Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Penguntit


__ADS_3

"Berarti ayah kamu masih ada ya San? Yang tahu ayah kamu siapa aja kira-kira?" Tanya Farhan penasaran. Mungkin saja ayah Sani masih hidup dan bisa saja dia pun mencari keberadaan Sani. saat ini.


"Sani kurang tahu mas Farhan. Sepertinya ibu Sani dan mama Banyu yang tahu. Karena selama ini ibu Sani gak pernah cerita tentang ayah Sani, meski Sani sudah bertanya beberapa kali." Sani menghela nafas seperti menahan kecewa. Karena selama ini, ibunya Sani memang tidak buka mulut tentang siapa ayah Sani sebenarnya. Padahal Sani ingin sekali tahu siapa identitas ayahnya.


"Ya sabar aja ya San! Mudah-mudahan nanti bisa bertemu ayah kamu. Nama takdir tidak ada yang tahu. Kita tetap berdoa saja, semoga ayah kamu orang baik dan mau bertemu dengan kamu suatu saat nanti." Farhan menyemangati Sani agar tidak putus asa. Secara naluri manusia pastilah ada keinginan untuk mengetahui siapa orang tua kandungnya.


"Iya mas. Aamiin. Terimakasih atas doanya. Sani juga selalu berdoa, semoga Allah SWT selalu menjaganya di manapun dia berada. Meski sampai saat ini Sani belum bisa bertemu.Tapi bagi Allah SWT mudah untuk mempertemukan Sani suatu saat. Mungkin belum waktunya Sani bertemu kalau sekarang. Sani juga bingung mau mencarinya kemana." Sani seolah menerawang jauh ke depan membayangkan pertemuan dirinya dengan ayahnya nanti. Karena kalau sekarang Sani tidak bisa mencarinya. Selain tidak tahu, secara keuangan juga Sani tidak memadai.


Mata Farhan yang melihat Sani sesekali dari spion tengah, tersenyum. Dia tersenyum bahagia melihat wajah Sani senang. Dia bersyukur hidup dalam keadaan sempurna. Dilimpahi kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua. Di luar sana banyak orang yang berjuang sendirian dalam keadaan tertekan dan terancam. Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan?


Farhan melihat ke arah spion luar sebelah kanan kemudinya. Dia seperti mencurigai ada mobil yang mengikutinya. Terlihat mobil itu terlalu dekat jaraknya. Padahal jalanan depan luas dan cukup lenglang.


"San.. tolong bangunkan mang Supri. Coba lihat ke belakang seperti ada mobil yang menguntit kita. Mas mau ngebut untuk menghindari mereka." Ucap Farhan langsung menancap gas.


"Mang.. mang.. " Sani membalikkan badannya ke jok belakang membangunkan mang Supri.


Mang Supri menggeliat terbangun dari tidurnya.


"Mang coba lihat ke belakang! Ada mobil yang mengikuti kita kayanya." Ucap Farhan memberitahu mang Supri.


"Oh.. begitu ya den." Mang supri membalikkan badannya mengintip mobil yang berada di belakang. Dia seperti merapat meski Farhan sudah menancap gas.

__ADS_1


"Den.. sebaiknya kita cari pos polisi terdekat. Kita minta perlindungan pada polisi saja. Bahaya den kalau kita di jalan sepi kaya gini. Kita harus menaikkan kecepatan." Mang Supri pun melihat kecurigaan mobil yang berada di belakangnya yang seperti mengikuti mobil yang sedang dikendarai nya.


"San.. tolong searching kantor polisi terdekat. Dan coba hubungi mereka." Farhan menyuruh Sani membuka layanan goggle untuk mencari kantor polisi terdekat.


"Iya mas." Sani membuka handphone pemberian Farhan waktu itu dan mencari letak kantor polisi terdekat.


"Ada mas sekitar satu kiloan dari sekarang. Ada pos polisi." Ucap Sani sambil membuka goggle map agar bisa memantau jarak.


"Den dipercepat saja! Mang khawatir mereka menyalip." Ucap Mang Supri agak khawatir.


