Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Harap dan sesal


__ADS_3

Mobil yang menguntit pun seperti mengurungkan niat untuk membuntuti mobil yang sedang dikendarai Farhan setelah mobilnya masuk ke pos polisi.


Farhan pun agak tenang setelah berada di pos polisi dan melaporkan kejadian yang baru saja menimpanya. Memang di daerah sekitar pantura sering terjadi perampokan jika jalanan terlihat sepi.


Setelah melapor, mereka memutuskan untuk beristirahat sampai shalat subuh dilaksanakan agar tenang melakukan perjalanan.


Setelah ketiganya menunaikan shalat subuh, Farhan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta agar bisa cepat sampai rumah. Rasanya lelah dan cukup menegangkan setelah kejar-kejaran dengan penguntit. Polisi bersedia mengawal sampai pos berikutnya untuk menghindari hal-hal tak diinginkan.


Mang Supri kini menggantikan Farhan menyetir. Farhan duduk di samping mang Supri sedangkan Sani duduk di belakang, tepatnya di bangku ke dua.


"Den Farhan mau istirahat?" Tanya mang Supri menawari majikannya untuk mengisi perutnya. Kebetulan rest area sudah ada di depan mata.


"Boleh mang. Kita sarapan dulu ya!" Jawab Farhan menyetujui ajakan mang Supri.


"Baik." Mang Supri segera berbelok ke arah rest area.


"Ayo Sani! Kamu mau sarapan apa?" Farhan menawari Sani.


"Apa saja mas." Sani tidak banyak permintaan. Sudah ditawari saja sudah bersyukur.


"Bagaimana kalau sarapan bubur saja?" Ajak Farhan yang kebetulan melihat kedai bubur yang tak jauh dari area parkir.

__ADS_1


"Baik mas." Jawab Sani tidak menolak.


"Mang Supri mau apa?" Sekarang giliran Farhan menawari mang Supri.


"Ikut saja den.. apa saja juga mang Supri mah suka." Begitupun mang Supri, dia tidak menolak ajakan sang majikan. Untung nya dalam masalah makanan mang Supri pun tak pemilih.


Ketiganya masuk kedai bubur ayam yang berada di rest area dan memesan 3 porsi untuk mereka santap sebagai sarapan.


"Den Farhan..mang Supri mau nanya, sebenarnya den Farhan datang ke kampung neng Sani itu ada apa? Kok den Farhan bela-belain datang ke sana, padahal kampung itu lumayan berbahaya kalau menurut mang Supri." Mang Supri penasaran dengan maksud kedatangan majikannya datang ke kampung Sani. Ini kesempatan mang Supri menuntaskan kepenasaranan nya. Kebetulan Sani duduk terpisah sedangkan Farhan dan mang Supri satu meja saling berhadapan. Jadi obrolan mereka tidak terdengar oleh Sani.


"Ya.. saya harus minta izin walinya mang. Kan Sani mau dibawa ke Singapura sama saya. Bagaimana kalau walinya nanti tidak mengizinkan, kan nanti saya bisa dituntut." Jawab Farhan sambil berbisik khawatir Sani mendengar pembicaraan nya.


"Oh.. tapi kenapa dibawa ke sana den. Kan aden sudah menikah? Kenapa tidak neng Nisa yang dibawa ke sana?" Mang Supri mendadak kepo. dengan urusan majikannya.


"Oh.. begitu." Mang Supri hanya mengangguk-ngangguk meski masih banyak pertanyaan di benaknya, tapi dia tak mungkin bertanya banyak. Segitu juga untung majikannya tidak keberatan untuk menjawab.


"Mang Supri merasa kasihan sama neng Sani." Mang Supri melihat ke arah Sani yang sedang menikmati buburnya. Tatapan iba juga rasa kasihan mang Supri begitu tulus pada Sani, mengingat cerita Sani yang memilukan juga sudah dibuktikan sendiri kondisi sebenarnya yang belum tentu orang lain bisa menghadapi nya.


