
"Nih makan!' Indra memberikan satu piring yang berisi nasi dan tumis kangkung.
"Terima kasih!" Sani piring pemberian Indra. Walau terlihat judes Indra sebenarnya anak yang baik. Cuman bawaannya saja memang judes jarang ramah. Jika belum kenal pasti mengenalnya anak yang judes.
“Kamu tidak makan?" Sani melihat Indra.
Indra hanya diam. Dia memainkan handphonenya sambil duduk di bangku.
"Maaf ya aku jadi numpang di rumah kamu!" Sani tidak enak merepotkan keluarga pak Karim.
"Nama kamu siapa?" Indra memberanikan diri menanyakan nama Sani.
"Kenalin aku Sani." Sani memperkenalkan dirinya sambil mengaduk nasi pemberian Indra.
"Kamu daripada mana?"
"Kota I."
"Hah?" Indra melirik sebentar sambil melongo kaget. Lalu kembali ke layar handphonenya.
Sani melanjutkan makannya. Suap demi suap masuk ke mulut Sani. Akhirnya habis juga nasi yang ada di piring itu tak bersisa. Walaupun menunya hanya tumis kangkung, tapi terasa nikmat. Sani berdiri akan menyimpan piring nasi pemberian Indra.
"Biar aku aja!" Indra langsung mengambil piring bekas Sani makan dan membawanya ke dalam. Sani duduk kembali merasa malu sudah diberi makan tapi piringnya malah dicuci Indra.
Sani menunduk. Tiba-tiba dia teringat ibunya jauh di sana. Sani menitikkan air matanya lalu menyeka ujung kelopak matanya dengan ujung baju kaosnya.
###
Sementara itu Rudi menyisir rumah sakit tempat Sani dirawat. Tentu saja Rudi tidak akan menemukannya karena Rudi juga tidak tahu namanya. Dia hanya menyebutkan ciri-ciri nya saja.
Rudi berdiri mematung di bagian administrasi. Tadi dia sendiri datang kesini untuk menyimpan uang jaminan untuk pengobatan Sani. Dia ragu untuk menanyakan Sani pada bagian Administrasi. Dia tadi hanya bertanya pada beberapa perawat yang ada di bagian UGD. Tapi mereka tidak mengetahuinya. Karena sudah berganti shift.
Tapi demi memenuhi permintaan majikannya terpaksa Rudi masuk ke ruang administrasi.
"Maaf pak. Saya mau bertanya apakah pasien tabrak lari yang ada di ruang UGD apakah sudah keluar?"
__ADS_1
Petugas mengerutkan dahinya.
"Tadi saya penjaminnya pak! Yang membayar pengobatannya atas nama Rudi." Terang Rudi pada petugas administrasi.
"Sebentar! Saya cek dulu!" Petugas itu melihat layar komputer di depannya dengan menautkan alisnya mengamati nama-nama yang ada di database komputer rumah sakit.
"Oh.. Dia sudah pulang." Terang petugas.
"Apakah dia baik-baik saja pak?" Rudi melihat ke arah petugas administrasi.
"Hhhm. Kalau dokter mengizinkan pulang berarti dia tidak parah." Petugas itu memberi keterangan sesuai prosedur rumah sakit.
"Oh baik. Terimakasih." Rudi mengangguk kepalanya pada petugas.
"Iya sama-sama." Petugas itu menatap Rudi sedikit curiga.
"Aneh." Tutuk petugas administrasi lalu fokus kembali bekerja.
Rudi berlalu dari hadapan petugas keluar menuju parkiran. Kembali ke hotel setelah mendapatkan informasi tentang Sani.
"Siang bos!" Rudi mendekati Rei yang sedang menikmati minuman yang diberikan pelayan hotel.
Rei menatap Rudi.
"Bos gadis itu sudah datang. Bos mau melihatnya dulu?" Rudi yang tadi menjemput gadis pengganti di lobi hotel mengabarkan pada Rei.
"Suruh dia mandi dulu! Dan berikan pakaian yang pantas untuk dilihat!" Perintah Rei sambil menyesap minuman lalu pandangan nya kembali melihat kolam jernih di depannya.