"Iya mang." Farhan menambah kecepatan untuk bisa segera sampai di kantor polisi terdekat.


Benar saja, mobil yang ada dibelakang sekarang sedang berusaha menyusul mobil yang sedang dikendarai Farhan. Kedua mobil itu seperti arena balap saja. Mobil yang belakang ingin menyalip tapi Farhan mengambil jalan agak tengah agar mobil di belakang kesulitan untuk menyusulnya.


Tak lama kemudian Farhan lampu neon box bertuliskan kantor polisi. Farhan mengurangi kecepatan dan membelokkan mobilnya masuk ke kantor polisi lalu berhenti.


"Alhamdulillah.. " Ketiganya kompak mengucapkan kata hamdalah begitu mobil sudah masuk di halaman kantor polisi. Farhan berhasil lepas dari mobil yang berada di belakangnya yang dicurigai menguntit. Dia mengambil nafas untuk menenangkan hatinya yang sempat deg-deg an.


"Bagaimana mang, mobil tadi?" Tanya Farhan pada mang Supri yang dari tadi mengawasi di belakang.


"Sepertinya dia ingin menyusul kita. Tapi pas aden belok ke kantor polisi mobil itu langsung membelesat pergi." Ucap Mang Supri memberitahu Farhan.

__ADS_1


"Ya sudah kita istirahat dulu di sini. Kita akan menunggu matahari pagi saja. Saya akan turun laporan mang. Mang Supri temani Sani saja di sini." Farhan turun dari mobilnya hendak memberikan laporan pada polisi.


"Baik den." Jawab mang Supri.


Farhan pun langsung turun dan melangkah masuk ke kantor polisi memberikan laporannya.


"Alhamdulillah kita selamat neng Sani. Mang Supri tadi deg-deg an takutnya mobil. kita dipepet." Mang Supri sempat sport jantung menyaksikan arena balapan antara mobil yang dikendarai oleh Farhan dan penguntit. Dia tak menyangka penguntit berani mengikutinya di tempat sepi. Mang Supri baru tahu sebahaya apa keadaan Sani. Pantesan saja Sani tak mau pulang kembali ke kampung halamannya. Kalau tidak nyawanya jadi taruhan. Kemanapun Sani pergi mereka akan mengejarnya.


"Iya mang. Alhamdulillah." Ucap Sani mengucap. syukur. Dia merasa beruntung sudah bisa selamat dari kejaran orang-orang yang mau mencelakainya. Sani merasa berhutang budi pada keluarga pak Haji Zenal yang sudah banyak membantunya. Apalagi pada Farhan yang sudah berkorban mau datang ke kampung halamannya meski dia tahu resiko yang diambilnya itu berbahaya dan bisa mengancam nyawanya.


"Mang baru tahu, kampung neng Sani itu mengerikan. Sampe begidik bulu kuduk mang." Mang Supri menggidikkan bahunya mengingat kejadian barusan.


"iya mang. Makanya saya tidak mau kembali juga. Banyak orang yang tidak selamat jika lari dari sana." Ucap Sani.


"Iya." Jawab Mang Supri.


Terlihat Farhan mendekati mobil kembali lalu masuk ke dalam.


"Mang.. mau istirahat di dalam kantor atau mau disini?" Tanya Farhan pada mang Supri.


"Ah disini saja den. Aden sudah beres laporannya?" Tanya mang Supri.

__ADS_1


"Sudah mang. Tadi kata polisi, memang dijalan itu sering ada perampokan kalau lagi sepi. Makanya jarang ada pengguna mobil yang berani melakukan kendaraan di jam-jam itu. Bisa jadi yang mengejar tadi perampok, bisa jadi penguntit. Kita akan pergi nanti selepas sholat subuh mang. Sekarang kita istirahat saja! Biar badan kita fresh." Farhan mengubah posisi kursinya agar nyaman dipakai tidur. Tidak lupa dia sedikit membuka kaca mobil agar ada udara yang masuk ke dalam.


"Baiklah den. Kita tidur saja dulu! Lumayan masih ada waktu sampai adzan subuh." Mang Supri pun kembali membaringkan tubuhnya di jok belakang.


__ADS_2