
"Maaf.. saya kesini ingin menyelesaikan masalah anak-anak kita pak Haji. Ada beberapa kesalahpahaman diantara Nisa juga nak Farhan." Ucap ayah Nisa memulai bicara menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan nya ke rumah pak Haji Zenal. Selain bertakziah, mereka pun ingin menyelesaikan masalah pernikahan antara Nisa dan Farhan.
"Oh.. begitu. Baiklah. Saya disini akan mendengarkan apa yang terjadi diantara kalian
berdua. Meski sebetulnya Farhan sudah bercerita kemarin. Tapi tidak ada salahnya saya pun akan mendengarkan kembali apa yang terjadi sebenarnya antara Nisa dan Farhan." Pak Haji Zenal begitu bijak menanggapi masalah antara Nisa dan Farhan. Memang tidak ada salahnya jika pak Haji Zenal mendengarkan masalah dari pihak Nisa sekarang. Agar masalah itu bisa fair kalau datang dari kedua belah pihak.
"Begini pak Haji. Kemarin ada kesalahan pahaman antara Nisa dengan Farhan sehingga nak Farhan menjatuhkan talak pada Nisa. Sebabnya karena nak Farhan belum mendengarkan dengan jelas apa yang terjadi pada Nisa. Kemarin Nisa memang keguguran, tapi usia kandungan nya baru satu bulan. Kalau menurut dokter usia kandungan dihitung dari terakhir Nisa haid. Kalau nak Farhan mencampuri Nisa ketika malam pertama lalu Nisa mengandung itu sudah terhitung satu bulan menurut hitungan dokter. Mungkin kemarin nak Farhan agak salah paham karena menyangka Nisa sudah hamil duluan. Dan itu sama seperti kami sebelum mendapatkan penjelasan dokter. Jadi saya mohon nak Farhan bisa menarik kembali talaknya pada Nisa." Ucap ayahnya Nisa dengan nada memohon.
"Oh begitu." Pak Haji Zenal manggut-manggut lalu menoleh pada Farhan.
Farhan yang mendengarkan alasan ayahnya Nisa, tentu tidak menerima karena yang dia tahu dari pembicaraan mereka bahwa Nisa hamil sebelum menikah dan itu jelas terdengar ketika Farhan sebelum masuk ke dalam kamar perawatan.
"Bagaimana menurut mu nak?" Pak Haji Zenal tahu anaknya tak begitu percaya dengan alasan keluarga Nisa.
"Maaf bah.. yah.. bu... Farhan tak bisa mencabut talak pada Nisa. Keputusan Farhan sudah bulat ingin berpisah dengan Nisa. Adapun alasan yang barusan ayah buat, Farhan tidak bisa menerimanya. Apa yang Farhan dengar waktu itu, bukan begitu sebabnya kan? Nisa memang sudah hamil sebelum menikah dengan Farhan. Dan usia kandungan Nisa bukan satu bulan. Farhan sudah cek ke dokter yang menangani Nisa waktu itu, bahwa kandungan Nisa sudah menginjak dua bulan bukan satu bulan." Farhan menjelaskan dengan versi pemikirannya berdasarkan fakta yang ada.
__ADS_1
"Mmm... begitu ya?" Pak Haji Zenal mangut-mangut dia berusaha diam dahulu dan tidak mau memperkeruh keadaan masalah Farhan dengan memihak salah satu.
"Nak Farhan mungkin salah pak Haji. Mari kita tanyakan kembali pada dokter. Mungkin waktu itu dokter salah bicara yang membuat nak Farhan salah paham. Saya sudah cek kembali dan ini hasilnya. Jadi anak saya Nisa tidak hamil di luar nikah. Bahkan dia hamil karena nak Farhan sudah menyentuhnya di malam pertama. Bukannya begitu Nisa?" Ayah Nisa menoleh pada Nisa meminta jawaban Nisa.
Nisa mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan ayahnya.
Farhan mengernyitkan dahinya. Diambilnya surat keterangan dokter yang disodorkan ayahnya Nisa. Lalu Farhan membaca dengan seksama apa yang tertera dalam kertas itu.
