Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 35


__ADS_3

POV TIO


Siang ini aku mengajak Sifa untuk makan siang bersama dan dia mengatakan ingin mencoba makan di Restoran yang sedang viral karena tempat dan makanannya yang enak.


Teman-teman kami pun kebanyakan sudah pernah ke Restoran itu, sehingga Sifa ingin sekali pergi ke sana. Ingin rasanya aku menolak, karena Restoran itu berada di dekat Perusahaan istri ku bekerja.


Namun melihat betapa antusiasnya, membuat aku tak tega ingin menolaknya. Sehingga aku menyetujui permintaannya, dan berharap aku tidak bertemu dengan istri ku.


"Aku seneng banget deh, Mas! Akhirnya bisa ke sini juga, makasih banyak iya Mas." Ucap Sifa antusias.


"Sama-sama sayang! Asal kamu senang, Mas juga senang." Ucap ku tersenyum sambil mengelus hijab yang dipakai nya.


"Ini pesanannya, silahkan dinikmati." Ucap pelayan yang membawakan makanan pesanan kami.


"Terimakasih." Ucap Sifa, kemudian pelayan pun pergi dan Sifa sangat antusias melihat makanan yang benar-benar menggugah selera.


"Mas coba lihat, makanannya sepertinya enak-enak semua!" Ucap Sifa senang.


"Iya, sepertinya enak! Ayo di makan, kamu harus makan yang banyak iya!" Ucap ku lembut.


"Pasti aku makan banyak Mas! Ayo Mas juga makan yang banyak." Ucap Sifa dengan senyum yang terus mengembang dan aku sangat menyukai senyum nya itu, hingga aku tanpa sadar terus melihatnya.


"Mas. . . Mas. . ." Panggil Sifa.


"Eh . . . Iya! Ada apa?" Tanya ku bingung.


"Aku yang harusnya tanya, ada apa Mas bengong aja?" Tanya Sifa heran dan aku pun tersenyum.


"Mas sedang memandang betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di depan mata Mas." Ucap ku tulus.


"Ikh! Mas gombal!" Ucap Sifa malu-malu.


"Mas ngga gombal sayang, Mas berbicara jujur." Ucap ku sambil mengelus pipi mulus Sifa.


""Udah ayo makan Mas, kita harus kembali ke kantor sehabis makan." Ucap Sifa sambil tersenyum.


"Iya sayang! Kamu mau coba makanan yang Mas ngga? Ini enak loh!" Ucap ku sambil mengambil makanan ku dan menyuapi Sifa.

__ADS_1


"Iya benar Mas, makanan Mas juga enak. Mas mau coba makanan yang punya aku ngga? Ini ngga kalah enak dengan makanan Mas! Ucap Sifa antusias.


"Boleh, coba suapi Mas." Ucap ku dan Sifa pun menyuapi aku makanan miliknya.


"Gimana? Enak kan Mas?" Tanya Sifa.


"Tentu enak, apalagi dari tangan wanita secantik kamu apa pun pasti enak." Ucap ku sambil mengedipkan sebelah mata.


"Iya ampun dari tadi Mas gombali terus." Ucap Sifa tersenyum malu.


"Ayo habiskan, kalau kurang kamu pesan lagi aja." Tawar ku pada Sifa dan kami pun makan dengan sekali-kali bersenda gurau, hingga makanan kami habis dan kami bersiap untuk kembali ke kantor.


Tiba-tiba. . .


"Mas. . ." Suara seorang perempuan memanggil ku dan aku sangat mengenali suara itu, yang tak lain adalah suara istri ku.


Deg. . .


Aku benar-benar terkejut, saat melihat istri ku berada tepat didepan mata ku dan berdiri dengan senyuman manis nya kapada ku.


Deg. . .


"E-h. . . I-ya." Ucap ku gugup.


"Mas lagi makan siang di sini juga iya?" Tanya Nadira sambil tersenyum.


'Semoga Nadira ngga liat apa yang aku lakukan tadi.' Do'a ku dalam hati.


