
Nisa berlari menuju toilet dengan setengah berlari. Rasa mual dari perutnya serasa diaduk begitu mencium bau masakan di atas meja.
"Apakah Nisa sedang sakit?" Tanya pak Haji Zenal pada calon besannya.
"Iya. Mungkin masuk angin. Beberapa hari ini lambungnya juga agak sakit. Jadi kurang berselera." Ucap jeng Reni menerangkan kondisi Nisa.
"Waduh.. maaf saya tidak tahu. Harusnya kita ke sana, bukannya malah saya yang meminta datang ya?" Bu Haji Zenal terlihat merasa bersalah.
"Ah tidak apa-apa. Kasihan kan bang Farhan nya sibuk. Biar kami saja yang bersilaturahmi ke sini. Kami sudah lama juga tidak berkunjung." Ucap Jeng Reni.
"Mbak Nisa mau saya bawakan kayu putih?" Sani yang menunggu di depan pintu toilet merasa kasihan melihat Nisa memuntahkan apa yang ada dalam perutnya terlihat kepayahan.
Nisa hanya mengangguk lemah. Sani segera ke kamar bi Inah mengambil kayu putih untuk menggosok tengkuk Nisa.
Orang-orang yang ada di ruang tamu menatap heran Nisa yang agak pucat setelah dari toilet.
"Sani.. tolong bikinkan teh manis!" Perintah bu Haji Zenal pada Sani.
"Baik bu haji." Sani langsung ke dapur membuatkan teh manis hangat untuk Nisa.
"Itu siapa bu Haji? Saya baru melihatnya." Jeng Reni menautkan kedua alisnya melihat orang asing yang baru dilihatnya di rumah bu Haji Zenal.
"Itu.. Sani. Kasihan dia korban tabrak lari. Kemarin pak Karim menitipkan di sini." Jawab bu Haji Zenal jujur.
"Oh.. dikira pembantu baru." Mata jeng Reni agak mendelik.
Farhan menoleh ke arah jeng Reni. Dia kurang suka dengan nada bicara sang calon mertuanya yang menganggap rendah orang lain. Itu menjadi catatan bagi Farhan tentang sikap keluarga Nisa.
Ada baiknya juga keluarga Nisa diundang ke rumahnya. Jadi sedikit demi sedikit Farhan bisa mengetahui sikap mereka yang sebenarnya.
Ada pepatah, 'Jika kamu ingin mengetahui kebaikan seseorang, maka ajaklah dia untuk bepergian, lalu ajaklah menginap dan ajaklah mereka berbisnis. Kamu akan melihat karakter seseorang dengan jelas ketika mereka melakukan ketiga hal itu.'
__ADS_1
"Neng Sani.. kenapa dengan calonnya den Farhan?" Bi Inah berbisik begitu Sani datang ke dapur.
"Mungkin masuk angin bi." Ucap Sani pada bi Inah tanpa ada prasangka buruk sedikitpun.
"Apa tidak hamil?" Bi Inah mengerutkan dahi.
"Ish.. bibi. Jangan suudzon gitu! Bagaimana kalau kedengaran sama bu Haji?" Sani langsung melihat ke arah pintu dapur takut suara bi Inah terdengar.
"Soalnya bibi perhatikan, tadi pas di depan dia kan tidak apa-apa. Eh pas lihat makanan di atas meja dia langsung membekap mulutnya. Seperti mencium bau tak sedap dari wanginya bumbu masakan." Bi Inah yang kepo, sejak tadi penasaran ingin melihat calonnya Farhan. Makanya dia begitu detail memperhatikan Nisa.
"Ah.. bibi. Istighfar. Nanti kalau salah jadi dosa." Sani langsung membawa nampan ke ruang makan dan memberikan gelas berisi teh manis hangat tepat di depan Nisa.
"Terimakasih." Ucap Nisa pada Sani.
"Sama-sama." Sani berlalu ke belakang.
Tanda disadari sepasang netra dari tadi mengawasi gerak-gerik Sani walau sambil menundukkan pandangan. Ada rasa yang bertentangan yang dia rasakan saat ini. Tapi dia tak kuasa menolak apalagi membantah perintah kedua orangtuanya. Itu yang sekarang Farhan rasakan.
