
"Bagaimana kalau nanti kita ke dokter Nis?" Ajak Farhan pada Nisa. Dia yang tak mau istrinya terus-menerus merasakan sakit lambung yang menurut penuturannya.
"Gak pa-pa mas. Aku suka gitu.. kalau pagi-pagi suka mual. Nanti siang gak kok.." Bantah Nisa menolak ajakan Farhan untuk memeriksakan kesehatannya.
"Mending diperiksa Nis.. jadi abang tenang. Terus Nisa juga bisa dikonsultasikan jika ada keluhan yang tidak biasa." Farhan menatap inten istrinya. Dia berusaha menerima takdir Nisa sebagai istrinya. Dia juga berusaha bertanggungjawab apa yang menjadi kewajibannya terhadap Nisa.
"Ih.. abang.. Nisa gak pa-pa. Nanti kalau Nisa merasa sakit, baru Nisa meminta abang membawa ke dokter. Nisa shalat dulu keburu siang." Nisa tetap menolak ajakan Farhan.
Farhan hanya menghela nafas. Tak bisa memaksa Nisa jika dia sudah menolaknya.
Farhan membuka aplikasi Al-Quran di handphonenya lalu membacanya perlahan.
Terlihat Nisa sudah melipat mukenanya lalu. menyimpan pada tempatnya berasal. Nisa kembali menyeruput teh yang tadi dibawa Farhan. Perutnya yang mual terasa baikan. Dia menghabiskan teh manis hangat dalam gelas itu sampai tak bersisa.
Farhan menyudahi membaca Al-Quran nya.
"Nis.. kayanya abang hari ini harus ke rumah sakit menggantikan abang Reza. Kasian bang Reza harus istirahat setelah tadi malam menunggu umi di rumah sakit." Farhan memberitahu Nisa khawatir istrinya tidak memberinya izin.
"Mmm.. abang akan menunggu lama tidak?" Nisa seperti menemukan lampu hijau.
"Ya.. menunggu abang Reza, paling sore abang pulang." Jawab Farhan tidak menaruh curiga.
"Ohh.. kenapa? Kamu mau ikut?" Farhan tersenyum pada Nisa. Secara halus dia mengajak Nisa untuk menemaninya. Karena ini adalah hari ke empat dia menikahi Nisa, dia ingin mencoba menumbuhkan rasa cinta pada wanita sahnya.
"Mm... gak deh bang. Nisa mau di rumah. Terus Nisa juga ada perlu sama teman. Dia mengajak Nisa untuk ketemuan." Bukan Nisa namanya yang bisa berdiam lama di rumah. Dia yang senang hangout rupanya tak bisa menghilangkan kebiasaannya walau sekarang sudah berstatus istri.
"Mmm.. sama siapa?" Meski kecewa Farhan tak mau membebani Nisa. Dia merasa bersalah pada Nisa, karena setelah perjodohan dia belum bisa mengajak Nisa bulan madu sesuai keinginannya.
"Sama temen kampuslah.. " Jawab Nisa tak mau Farhan terus-menerus bertanya.
"Banyakan atau gimana?" Farhan masih penasaran, dengan siapa Nisa akan bertemu. Kok bisa-bisa nya di tengah ibunya sakit dia diajak menjenguk malah memilih hangout dengan teman-temannya.
"Banyakan." Jawab Nisa berbohong. Padahal dia hanya mempunyai janji dengan satu orang.
"Ohh.. Jam berapa kamu pulang? Apa mau dijemput?" Tawar Farhan pada Nisa.
__ADS_1
"Gak usahlah.. aku bisa pulang sendiri. Lagian mas juga pulang sore." Tolak Nisa tak ingin Farhan menjemputnya.
"Ya baiklah hati-hati!" Farhan agak kecewa melihat sikap cuek Nisa.
Nisa yang tahu Farhan agak dingin langsung mendekatinya. Lalu bergelayut manja ingin merayunya agar Farhan tidak jadi marah.
Farhan yang mengerti isyarat Nisa tak menunggu lama. Keinginannya yang tadi malam sempat ditolak Nisa dimanfaatkannya dengan baik mumpung Nisa memberi sinyal.