"I-ya, M-as mta-kan si-ang di-sini." Ucap ku terbata-bata dengan keringat yang mulai membasahi kening ku.


"Mba yang waktu itu meeting bareng kita kan iya? Yang memenangkan proyek PT. Jaya Wijaya?" Tanya Sifa tiba-tiba memotong pembicaraanku.


"Iya betul! Perkenalkan nama saya Nadira Hutama." Ucap Nadira sambil mengulurkan tangan.


"Hallo Mba, nama saya Sifa. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Mba, waktu Mba presentasi itu keren banget! Hebat banget Mba!" Ucap Sifa sambil menjabat tangan istri ku dengan bahagia.


Aku semakin terkejut, melihat betapa antusiasnya Sifa berkenalan dengan istriku. Bagaimana jadinya, jika Sifa tau orang yang berada di depannya adalah istri ku?

__ADS_1


"Hallo Sifa, senang juga bertemu dengan kamu?" Ucap Nadira sambil tersenyum, sedangkan aku terus mengusap keringat yang keluar dari keningku.


"Mba makan siang di sini juga?" Tanya Sifa.


"Iya kami mau makan siang di sini, kebetulan Restoran ini dekat dengan kantor." Ucap Nadira dan aku pun bernapas lega, itu berarti istriku tidak tau apa yang sedang aku lakukan bersama Sifa.


"Oh. . Iya! Betul juga iya! Restoran ini kan sebelah nya PT. NH grup, bisa sering-sering iya mba ke sini?" Tanya Sifa yang antusias mengajakku berbincang.


"Mba mau gabung dengan kami? Keliatan nya meja nya sudah penuh semua." Ucap Sifa antusias menawari istri ku untuk bergabung bersama kami, dan aku semakin gugup. Takut Sifa membongkar hubungan kami didepan istriku.


"Memangnya tidak apa-apa, jika kami ikut bergabung di sini?" Tanya Nadira lembut.


"Iya ngga apa-apa dong mba! Malah aku seneng banget, ayo mba sini duduk aja. Iya kan Mas?" Ucap Sifa riang kemudian melirik kepada ku yang tampak pucat.


"I-ya." Ucap ku singkat.


"Loch. . . Kamu kenapa Mas? Ko muka kamu pucat? Kamu sakit Mas? Tadi kamu baik-baik aja! Apa ada yang salah dengan makanannya? Kita ke dokter aja iya!" Ucap Sifa khawatir dengan ku hingga mencecar dengan berbagai pertanyaan, sambil memegang kening ku.


"Wah Sifa ini sangat perhatian iya dengan Mas Tio." Ucap Nadira pada Sifa dan membuat aku semakin gugup.


"Iya mba kami itu sebenernya se- . . " Ucap Sifa yang kemudian aku potong, karena takut Sifa akan membongkar hubungan kami, aku pun memilih kembali ke kantor.


"Ja-m ma-kan siang sudah habis, Mas mau kembali ke kantor." Ucap ku pamit.


"Tapi Mas pucet banget mukanya! Kita ke Dokter aja iya? Biar aku yang telpon ke kantor." Ucap Sifa yang benar-benar khawatir dengan ku.


"JANGAN!" Teriak ku yang terkejut dengan yang dikatakan Sifa yang ingin membawaku ke dokter.


"Mas Tio kenapa? Perlu saya antar? Kebetulan saya bawa mobil, biar lebih cepat ke Rumah Sakit nya." Ucap Nadira yang tampak khawatir pada ku.


Aku benar-benar dilema, bingung apa yang harus aku lakukan. Yang jelas saat ini aku harus segera pergi dari situasi yang menegangkan ini.


"Tidak terimakasih, Mas duluan ke kantor." Ucap ku yang langsung bangkit dari duduk ku dan bergegas pergi.


Aku berlari hingga sampai Parkiran dengan napas yang tersengal-sengal, aku pun bersembunyi di dekat poho dan aku bergegas mengirim pesan kepada Sifa.


Mas tunggu di Palkiran (terkirim).

__ADS_1


__ADS_2