldi.
"Lah! Orang lain itu bilang nya "Kutunggu Janda mu" tapi ini malah "Ku Tunggu Masa Iddah mu." Ucap ku sambil menggelengkan kepala.
"Kan udah ketuk palu, berarti udah janda dong? Tinggal masa Iddah nya, haha. . ." Ucap Kak Aldi.
"Ampun deh! Udahan ah becanda nya, capek ketawa terus." Ucap ku sambil terkekeh.
"Hahaha. . . Iya sudah kalau begitu Kakak pulang iya, nitip Ica iya." Ucap Kak Aldi.
__ADS_1