
"Kamu gak masuk ke dalam? Sudah mau magrib." Indra mengingatkan Sani yang masih duduk di teras.
"Aku mau pinjam mukena. Punya adikmu terlalu sempit. Sekalian mau pinjam kerudung." Sani sebenarnya malu mau banyak meminta.
"Kamu aslinya pakai kerudung?" Indra merasa aneh. Karena sejak awal kedatangan Sani dia tak melihat Sani memakai kerudung. Bahkan cenderung memakai baju terbuka.
"Iya saya pakai kerudung sehari-hari. Karena kemarin saya dipaksa memakai baju itu. Saya juga malu membuka aurat." Sani tertunduk malu.
"Ya sudah nanti saya pinjamkan punya ibu. Indra masuk ke dalam lalu tak lama kemudian membawa daster ala emak-emak dan satu kerudung yang warnanya sudah lusuh.
"Maaf. Kalau kurang bagus!" Indra memberikan barang itu pada Sani.
"Tak apa. Yang penting masih layak pakai. Terimakasih!" Sani masuk ke dalam hendak mengganti bajunya dengan baju pemberian Indra.
Sani masuk ke dalam setelah bertayamum terlebih dahulu untuk menghindari luka. Lalu shalat dengan memakai daster dan kerudung dan di sambung dengan kain sarung yang ada di kamar adiknya Indra.
Setelah shalat magrib Sani menselonjorkan kakinya. Dia mengamati seluruh isi kamar lalu matanya menangkap satu mushaf yang sudah cukup jadul. Sani mengambilnya lalu membuka halaman pertama dan mulai membaca surah Al-Fatihah.
Suaranya yang merdu menarik perhatian penghuni rumah. Adiknya Indra lalu melongok dari balik pintu dengan malu-malu mereka mengintip Sani yang sedang membaca Al-Quran.
Dari ujung kelopak matanya Sani melihat bocil-bocil itu mengintip lalu Sani menghentikan bacaannya.
"Sini. Mau kakak ajarin?" Sani menawarkan diri untuk mengajarkan mereka membaca Al-Quran.
Mereka dengan malu-malu berjalan mendekati Sani lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu punya iqra tidak?" Sani bertanya pada bocil-bocil lucu dan imut itu.
"Ada." Lalu Mira membawa iqra yang dia punya menyodorkan pada Sani.
"Ayo siapa dulu yang mau baca?" Sani melihat satu persatu tiga bocah yang ada di depannya.
"Kak mira dulu paling gede. Fadil yang nama lengkapnya Nur Fadilah Nisa sebagai adik terkecil malah menyuruh kakaknya untuk duluan membaca.
"Gak pa-pa siapa akan yang mau duluan pahalanya lebih utama." Rayu Sani seperti dulu guru ngajinya mengajarkan.
"Aku dulu aja kak Sani, Sara maju duluan." Sara terlihat lebih percaya diri dibanding dua saudaranya.
"Baik. Ayo buka iqronya! Kakak pengen lihat sudah mana pencapaian mengajinya?" Sani memperhatikan Sara membuka halaman.
"Oh sudah iqra 3 ya? Ya kita baca taawudz dulu ya sebelum membaca Al-Quran setelah itu baru baca basmalah. Yuk baca bareng-bareng!" Ajak Sani pada Sara.
"Sudah ya sekarang giliran yang lain. Ayo siapa yang mau maju?" Sani melihat Mira dan Fadil.
"Mira maju!" Karena dari kedua orang itu tak ada yang maju akhirnya Sani menunjuk Mira. Mira pun menurut maju ke hadapan Sani. Lalu membuka Iqra jilid 4 nya. Dimulai dengan membaca taawudz dan basmalah.
"Alhamdulillah Mira ngajinya sudah lancar." Puji Sani untuk memotivasi Mira yang agak kurang percaya diri.
"Ayo Fadil!" Sani menyuruh Fadil maju. Fadil pun maju lalu membuka halaman yang baru saja jilid 1.