Pergulatan panas antara suami istri pun terjadi. Mereka sedang mendaki gunung tinggi ke atas nirwana lalu menari-menari di atas kenikmatan yang tiada tara. Sepasang suami istri itupun akhirnya melenguh bersama mencapai puncak syurga dunia lalu menghempaskan diri ke bumi dengan sejuta rasa.
Keduanya menyudahi acara panas-panasnya lalu Farhan membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Sejenak kekecewaannya terlupakan dengan acara panas tadi.
Farhan dan Nisa tertidur karena kelelahan. Tanpa terasa dua jam sudah berlalu mereka tertidur di pagi hari.
Kring
Kring
Kring
Suara handphone Farhan berbunyi membangunkan Farhan yang terlelap nyenyak.
"Asalamualaikum." Suara Farhan terdengar serak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Far.. kamu... masih tidur?" Reza yang menelpon di seberang sana mendengar jelas suara Farhan agak serak seperti bangun tidur.
"Mmm... tadi tidur lagi habis subuh bang." Farhan malu-malu menjawab pertanyaan Reza.
"Aih... pengantin... he he." Reza terkekeh karena Farhan ketahuan terciduk.
"Ih.. kaya yang tidak pengalaman aja jadi pengantin." Farhan menjawab sambil malu-malu.
"He he.. maaf jadi mengganggu. Mmm... kamu mau kapan kesini?" Reza yang sedari tadi menunggu, penasaran akan kepastian Farhan datang ke rumah sakit menggantikan dirinya.
Farhan melihat jam dinding yang ada di kamar Nisa. "Astaghfirullah.. sudah siang." Farhan baru sadar bahwa dirinya sudah dia jam tertidur.
__ADS_1
"Mmm... baru nyadar yah. Apa mau lanjut sampai siang nih pengantin? Kalau mau lanjut, abang mau cari orang buat gantiin kamu?" Reza tak mau mengganggu acara adiknya yang masih pengantinan.
"Gak.. bang... aku mau pergi sekarang. Aku mandi dulu ya! Abang bisa sabar kan?" Farhan yang tadi sudah berniat tak mau kakaknya salah paham.
"Wah dari tadi juga abang sudah sabar. Sudah kepalang sabar, abang mau menunggu kamu datang, asal jangan terlalu lama!" Ucap Reza mewanti-wanti.
"Baik... tunggu ya bang. Assalamu'alaikum." Farhan langsung turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk mandi besar.
Nisa masih tertidur di atas kasur. Dia tak terganggu sama sekali akan pembicaraannya Farhan. Bahkan terkesan dia pura-pura tidur agar Farhan tidak menggagalkan acara hangoutnya.
Farhan dengan cepat menyelesaikan mandinya lalu berganti pakaian.
"Nis.. aku berangkat dulu ya! Uang kamu masih ada kan?" Farhan baru saja kemarin mentransfer uang nafkah pada Nisa.
"Mmm... " Jawab Nisa singkat.
Farhan mengecup kening istrinya dan pamit berangkat.
Tiga puluh menit kemudian sampailah Farhan di rumah sakit. Farhan setengah berlari menuju ruang ICU dimana bu haji Zenal sedang dirawat.
"Assalamualaikum." Ucap Farhan masih terengah-engah.
"Waalaikumsalam.. waduh.. jangan lari-lari Far.. nanti kamu jatuh gimana?" Reza mengkhawatirkan adiknya yang terlihat kelelahan.
"Mmm" Jawab Farhan singkat.
"Sudahlah.. sekarang kamu sudah datang. Ada yang mau diomongin abang sama kamu Far.." Reza mengajak Farhan duduk.
"Iya ada apa bang?" Nafas Farhan sudah mulai teratur setelah menjeda dan duduk di kursi yang ada di rumah sakit.
"Mmm.. tentang Sani. Apa. kamu serius akan membawa Sani ke Singapura?" Tanya Reza pada Farhan.
"Betul bang. Memang kenapa?" Farhan agak mengerutkan dahi.
"Kamu.. sudah tahu dimana orang tua Sani? Terus kira-kira nanti bagaimana kalau Sani dibawa kesana? Apa mereka mengizinkan?" Reza mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada Sani.
__ADS_1
"Menurut keterangan Sani. Sani sudah dijual ke makelar bang. Dia kabur dari sana. Kalau dia kembali ke kampungnya, ada kemungkinan Sani akan ditangkap dan dijadikan pelacur." Jawab Farhan.
"Kamu yakin?"