
"Apa? Dia kena demam berdarah?" Suara itu agak meninggi tatkala dokter yang menangani Sani menyampaikan hasil observasinya bahwa Sani positif terkena demam berdarah.
Farhan duduk lemas ketika mendengar hal itu dari dokter. Kini orang yang dirawat jadi bertambah. Belum tenang hatinya mengadapi ujian sakitnya bu Haji Zenal, sekarang Sani malah terkena demam berdarah.
"Far.. mending kamu pulang dulu pada Nisa! Tak baik pengantin baru sudah meninggalkan istrinya." Suara Reza membuat Farhan menegakkan tubuhnya.
"Gak tau bang.. aku merasa dosa. Satu sisi aku harus ikhlas, tapi satu sisi aku berharap lain." Farhan menjadi cemas ketika melihat Sani sakit seperti itu.
"Istigfar Far.. sebaiknya kamu jauhi Sani! Biar abang suruh perawat saja, agar bisa menjaga hatimu. Jangan memperturutkan nafsu Far!" Reza menguatkan Farhan dengan menepuk bahu adiknya.
"Iya bang. Aku pulang dulu. Semoga Sani cepat sembuh. Mohon maaf sudah merepotkan abang.' Farhan berdiri berpamitan meninggalkan rumah sakit.
Setibanya di rumah mertuanya, Farhan masuk ke dalam diiringi dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Suasana rumah begitu sepi. Dengan langkah segan dia langsung menuju kamar Nisa. Begitu masuk ke kamar itu, semuanya terlihat rapih dan tak berpenghuni. Farhan berjalan menuju kamar mandi dibukanya pintu itu, sama tak berpenghuni.
"Kemana Nisa?" Farhan agak mengerutkan dahinya. Rumah mertuanya nampak sepi. Dia keluar kamar dan mencari pembantu rumah itu.
Di area tanah belakang ada wanita paruh baya sedang menjemur pakaian.
"Assalamu'alaikum bi... " Ucap Farhan telah mengagetkan bi Sumi.
"Eh.. waalaikumsalam.. " Bi Sumi meraba dadanya yang kaget.
"Maaf bi.. orang-orang rumah pada kemana ya bi? Sepi banget." Farhan tidak tahu kebiasaan mertuanya dan juga istrinya.
"Oh.. kalau nyonya sih tadi berangkat sama temannya. Tapi tidak tahu kemana. Kalau non Nisa.. bi Inah tak tahu den. Tadi sih udah dandan langsung pergi setelah nyonya Ajeng pergi." Jawab Bi Sumi yang tidak tdrllau memusingkan urusan majikannya.
"Oh.. iya Terima kasih bi." Farhan bingung harus melakukan apa di rumah yang masih terasa asing baginya.
"Eh den.. sebentar. Bibi siapkan dulu makan ya!" Bi Sumi menghentikan pekerjaannya dan pergi ke dapur. Farhan tidak menolak bi Sumi untuk menyediakannya makan, karena perutnya juga memang sedang lapar. Dia berharap istrinya yang menyiapkan kebutuhannya. Apalagi ini masih acara pengantin baru.
Sambil menunggu bi Sumi menyiapkan makan, Farhan menelepon istrinya. Tapi beberapa kali dia menelpon nomor istrinya, suara mesin otomatis lah yang setia menjawab panggilannya.
"Silahkan den Farhan.. " Bi Sumi menata meja dan menyiapkan beberapa menu sederhana untuk makannya.
"Terima kasih bi." Ucap Farhan.
__ADS_1
"Sama-sama den." Bi Sumi kembali menjemur pakaian.
Farhan makan sendiri tanpa semangat. Meski dia tidak mau berprasangka buruk, tapi Nisa begal istri seharusnya meminta izin lebih dulu jika akan bepergian. Baru saja hari kedua pernikahan Farhan sudah merasa banyak kekecewaan.
"Astaghfirullahaladzim.. " Farhan mengucap istigfar di sela-sela makannya. Tanpa disadarinya dia sudah menaruh kesal dalam hatinya pada Nisa.
Farhan segera menyelesaikan makannya. Meski dia tidak berselera dia harus menjaga tubuhnya agar tidak sakit. Tanggung jawabnya sekarang jadi bertambah banyak. Selain bu Haji, Sani ditambah istrinya. Keluarga baru yang baru saja dikenalnya membutuhkan kesiapan mental untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan barunya.