"Ayo baca taawudz dulu sama basmalah!" Sani kompak membaca taawudz dan basmalah bersama-sama dengan Fadil. Lalu menyimak bacaan Fadil dan sesekali Sani membetulkan bacaan Fadil yang masih kurang lancar.
__ADS_1
"Alhamdulillah semuanya sudah beres. Besok jangan lupa ya mengaji lagi sama kak Sani!"
"Kak Sani masih lama tinggal disini?" Sara menanyakan keberadaan Sani yang menumpang di rumah nya.
"Kakak menunggu luka kakak sembuh dulu. Mungkin kalau sudah sembuh kakak mau mencari tempat tinggal." Jawab Sani yang masih ragu untuk merencanakan ke depannya.
"Ah.. kakak tinggal aja disini!" Sara terlihat kecewa mendengar Sani akan pindah.
"Kasian kan ibu sama bapak kalian. Jadi terganggu dengan datangnya kakak disini."
"Ah tidak kak! Kami senang kakak tinggal disini. Bisa mengajar kami mengaji. Kayanya teman-teman kalau diajak mengaji di rumah kita bakal banyak yang mau kak Sani. Soalnya dulu pernah ada guru ngaji di sini tapi sekarang sudah pindah. Jadi kami sudah lama tidak mengaji kak. Karena tidak ada guru mengaji disini."
"Oh begitu!? Disini ada madrasah atau mesjid tidak?" Sani bertanya pada Sara.
"Ada kak. Tapi jarang ada yang mengaji. Yang shalat juga kadang hanya beberapa orang saja. Kalau kak Sani mau nanti Sara antar ke sana." Sara menawarkan dirinya untuk mengantarkan Sani melihat mesjid di area terdekat dari rumahnya.
"Oh iya. Nanti ya kalau kakak sudah punya baju agak bagusan. Soalnya malu kakak belum punya baju yang menutup aurat dengan baik." Sani merasa malu kalau datang ke tempat yang tadi ditunjukkan Sara dengan pakaian daster yang tak layak pakai dan kerudung yang biasa dipakai di rumah.
"Oh iya kak. Kapan kakak mau, nanti Sara antar kak Sani ke sana." Sara berbaik hati mau mengantarkan Sani ke mesjid. Kebaikannya pasti menurun dari pak Karim.
"Alhamdulillah sudah adzan isya. Kak Sani sholat dulu ya! Kalian mau sholat juga?" Mereka mengangguk serempak.
"Baiklah kakak shalatnya sambil duduk di kursi karena kaki kakak belum bisa di tekuk. Kalian boleh berjamaah dengan kakak. Tapi gerakan kalian normal aja ya!" Sani mengarahkan ketiga bocil-bocil itu dengan gerakan shalat isya jika dilakukan normal. Dan Sani menerangkan jika shalat dilakukan dengan duduk. Mereka mengangguk mengerti dengan keterangan Sani. Ketiganya memakai mukena setelah melakukan wudlu terlebih dahulu. Lalu iqomah tanda siapnya berjamaah dimulai. Sani pun memimpin shalat isya berjamaah.
Di luar kamar istrinya pak Karim diam-diam mencuri-curi dengar apa yang diajarkan Sani. Hatinya agak salut mendengar penerangan Sani yang masih muda tapi fasih menerangkan shalat dan mengaji. Ditambah suaranya yang merdu ketika melantunkan bacaan Al-Quran. Sejenak dia terdiam. Seumuran dia saja dia belum paham banyak tentang agama. Ditambah bacaan Quran nya saja masih terbata-bata. Dia merasa malu sendiri.
__ADS_1
Sementara itu Rei sudah sampai Singapura dengan membawa gadis pengganti yang bernama Dina. Gadis itu tak banyak bicara ataupun memberontak. Dia hanya mengikuti perintah dari Rei. Sebagai gadis penghibur dia merasa beruntung bisa keluar dari mamah Banyu. Setelah keperawanannya diambil paksa oleh putranya mamah Banyu bernama Herman tanpa sepengetahuan mamah Banyu. Dina berharap ini hidup barunya.