Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Pilihan


__ADS_3

"Far.. kamu tidak pergi ke rumah sakit? Kata bang Reza istrimu sakit." Pak Haji Zenal menegur Farhan yang masih duduk terdiam di ruang keluarga setelah tamu mulai sepi.


"Menurut abah, Farhan mesti ke sana? Atau menemani abah disini?" Tanya Farhan dengan pandangan kosong seperti kehilangan arah setelah ditinggalkan ibunya.


"Farhan.. istrimu lebih berhak atas dirimu sekarang. Yang pergi kita ikhlaskan! Biarkan yang hidup melanjutkan hidupnya dan melakukan kewajibannya." Ucap pak Haji Zenal mengelus bahu Farhan. Meski dia pun berat ditinggalkan oleh istrinya tercinta, tapi dia harus belajar mengikhlaskannya.


"Baik bah. Tapi... Farhan ingin diantar bang Reza, bolehkan bah?" Farhan yang merasa dirinya rapuh tak ingin pergi ke rumah sakit sendirian. Dia ingin ada teman bicara.


"Pergilah! Nanti biar sopir yang mengantarkan mu sampai rumah sakit. Abagmu juga mempunyai kewajiban pada istrinya. Mulai malam ini kita berkumpul disini dulu agar kita bisa saling menguatkan keadaan." Ucap pak Haji Zenal yang lebih nyaman jika putranya untuk sementara tinggal di rumahnya, agar bisa saling memberikan semangat dan dukungan paska ditinggalkan istrinya.


"Baik bah. Aku akan minta bang Supri mengantarkan Farhan. Farhan agak tidak fokus jadi tidak bisa menyetir ke rumah sakit." Farhan tak mau di saat ini jatuh sakit. Yang nantinya akan membebani keluarganya.


"Pergilah mumpung belum terlalu malam. Bawalah makanan untuk jaga-jaga di sana. Sayang makanan banyak melimpah tidak termakan nantinya mubazir." Ucap pak Haji Zenal tak mau putra bungsunya mengosongkan perutnya karena banyak berpikir.


"Iya bah." Farhan mengangguk patuh.


"Bi Inah.. " Panggil pak Haji.


"Iya Pak Haji." Bi Inah segera menghampiri majikannya.


"Bungkus kan beberapa makanan untuk dibawa Farhan ke rumah sakit. Malam ini Farhan akan jaga di rumah sakit menunggu Nisa." Ucap pak Haji Zenal.


"Baik Pak Haji." Inah langsung membungkus beberapa makanan dan memasukannya ke dalam dus untuk perbekalan Farhan


"Bah.. Farhan pergi dulu!" Ucap Farhan sambil mencium punggung tangan pak Haji Zenal penuh hormat.


"Iya hati-hati ya! Salam abah buat besan dan Nisa. Mohon maaf jika abah belum bisa menengoknya." Ucap pak Haji Zenal masih bisa memikirkan menantunya.


"Baik bah. Assalamu'alaikum." Ucap Farhan meninggalkan rumahnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab pak Haji Zenal melihat punggung Farhan yang semakin menjauh lalu tak lama kemudian terdengar mobil melaju keluar garasi.

__ADS_1


"Bah.. Farhan kemana?" Reza yang baru beres shalat isya menghampiri pak Haji Zenal. Sejak kedatangan tamu yang terus menerus, Reza jadi menunda waktu shalat isya sampai tamu sepi.


"Ke rumah sakit." Jawab pak Haji Zenal.


"Oh. iya bah.. apa Farhan ada cerita sama abah?' Reza penasaran apakah Farhan bercerita pada ayahnya atau tidak.


"Mmm.. cerita apa?" Pak Haji mengerutkan dahi.


Reza terdiam berarti hanya pada dirinya saja Farhan mengungkapkan bahwa dirinya ingin bercerai.


"Ya seputar Nisa mungkin?" Tanya Reza.


"Ya cuman mengatakan Nisa sakit anemia saja. Tak lebih. Memangnya ada apa bang?" Penasaran pak Haji pada Reza.


"Oh.. ya udah ga pa-pa. Cuman itu saja bah." Reza tidak mau mendahului Farhan. Mungkin saja mereka rujuk.


