Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
12


__ADS_3

"Ini gadis yang kamu bawa dari sana?" Rose menilik dari atas sampai bawah.


Lumayan cantik. Tidak bikin malu!


Rose hanya bergumam dalam hatinya.


Rei mendengus kesal atas kekecewaan yang dilakukan mamah Banyu padanya. Dia mengerahkan orang bayaran untuk menghabisi tempat itu setelah dia berangkat ke Singapura.


"Bawa dia ke kamar yang telah disediakan!" Perintah Rose pada kepala pelayanan yang ada di rumahnya.


"Baik nyonya! Akan saya antarakan. Mari nona Dina!" Kepala pelayan mengantarkan ke sebuah kamar yang sudah disediakan Rose. Kamar yang cukup besar dengan interior yang begitu bagus.


"Wah besarnya.. " Dina berdecak kagum dengan semua yang ada di kamar itu. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa dia akan sampai ke tempat ini. "Tapi sebagai apa ya?" Dina bergumam sendiri. "Tapi tak mengapa, dibandingkan aku harus hidup di tempat itu dan melayani banyak laki-laki. Mending aku melayani satu laki-laki saja. Walau kemarin nampaknya laki-laki yang bernama Rei kecewa padaku."


Dina melemparkan tubuhnya di kasur King size berlapiskan sprei indah warna merah marun. Terlihat elegan. Matanya menatap langit-langit kamar itu. "Dia tampan dan sungguh mempesona. Belum pernah aku melihat laki-laki setampan itu kalau bukan artis sinetron atau model. luar negeri. Ah..aku sungguh beruntung. Nasibku sedang berpihak. Dia mempunyai aura begitu kuat dan.. oh my god.. sentuhan dia bikin aku gak tahan." Dia menutup wajahnya masih malu membayangkan pergulatannya dengan Rei. Sementara Dina masih mesum-mesum membayangkan Rei di tempat lain Rei masih malas melakukan pekerjaan.


"Kamu mau makan atau mau mandi dulu?" Rose memperhatikan Rei sejak kedatangannya masih saja duduk termenung di atas sofa yang ada di ruang kerjanya.


"Bagaimana keadaan papa ma? Mama sudah berangkat ke rumah sakit?" Rei malah bertanya tentang ayah tirinya.


"Belum. Mama malah masih bingung Rei." Rose malah menangkup dagu sedang memikirkan banyak hal.


"Ya ampun ma! Bukannya mama ngambil hati papa kalau lagi kaya gini. Ini malah diem aja di rumah. Mama gimana sih?" Rei bangkit dari sofa lalu berjalan menuju lantai dua dimana kamar Rei berada.

__ADS_1


Rei membersihkan dirinya lalu berganti pakaian. Dia turun ke lantai 1 lalu berjalan menuju kamar Dina tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Brak


Rei melihat yang sedang terlentang di kasur menikmati tidur siangnya.


"Dasar penipu pemalas! Masih bisa-bisanya bersantai." Rei langsung berjalan membuka lemari baju memeriksa baju-baju yang tergantung dalam lemari yang sudah Rose siapkan.


Dina yang terkejut melihat Rei langsung duduk di tepian kasur sambil mengerjap-ngerjap matanya mengumpulkan kesadarannya.


"Pakai ini! Kamu mandi sekarang juga! Tugas kamu bukan untuk berleha-leha disini. Rei memilihkan baju untuk Dina pakai lalu melemparnya tepat di wajahnya. Dina tidak merasa tersinggung karena dia sebelumnya sering mendapatkan perlakuan kasar dari keluarganya juga para tamu mamah Banyu. Jadi ini sudah seperti makanan yang biasa dia santap.


Lagi-lagi Dina merasa beruntung Rei masih mau memberikan baju ganti juga tempat tinggal untuknya walaupun belum ada kejelasan apa statusnya.


Kepala pelayan yang bernama tuan Luw langsung menghampiri Rei dengan wajah ketakutan.


"Dandani dia setelah beres mandi. Aku akan membawanya pada tuan besar." Rei berlalu setelah memberikan perintah.