"Baik bos!" Rudi segera berlalu melaksanakan perintah Rei. Dia sudah mengerti apa yang disukai Rei selama ini. Dia tidak suka melihat wanita yang tercium bau-bau aneh apalagi bau badan. Rei sangat pemilih pada wanita walaupun itu wanita penjaja ***. Biasanya sebelum berhubungan intim dengannya Rei menyuruh wanita-wanita itu untuk berhias serapih dan sewangi mungkin.
Ya Rei.. terbiasa hidup bebas. Dengan lingkungan dan teman-temannya yang bebas, membawa pengaruh pada Rei juga.
Di kamar ViP sudah siap seorang gadis umur 19 tahunan dengan dandanan cantik berbalut baju seksi.
Rei yang sudah rapih terlihat tampan. Dia telah berganti pakaian setelah tadi membilas badannya sesudah renang di area hotel.
__ADS_1
Rei membuka kamar itu lalu kembali menutupnya. Wajahnya tertuju pada seorang gadis muda yang sedang duduk di tepian ranjang mewah yang ada di kamar hotel ViP. Mata Rei sangat tajam menilai gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Hidungnya mengendus rambut yang terurai sepinggang dengan curly di tiap ujungnya. Naluri kelaki-lakiannya sepersekian detik langsung naik ke ubun-ubun begitu harum sampo dan parfum gadis ini masuk ke dalam hidung Rei.
Rei meraih dagu gadis itu lalu matanya menatap bibir seksi berlapis gincu merah menyala pemikat nafsu. Rei yang terbiasa menyentuh wanita tak canggung lagi meraih bibir gadis di depannya dengan ganas. Gadis itu melenguh ketika sentuhan-sentuhan itu terus bertubi-tubi menyerangnya. Akhirnya gadis itu pun tak kuasa menahan serangan Rei yang sudah menggila.
"Sial kamu bukan perawan?" Rei menampar gadis itu dengan keras.
Gadis itu meringis kesakitan. Ujung bibirnya mengeluarkan darah. Dia tak bisa berbicara sedikit pun menghadapi kekerasan yang Rei lakukan.
Rei bangkit dengan amarah. Dia merasa ditipu oleh gadis itu juga mamah Banyu.
"Dia tidak tahu siapa aku. Beraninya mereka menipu aku dengan terang-terangan." Umpat Rei sambil memakai kembali bajunya. Dia keluar dari kamar itu dengan amarah yang menggebu-gebu. Lantas menutup pintu dengan keras sampai gadis itu meraba dadanya karena kaget.
Rei menghempaskan dirinya di kursi.
"Ada bos?" Rudi melihat wajah majikannya seperti marah. Padahal dia sudah melakukan kesenangannya seperti biasa. Tapi yang tidak biasa wajahnya terlihat marah setelah melakukan itu.
"Sial mereka menipu kita!"
"Maksudnya?" Rudi mengerutkan dahinya.
"Dia bukan perawan." Rei menyalakan rokok lalu menyesapnya. Dadanya masih terlihat turun naik menahan amarah.
"Kurang ajar! Biar saya urus bos!"
"Nanti kita kembali lagi. Sekarang kita mesti bawa gadis itu sebelum tua bangka bangun dari tidurnya."
"Baik bos!"
"Perintahkan pada anak buah kita untuk membereskan tempat itu jangan sampai ada jejak. Untuk pembalasan kita pada penipu kelas teri." Perintah Rei pada Rudi.
"Baik bos! Saya akan menyuruh mereka memberikan tempat itu tanpa sisa. Heh... kurang ajar wanita licik itu. Sudah menghilangkan malah menggantikan dengan yang buruk." Rudi ikut merutuk perbuatan mamah Banyu.
"Siapkan penerbangan buat ke Balik ke Singapur. Aku tak mau berlama-lama disini membuat aku terlihat murahan. Dasar laki-laki tua bangka. Dia hendak menjatuhkan aku dengan tipuannya
__ADS_1
Semoga saja dia cepat mati dan aku bisa mewarisi semua hartanya." Rei merutuk tuan Tedi yang dianggap musuh bebuyutan sampai sekarang.