Dilain tempat Reza sedang mengurus bu Haji ditemani istrinya. Sekarang pak Haji sudah datang akan menggantikan Reza untuk menunggu istrinya.
"Kamu pulang dulu saja. Umi sekarang mau dipasang ring, biar abah saja yang menunggunya." Pak Haji Zenal menyuruh putranya untuk istirahat.
"Baik bah. Semoga umi lekas sembuh." Reza sudah siap-siap pulang.
"Mi.. Reza sama Sarah pulang dulu ya! Assalamu'alaikum." Reza dan Sarah menciumi punggung ibunya dengan penuh hormat.
"Mmm... waalaikum calam." Bicara bu Haji tidak begitu jelas setelah mendapatkan serangan struk. Rencananya hari ini akan dipasang ring untuk membantu penyumbatan ke area jantungnya. Pak Haji Zenal setia menunggu dan mengurus kebutuhan istrinya. Mungkin setelah dipasang ring, kesehatan bu Haji akan terbantu dan bisa lekas pulang.
Alhamdulillah pemasangan ring berjalan lancar. Tadi terdengar Reza juga Farhan menelpon menanyakan kabar ibunya. Mereka senang mendapatkan kabar pemasangan ring berjalan lancar. Semoga ibunya bisa kembali sehat seperti semula dan bisa berkumpul kembali di rumah.
Waktu tak terasa sudah berjalan sore. Farhan masih menunggu kedatangan istrinya.
"Eh bang Farhan... sudah lama bang?"Jeng Reni agak malu karena baru pulang dari acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
"Sudah ma.. " Jawab Fat sambil cium tangan.
"Nisa kemana ya bang?"Jeng Reni tak melihat anaknya bersama Farhan.
"Tidak tahu ma. Sejak Farhan datang juga tidak ada. Tadi ditelepon juga tidak aktif." Jawab Farhan.
"Ya ampun. Mama kira dia ada di rumah. Sebentar mama telepon." Jeng Reni menekan nomor Nisa untuk menghubunginya.
"Tidak aktif. Kemana sih tuh anak. Sebentar mama telepon ke teman-temannya ya!"Jeng Reni menghubungi salah satu teman dekatnya Nisa.
"Halo.. "
__ADS_1
"Halo tante." Suara di seberang telepon menjawab.
"Maaf..tante mau bertanya, kalau Nisa ada sama Disya gak?" Tanya jeng Reni pada Disya sahabatnya Nisa.
"Mmm.. tadi sih ngafe tante sama Disya. Tapi sudah pulang dijemput Rido." Jawab Disya apa adanya.
"Apa? Rido?" Suara Jeng Reni agak keras sampai Farhan agak kaget.
"Iya tante." Jawab Disya polos.
"Kemana mereka kira-kira pergi?" Jeng Reni agak khawatir mendengar Nisa dijemput laki-laki yang dia sendiri belum pernah mengenalnya.
"Tidak tahu tante." Jawab Disya yang tidak tahu menahu.
"Kamu punya nomor teleponnya? Boleh tante minta?"Jeng Reni agak memijit keningnya. Rasanya urat syarafnya mulai menegang.
"Iya baik tante. Saya kirimkan." Disya tanpa menolak langsung mengirimkan nomor kontak Rido pada Jeng Reni.
"Ma kasih Disya. Tante coba hubungi dulu ya!" Jeng Reni hendak mengakhiri panggilan pada Disya.
"Sama-sama tante."
Jeng Reni pun mengakhiri panggilan dan beralih menekan nomor yang baru saja dikirimkan Disya.
Tut
Tut
Suara sambungan telepon terdengar aktif. Dada Jeng Reni agak deg-deg an. Tak lama kemudian telepon oun tersambung.
"Halo.. " Suara parau bernada berat terdengar di telinga Jeng Reni.
"Halo.. ini sama Rido bukan?" Jeng Reni langsung menanyakan identitas si pemilik telepon.
"Iya." Jawabnya pendek.
__ADS_1
"Nisa ada sama kamu tidak?" Hati jeng Reni agak cemas.
"Nis.. Nis.. bangun.. " Terdengar dia memanggil nama anaknya dan menyuruhnya bangun. Suara panggilan itu membuat Jeng Reni terhenyak. kenapa laki-laki itu membangunkan Nisa?