Reza berlalu menuju kamarnya yang dahulu pernah ditempatinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Sarah menoleh pada suaminya. Hari ini dia melihat wajah suaminya seperti kusut tidak bersemangat. Dia ingin menghibur suaminya dengan cara dia berdandan seksi. Sarah mendekati suaminya yang sedang duduk di tepian kasur dengan tatapan kosong.


"Bang.. " Sarah mengelus bahu suaminya dengan halus.


"Mmm... Reza menoleh ke samping. Matanya sedikit menyipit. Hidungnya mencium parfum yang lumayan kuat dari istrinya.


"Abang mau dipijitin? Sepertinya abang kelelahan." Ucap Sarah menawarkan untuk memijat suaminya dengan suara merdu nan menggoda.


Reza seperti terkesima melihat penampilan istrinya malam ini yang memperlihatkan belahan dadanya dengan jelas. Baju tidur bertali kecil dengan belahan dada yang panjang membuat dada istrinya terekspos jelas.


"Mmm... boleh. Tapi abang ingin dipijat dibagian lain boleh?" Pintanya pada Sarah.


"Boleh bang. Di sebelah mana?" Tanya Sarah.

__ADS_1


"Disebelah sini sayang... " Tangan Reza menuntun ke bagian pedang pusakanya. Sejak mencium wangi parfum istrinya, pedang pusakanya langsung bereaksi.


"Mmm.. baik bang." Sarah tersenyum manis. Suaminya ternyata mudah takluk. Berharap suaminya melupakan kesedihannya sejenak. Dia sekarang sedang mengikuti keinginan suaminya.


"Ahh.. sayang..." Reza menikmati pijatan halus Sarah. Dia langsung men***" bibir Sarah. dilepaskan tangan Sarah dari pedang pusakanya. Dia membaringkan istrinya di ranjang.


"Malam ini kamu cantik sekali sayang... " Reza mulai diserang kabut hasrat dia menanggalkan pakaiannya dan mulai mencumbu istrinya.


Sepersekian detik mereka sudah menikmati langit-langit yang membawanya ke surga dunia. Mereka saling melepaskan apa yang ada dalam hatinya lewat sentuhan-sentuhan. Reza sangat menikmati pelayanan istrinya malam ini. Pikirannya yang sedang bersedih sejenak teralihkan dengan permainan istrinya yang lebih mendominasi.


Malam ini dilewatkan dengan malam yang panas. Keduanya kembali terhempas ke bumi dengan berjuta rasa bahagia. Kini mereka saling berpelukan di bawah selimut. Reza menciumi Sarah dengan penuh kasih.


"Terima kasih sayang. Mari kita tidur!" Reza membawa kepala Sarah untuk tidur di atas dadanya yang bidang.


"Mmm" Sarah tersenyum senang sambil mendongak melihat wajah tampan suaminya yang semakin dewasa.


Cup


Reza mengecup kening istrinya sebagai penutup kegiatan intim suami istri. Mereka pun terlelap dalam mimpi indah.


Sementara itu di lain tempat tepatnya di ruangan dimana Nisa sedang dirawat. Ibunya Nisa, Jeng Reni dan suaminya sedang menginterogasi anak semata wayangnya.


"Nisa.. coba katakan sama ayah, siapa yang telah menyentuh kamu? Ayah dan ibu tak bisa melindungi kamu lagi jika kamu tidak jujur." Ucap ayahnya Nisa yang telah mengetahui bahwa anaknya sudah dikuret karena keguguran. Tak mungkin kalau bayi dalam kandungan Nisa adalah anak dari Farhan mengingat usia kandungannya lebih besar.


Nisa hanya bisa menangis dari tadi. Air matanya meleleh begitu kedua orang tuanya mengetahui bahwa dia hamil sebelum menikah.


"Jawab Nisa!" Ayahnya meninggikan volume. Meski memang tidak sampai terdengar ke luar ruangan.


"Aku tak bisa mengatakannya ayah. Aku tak mau kehilangan bang Farhan." Jawab Nisa pada ayahnya. Meski dia melakukan hubungan gelap dengan laki-laki lain, Nisa tetap hanya ingin menikah dengan Farhan yang notabene dia laki-laki matang, juga baik. Berbeda dengan Ridlo yang masih kuliah dan masa depannya belum jelas.


"Ayah tak bisa diam dengan laki-laki yang telah merusakmu Nisa. Bagaimana kalau Farhan tahu apa yang sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2