Tuan Luw yang sudah lama mengabdi pada tuan Tedi sudah tahu kebiasaan masing-masing majikannya. Tanpa menunggu lama tuan Luw menyiapkan kamar mandi dan seperangkat alat mandi juga handuk mandi untuk Dina. Dia melayani sepenuh hati tidak memandang siapa yang dilayaninya. Apa yang diperintahkan majikan mudanya tuan Luw langsung laksanakan ibarat robot berjalan.


"Silahkan nona! Kalau ingin aman ikuti saja kemauan tuan muda dan majikan yang ada di rumah ini. Jangan pernah menyela ataupun melawan jika kamu ingin selamat!" Saran tuan Luw. Lalu dia berlalu mencari pelayan yang lain untuk membantu Dina berdandan.


Dina hanya mengangguk. Dia berjalan ke kamar mandi yang tersedia di kamar itu. Lagi-lagi Dina merasa takjub dengan besarnya kamar mandi dan segala yang ada di dalamnya

__ADS_1


Seumur hidupnya ini seperti mimpi. Dina langsung membuka pakaian lalu masuk ke dalam Bathtub merendam tubuhnya di dalam larutan air sabun dan wewangian. Dina seolah terhipnotis dengan aroma terapis yang ada dalam air itu membuat tubuhnya relax dan pikiran plong. Dina yang datang dari kampung yang belum pernah menginjakkan kakinya di rumah semewah ini menjadi terlena. Dia malah ketiduran di bathtub sampai suara teriakan Rei kembali menggema di seantero rumah besarnya membuat siapa saja bergidik.


"Dasar pemalas!!! Masih saja molor sedang mandi juga. Apa perlu aku menyeret tubuhmu itu! Benar-benar tidak berkelas." Rei membuka pintu kamar mandi dengan hentakan keras yang kebetulan tidak dikunci.


Dina langsung kaget. Dia benar-benar malu sudah ketiduran dalam bathtub padahal dia tadi pun sudah tertidur di atas ranjang besarnya. Dina yang kaget langsung mengangkat tubuhnya tanpa. sadar tubuhnya telanjang bulat lalu menyambar handuk kimono yang ada di dekat bathtub yang telah disediakan tun Luw tadi.


Rei yang melihat aksi polos Dina langsung menelan salivanya. Tak menyangka gadis itu begitu polos dan tak tahu malu.


"Kamu tidak membilas?" Rei yang kaget sekaligus merasa aneh melihat Dina langsung memakai handuk kimono tanpa membilas sabun juga tidak mengkeramas badan dan rambutnya yang masih menempel busa sabun.


Dina hanya melongo. Di tak tahu apa yang harus dilakukannya setelah tadi berdendam.


"Dasar kampungan! Gue jadi pusing!" Rei lalu menyeret tangan Dina langsung membawa ke shower.


"Buka handuknya gantung di sana!" Rei memerintah Dina dengan teriakan yang keras. Dina pun membuka handuknya lalu kembali bertelanjang bulat di depan Rei.


Mata Rei yang normal kembali melihat tontonan yang dia sukai dengan gratis.


"Dasar bodoh! Kamu buka kran ini lalu tekan bagian ini. Jika selesai lakukan seperti kebalikannya. Jangan lupa keramas yang bersih!" Rei memberi petunjuk pada Dina. Dina hanya mengangguk polos mendengar penjelasan Rei mengenai penggunaan Shower mandi. Dina yang dari kampung tidak tahu sama sekali cara mengoperasikan alat-alat mewah seperti ini. Bahkan melihatnya pun baru kali ini.


"Benar-benar menyusahkan. Sudah bodoh! Kampungan lagi! Gerutu Rei masih terdengar di telinga Dina. Tapi lagi-lagi Dina tak mengambil hati.


Dina langsung membilas tubuhnya dan mengkeramas rambutnya. Dia segera menyelesaikannya dengan cepat takut Rei kembali marah.

__ADS_1


Setelah beres mandi ada pelayan yang sudah menunggu untuk mendandani Dina di kamarnya.


__ADS_2