"Iya mang.. saya juga kasihan. Anaknya baik. Sayang kalau nasibnya harus jadi pelacur. Allah ternyata mempertemukan kita dengannya sebagai jalan untuk menolongnya." Farhan pun sama melihat Sani. Rasa iba juga takjub hadir bersamaan di hatinya. Karena belum tentu anak lain mampu menghadapi ujian seperti Sani. Bahkan Sani terbilang beruntung bisa menemukan orang yang bisa menolongnya. Mungkin di luar sana banyak anak-anak malang yang dijual keluarga nya untuk menjadi pelacur tanpa ada yang bisa menolongnya.


"Mudah-mudahan, nanti di sana neng Sani bisa menemukan jalan rejekinya juga orang yang menyayangi dengan tulus. Kalau di sini mang Supri malah khawatir, nanti dikejar mafia." Mang Supri ikut mendoakan keberhasilan untuk Sani. Hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang. Karena bukan tidak mau menolong Sani, karena kekuatan mang Supri sama-sama orang lemah. Dia hanya pekerja buruh dengan ekonomi pas-pas an.

__ADS_1


"Iya mang. Kita doakan saja!" Farhan meminta mang Supri membantunya dengan doa.


"Iya den. Tanpa diminta pun mang Supri selalu berdoa untuk aden sekeluarga dan juga buat neng Sani. Mang Supri hanya bisa berdoa den. Kalau harta mang Supri tidak punya." Mang Supri berkaca-kaca merasa terharu akan kebaikan majikannya yang mau membantu siapa saja yang dapat ditolongnya. Dia merasa beruntung hidup dan ditakdirkan bekerja dengan keluarga Farhan yang baik.


"Mari mang! Kalau makannya sudah selesai kita percepat perjalanan. Agar bisa segera sampai di Jakarta." Ajak Farhan sambil melihat jam tanga yang melingkar di pergelangannya.


"Baik den. Mang Supri sudah selesai." Mang Supr dan Farhan pun berdiri. Lalu menarik kursi untuk keluar dari kedai. Tak lupa Farhan membayar pada kasir pesanan 3 porsi buburnya sebelum meninggalkan tempat itu.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit. Ibunya Nisa sedang membereskan baju-baju Nisa ke dalam tas. Rencananya haru ini mereka akan pulang. Karena dokter sudah memperbolehkan Nisa untuk kembali ke rumah.


"Ma.. " Nisa memanggil ibunya.


Ibunya Nisa menoleh ke arah blangkar.


"Bang Farhan tak ada menghubungi?" Nisa berharap suaminya ada datang menjemput. Meski dia sudah mentalaknya, tapi Nisa masih menunggu laki-laki itu datang dan dia ingin meminta maaf, kalau bisa dia inginmenebus kesalahannya itu agar bisa kembali padanya.


Ibunya Nisa, Jeng Reni menggelengkan kepala lemah. Rasanya sangat sakit ketika melihat anaknya seperti ini nasibnya. Tadinya dengan perjodohan Nisa dengan Farhan dia berharap, anaknya bisa hidup senang dan bahagia. Tapi kenyataan malah anaknya sendiri yang merusak pernikahannya.


"Mama bisa teleponkan bang Farhan? Nisa pengen ketemu ma." Nisa tak kuasa meneteskan air mata. Kalau sudah begini, dia merasa menyesal telah mengabaikan laki-laki baik juga mapan tanpa celah kekurangan itu. Karena nafsu dan godaan syetan menghasutnya akhirnya semua keburukan nya terbongkar dengan cepat.


"Mama... malu Nis.. " Jeng Reni duduk lah sambil melamun. Ibu mana yang tak hancur hatinya melihat keadaan anaknya yang seperti itu. Anak semata wayang yang sangat disayanginya itu telah menghancurkan harapan juga masa depannya sendiri.

__ADS_1


"Nisa minta maaf ma... hik hik hik." Nisa menangis menyesali semua perbuatan nya.


Jeng Reni tertunduk. Dia merasa sangat kecewa dan juga sedih pada Nisa. Tapi dia tak bisa berbuat banyak selain pasrah pada keadaan. Harga dirinya kini sudah hancur lebur dipermalukan oleh anaknya sendiri.


__ADS_2