Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 80


__ADS_3

2 Minggu Kemudian. . .


Setelah beberapa hari yang melelahkan, akhirnya selesai juga tugas tutup buku kami. Dan aku pun berencana ingin pulang lebih awal, karena hari ini jadwal pemeriksaan kandungan ku. Rasanya tak sabar untuk mengetahui tumbuh kembang anak ku, membayangkannya saja sudah membuat aku bahagia.


"Dian, Mba duluan iya. Mau pemeriksaan kandungan dulu hari ini, tadi Mba sudah janjian dengan Dr. Natali." Ucap ku pamit.


"Iya Mba, hati-hati di jalannya. Dian telpon supir untuk bersiap iya Mba, maaf Dian masih banyak kerjaan. Jadi ngga bisa nemenin Mba, tapi kalau ada apa-apa langsung telpon iya Mba." Ucap Dian khawatir.


"Iya kamu tenang aja, iya sudah Mba berangkat. Kamu jangan lembur, kerjain aja besok lagi. Assalamualaikum." Ucap ku kemudian masuk ke dalam lift, begitu tiba di lobby supir sudah menunggu ku dan kami pun segera berangkat ke Klinik Dr. Natali.


Tak perlu menunggu lama, aku pun masuk dan di periksa oleh Dr. Natali. Serangkaian pemeriksaan pun aku lakukan dan kini akan di lakukan USG.


"Mari kita lihat iya Bu kondisi Dede bayi nya, yakin tidak mau tau jenis kelaminnya?" Tanya Dokter.


"Tidak perlu Dok, saya ingin semuanya menjadi kejutan. Mau dia laki-laki atau perempuan, yang terpenting dia sehat dan lengkap. Itu sudah cukup bagi saya Dok." Ucap ku sambil tersenyum.


"Saya suka sekali dengan pendapat Ibu! Apa pun jenis kelaminnya, itu adalah anugerah Tuhan yang paling indah. Harus selalu kita syukuri, nah! Ini dia Dede bayi nya, lingkar kepalanya normal, panjang kaki normal, panjang tangan normal, air ketuban nya cukup dan coba ibu dengarkan detak jantung Dede bayi nya." Ucap Dokter dan kemudian terdengarlah detak jantung janin yang ada di kandungan ku, membuat air mata ini pun menetes.


"Usia kandungan Ibu saat ini sudah 23 Minggu, berat badan bayi normal. Oke! Semuanya bagus, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap Dokter dan kami pun kembali ke meja Dokter.


"Trimester ke 2 kehamilan ini, organ vital bayi seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan otak sudah lebih berkembang, sehingga ukurannya menjadi lebih besar. Bayi juga mulai bisa mendengar suara, sehingga Ibu bisa mulai mengajak bayi berbicara. Selama trimester kedua ibu hamil juga dianjurkan untuk berolahraga ringan atau senam hamil secara teratur, dan penting nya menjaga emosional.


. . .Perubahan emosional saat trimester ke dua banyak di alami ibu-ibu hamil, sehingga mempengaruhi tekanan darah bahkan kehamilannya. Maka dari itu sebisa mungkin buat diri Ibu selalu happy, lakukan hal yang memang Ibu sukai dan tentunya tidak berbahaya.


. . . Kram kaki yang ibu rasakan biasa terjadi pada ibu-ibu hamil, untuk mencegahnya ibu dapat meregangkan otot betis sebelum ibu tidur, dan perbanyak minum air putih. Apa ada lagi yang ingin Ibu tanyakan?" Ucap Dokter.

__ADS_1


"Ngga Dok, penjelasan Dokter sudah cukup." Ucap ku sambil tersenyum.


"Baik kalau begitu! Vitamin nya di lanjutkan iya Bu! Ini resepnya, semoga Ibu dan Dede bayi sehat selalu." Ucap Dokter sambil memberikan resep obat kepada ku.


"Aamiin, baik Dok! Terimakasih banyak, kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum." Ucap ku kemudian aku pun keluar dari Ruang Pemeriksaan menuju Apotek, dan nasib sial pun menghampiri ku lagi.


Aku melihat perdebatan antara pegawai Klinik dengan Mas Tio dan Sifa, karena malas bertemu mereka aku pun memutuskan menelpon supir ku untuk mengurus administrasi dan menebus vitamin.


Beruntung mereka tidak melihat ku, sebenarnya bingung juga. Kenapa setiap aku memeriksakan kandungan, harus berbarengan dengan mereka terus? Padahal aku sudah mengganti jadwal pemeriksaan kandungan ku, namun tetap saja bertemu mereka.


Saat aku sedang asik memainkan telpon ku di dalam mobil, aku pun melihat mereka keluar dari Klinik dan tampaknya Sifa masih terus memarahi Mas Tio. Timbul rasa iba di hati ku, melihat ayah dari anak yang aku kandung di perlakukan begitu.


Namun ini semua pun terjadi karena ulah nya, sehingga aku pun menepis segala rasa iba ku kepadanya. Segera aku alihkan pikiran ku dengan melihat sekitar, dan aku melihat seorang anak laki-laki memakai seragam sekolah yang sudah lusuh sedang berjualan makanan ringan.


"Kita langsung pulang Bu? Atau mau ke mana dulu?" Tanya Pak Supir.


"Pak, bisa saya minta tolong?" Ucap ku tanpa mengalihkan pandangan dari anak laki-laki itu.


"Iya Bu, ada apa?" Tanya Pak Supir.


"Tolong Bapak beli semua dagangan anak itu." Ucap ku sambil menunjuk anak kecil itu.


"Ini uangnya, kasih aja semuanya iya Pak." Ucap ku, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang.


"Baik Bu, sebentar iya Bu." Ucap Pak Supir.

__ADS_1


"Terimakasih banyak iya Pak." Ucap ku.


Aku pun terus memperhatikan anak itu yang sedang di hampiri Pak Supir, betapa bahagianya dia saat ini. Bahkan sampai menangis bahagia, aku pun ikut meneteskan air mata melihatnya.


"Sudah Bu, ini jajanannya tidak ada keresek gede katanya. Jadi saya bawa begini saja." Ucap Pak Supir yang membawa jajanan itu di tangannya.


"Iya sudah nanti Bapak bawa pulang iya! Untuk anak-anak Bapak di Rumah." Ucap ku.


"Beneran Bu?" Tanya Pak supir.


"Iya beneran dong Pak, iya sudah ayo kita pulang Pak." Ucap ku.


"Baik Bu." Jawab Pak Supir, namun tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil ku. Rupanya anak kecil tadi menghampiri kami, ku buka kaca mobil ku.


"Iya! Ada apa?" Tanya ku ramah.


"Terimakasih banyak Bu." Ucap nya dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama Nak!" Ucap ku sambil tersenyum, lantas ku buka pintu mobil ku.


"Ayo Ibu antar kamu pulang." Ucap ku, memintanya masuk ke dalam mobil.


"Ti-dak perlu Bu." Ucap nya takut.


"Iya sudah kalau kamu tidak mau Ibu antar, hati-hati pulangnya iya! Ibu pamit iya Nak! Assalamualaikum." Ucap ku, kemudian menutup kembali pintu mobil dan melambaikan tangan ku.

__ADS_1


__ADS_2