Pikiran Farhan seketika berkecamuk. Mana yang harus dipercaya. Apa yang telah didengar nya atau bukti yang sudah dibawa ayahnya Nisa. Sedangkan waktu itu Farhan hanya mempunyai bukti secara lisan bukan secara tulisan.
Farhan pun memberikannya pada pak Haji Zenal dengan ragu.
Pak Haji Zenal menyipitkan matanya untuk membaca tulisan keterangan dokter yang tertera di atas kertas itu. Kebetulan pak Haji tidak memakai kacamata sehingga dia perlu ekstra lebih untuk membaca tulisan yang ada di dalam kertas itu dengan penuh ketelitian.
"Jadi bagaimana nak?" Pak Haji Zenal menoleh pada Farhan. Dia tahu anaknya kini sedang dilanda kebingungan. Karena Farhan tidak mempunyai bukti tertulis sehingga dianggap lemah akan tuduhannya pada Nisa.
__ADS_1
Farhan menunduk. Dia tak tahu harus menjawab apa.
Pak Haji Zenal menaruh kembali kertas itu di atas meja.
"Saya kira, kertas ini akan saya simpan dulu ya besan. Farhan mungkin akan memikirkannya lagi untuk menjawab permintaan besan. Saya tidak akan ikut campur atas keinginan Farhan. Kalau Farhan ingin rujuk saya tidak bisa mencegah. Begitupun jika Farhan ingin bercerai." Ungkap pak Haji Zenal pada keluarga Nisa mewakili Farhan yang masih diam tak bisa menjawab langsung.
"Maaf besan. Saya bukannya egois. Saya buruh kepastian secepatnya. Karena disini saya pihak perempuan merasa dirugikan atas tuduhan nak Farhan pada Nisa yang tidak berdasarkan bukti nyata. Kalau Nisa terbukti tidak bersalah kenapa nak Farhan tak mau mencabut talaknya dan langsung rujuk sekarang juga?" Ayahnya Nisa tak mau menunggu. Dia tak ingin Nisa bercerai dengan Farhan. Saat ini mereka sungguh telah memberikan bukti agar anaknya tidak dianggap salah.
"Maaf yah... mah... Farhan sepertinya tidak bisa mencabut talak Farhan pada Nisa. Meski ayah bersama mama sudah memberikan bukti ini. Maaf kalau keputusan Farhan sama sekali tidak diharapkan." Entahlah hati Farhan tak bisa memberi kesempatan pada keluarga Nisa untuk kembali rujuk meski mereka memberikan bukti tertulis. Farhan merasa ragu akan kebenaran surat itu. Meski surat itu benar, tapi hati Farhan entah kenapa tidak bisa kembali pada Nisa.
"Oh.. jadi nak Farhan sengaja ingin mencari-cari alasan untuk bercerai dengan Nisa dan mempermalukan keluarga kami seperti ini? Maaf nak Farhan. Kami juga punya harga diri. Kami juga tak ingin sebenarnya mengemis pada keluarga pak Haji. Kalau bukan Nisa yang meminta kami tidak mau datang kesini sebenarnya. Nisa sangat mencintai nak Farhan. Dan kami tak bisa berbuat apa-apa karena Nisa anak kami satu-satunya. Kami tak ingin anak kami menderita dengan menjanda dan dengan tuduhan yang tidak benar." Bela Ayahnya Nisa.
Pak Haji Zenal mengehela nafas kasar. Ada beban yang besar di dadanya sekarang. Masalah Farhan kenapa menjadi rumit. Pak Haji Zenal menoleh kembali pada Farhan. Lalu melihat ke arah keluarga Nisa satu persatu.
Pak Haji Zenal pun merasa ragu. Kenapa ketika melihat mata mereka seperti ada kebohongan yang sedang mereka simpan. Meski itu hanya baru pandangannya semata, pak Haji Zenal ingin bersuudzon. Dia harus melakukan istikharah untuk meminta bantuan yang diatas agar dimantapkan dan dibukakan kebenaran masalah anaknya ini.
__ADS_1
"Maaf besan. Seperti Farhan perlu istikharah. Dia tak bisa mengambil keputusan secepatnya. Kita para orang tua harus pasrah jika memang nasib anak kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan." Pak Haji Zenal selaku orang tau akhirnya harus menengahi masalah agar tidak terjadi konflik panjang.