"Apa mau diantar ke dokter saja Nis? Biar bang Farhan antarkan." Ucap Bu Haji Zenal merasa khawatir pada kesehatan Nisa. Otomatis Farhan mengangkat wajahnya melihat Nisa. Khawatir kalau memang Nisa betul-betul sakit.
"Ah.. tidak bu Haji. Saya hanya agak sedikit pusing saja. Ini sudah agak baikan kok. Cuman agak sedikit mual saja." Tolak Nisa tidak mau dibawa ke dokter.
"Temani Nisa Far.. mungkin kalian mau ngobrol di depan!" Bu Haji berinisiatif untuk mendekatkan keduanya.
Deg
Farhan agak kaget mendengar ibunya menyuruh menemani Nisa di ruang tamu.
Duh Umi.. kenapa harus sih?
Farhan hanya bicara dalam hati. Mana mungkin dia menolak perintah kedua orang tuanya. Kalaulah ada yang mendengar kata hatinya ingin sekali dia melantangkan protes bahwa dia tidak nyaman berduaan dengan Nisa. Apalagi penampilan Nisa yang tidak memakai kerudung juga agak seksi, itu betul-betul bukan tipe Farhan banget.
__ADS_1
"Baik mi." Farhan berdiri berjalan beriringan dengan Nisa. Mereka duduk di ruang tamu. Farhan memilih duduk berjauhan dengan Nisa.
Nisa tersenyum senang. Dia merasa beruntung sakitnya kali ini memberi kesempatan untuk bisa berdua dengan Farhan. Wanita mana sih yang tidak menyukai Farhan? Selain wajahnya yang tampan dia juga laki-laki yang sopan juga mapan.
Ruangan itu hening. Farhan bingung harus memulai pembicaraan. Idenya seakan habis dan pikirannya pun buntu.
"Bang Farhan kerja di Singapura sudah lama?" Nisa memulai pembicaraan, karena Farhan tak juga bicara.
"Baru dua tahun." Jawab Farhan.
"Kalau dek Nisa sendiri baru lulus kuliah?" Farhan akhirnya memberanikan diri setelah Nisa memulainya.
"Iya bang. Baru lulus tahun ini. Kemarin sudah melamar, tapi belum ada panggilan. Tapi mamah malah menyarankan untuk menikah dulu. Agar Nisa ada yang menjaga." Nisa seperti menemukan celah untuk mengungkapkan keinginannya untuk segera menikah.
"Abang sendiri bagaimana?" Nisa memancing Farhan.
"Mmm apa ya?" Farhan malah menggaruk kepala yang tidak gatal. Bingung harus bicara apa.
"Saya lihat abang sudah matang. Apa abang sudah punya calon?" Nisa penasaran ingin mendengar langsung jawaban Farhan. Kalau menurut kabar yang didengarnya sih Farhan belum mempunyai calon. Makanya bu Haji berani menjodohkan Farhan.
"Mmm untuk saat ini sedang fokus bisnis." Farhan tak ingin terpeleset lidah.
"Oh.. jadi abang belum berencana menikah dalam waktu dekat ini?" Nisa kembali melancarkan misinya.
"Bukan begitu sih. Tapi belum menemukan yang cocok." Farhan bicara terus terang. Karena dengan penampilan Farhan juga lingkungan sosialnya yang luas mana mungkin tidak ada wanita yang tidak menyukai sekelas Farhan. Bahkan Nisa saja yang baru bertemu langsung merasa suka pada Farhan.
"Kalau cocok sih.. harus dicoba bang. Ibarat kunci dengan pintunya. Kita tidak tahu apa kunci itu pas atau tidak kalau kita tidak mencoba. Apa abang tidak mau mencoba?" Pertanyaan yang menohok.
"Apa?" Farhan gelagapan.
"Iya.. mamah sama papah Nisa ingin hubungan kita serius bang. Kalau tidak dicoba bagaimana kita mau cocok. Tapi saya lihat bang Farhan orangnya pemalu ya?" Nisa yang sudah berpengalaman putus sambung dengan banyak laki-laki mudah sekali menebak Farhan. Walaupun usia Farhan dan Nisa ada jarak. Tapi Nisa terlihat berpengalaman.
__ADS_1