Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Curiga


__ADS_3

Farhan sangat marah sekali mendengar percakapan Nisa.


"Eh abang... aku lagi bicara sama temen aku. Bukan siapa-siapa kok!" Nisa berusaha ngeles dari pertanyaan Farhan. Padahal dalam hatinya dia mengiyakan perbuatan salahnya yang tidak bisa membohongi hati nurani.


"Siapa orangnya?" Sorot mata Farhan menyalang menatap tajam pada Nisa. Seumur hidupnya belum pernah dia marah kecuali persoalan pekerjaan, itupun tidak separah sekarang hatinya begejolak. Ya.. laki-laki mana yang menerima dengan ikhlas sebuah perselingkuhan yang dilakukan istrinya apalagi mereka masih pengantin baru.


"Itu... namanya Rina bang. Abang suka parno aja. Nih lihat!" Nisa tidak ada takut-takutnya menyodorkan handphonenya dan memperlihatkan nomor yang baru saja dia bicara dengannya.


Farhan langsung meraih handphonenya dan melihat handphone Nisa. Tertera nama Rina di layar handphonenya. Dilayar memang Rina tapi entahlah nama asli atau nama samaran.


"Kamu tadi bilang cinta segala. Maksudnya apa?" Farhan tidak lantas percaya begitu saja pengakuan Nisa. Apalagi telinganya dengan jelas mendengar sebuah pengakuan cinta pada seseorang. Kalau bukan pada laki-laki masa pada perempuan? Pikir Farhan.


"Ih.. abang.. Rina tuh sobat aku. Dia cemburu sama Nisa katanya kalau sudah nikah gak bakal sayang lagi sama dia karena ada suami." Nisa pandai sekali mereka-reka alasan untuk berbohong.


"Meski temen kamu perempuan, jangan sampai bilang kaya gitu! Nanti bisa membuat fitnah." Ucap Farhan melunak walau hatinya masih tidak percaya, tapi pikirannya masih sehat. Dia perlu mengumpulkan bukti kongkrit untuk menuduh Nisa selingkuh.


"Iya bang. Nisa minta maaf." Nisa bergelayut manja ingin mengambil hati Farhan.


"Kamu udah shalat belum?" Farhan melihat Nisa yang masih terlihat sama penampilannya sewaktu ketika datang dan sekarang, tidak ada perubahan. Curiga Nisa belum shalat.


"Eh iya bang Nisa shalat dulu." Nisa langsung melepaskan tangannya dari Farhan dan buru-buru masuk kamar mandi.


Apa benar temannya perempuan?


Farhan membawa handphone Nisa. Lalu mengusap layarnya agar dia bisa tahu, apa Nisa berkata jujur atau tidak.


Mmmm... ternyata memakai kunci pasword.

__ADS_1


Farhan menghela nafas. Dia duduk ditepian kasur lalu mengembalikan handphone itu ke tempatnya.


Farhan mencoba membaringkan tubuhnya di kasur Nisa. Pandangannya menerawang ke atas langit-langit pandangannya seolah kosong tanpa isi.


Kring


Kring


Kring suara handphone Nisa kembali menyala. Farhan bangkit dari tidurnya lalu mengambil handphone itu. Tertera nama yang sama muncul.


Untung Farhan punya ide, dia langsung memfoto nama yang muncul di layar handphone Nisa. Setelah selesai memfoto Farhan kembali menyimpan di atas nakas, tak berani mengangkatnya. Akhirnya handphone Nisa mati dengan sendirinya.


Tak lama kemudian Nisa keluar dari kamar mandi. Dia mengeringkan rambutnya lalu mengambil mukenanya dan menggelar sajadah ke arah kiblat.


"Bang..sepertinya barusan handphone aku ada panggilan ya?" Nisa yang sedang di dalam kamar mandi mendengar dengan jelas bahwa handphonenya terdengar berbunyi.


"Ohh.. Nisa membuka handphonenya. Matanya sempat menyipit. dia menuliskan sesuatu di handphone itu.


"Bukannya mau shalat kok malah buka handphone." Farhan menegur Nisa yang masih menyempatkan buka handphone padahal dia sudah siap untuk shalat.


"Iyaaa. Barusan temen aku minta balasan cepat. Biar nanti pas shalat gak bunyi terus." Nisa bisa aja berkilah dari ucapan Farhan.


Farhan diam setelah mendapatkan alasan Nisa barusan. Sebenarnya alasannya bisa diterima, tapi hati Farhan masih tidak percaya pada identitas si penelpon itu. Masa iya sampai bilang cinta-cintaan kalau bicara sesama perempuan, terkecuali cinta yang menyimpang alias lesbi. Baru berapa hari pernikahannya dengan Nisa, hati Farhan sudah dilanda resah.


"Abang mau makan?" Nisa sudah selesai shalat dan melipat mukenanya.


"Kalau kamu?" Suasana Farhan sedang tidak baik-baik saja. Keresahan hatinya membuat moodnya jadi buruk.

__ADS_1


"Aku sih lapar.. tapi males makan. Pengennya yang seger-seger makanya tadi aku ngafe sama temen-temen. Aku juga bosen kalau di rumah tidak ada kerjaan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan yuk nyari yang seger?" Nisa antusias sekali mengajak Farhan jalan-jalan.


"Aku agak males jalan keluar, abis magrib aku berangkat ke rumah sakit lagi. Kalau mau yang seger bikin atau pesan saja! Soalnya abang gak bakal keburu kalau nganterin kamu keluar. Lagian kamu tadi habis dari luar apa gak cape?" Farhan tidak habis pikir melihat tingkah istrinya. Bukannya diam di rumah mengurus suami malah pikirannya terus saja traveling.


"Ih.. abang gak asik! Sudah nikah sepi, gak ada pesta, gak ada honeymoon sekarang males ngajak jalan. Tahu gini nyesel aku." Nisa tanpa dosa mengeluh di hadapan Farhan.


"Astaghfirullah Nisa.. " Farhan menegur Nisa, yang bicara tanpa kontrol.


"Emang kenyataannya begitu bang. Harusnya abang juga peka sama perasaan aku. Bukan sibuk mengurus diri abang sendiri. Aku juga butuh healing bang. Masa nikah kaya gini.. " Nisa terus saja mengeluh atas ketidak enakannya pada Farhan.


"Nisa.. aku bukan tidak peka. Tapi keadaannya yang menuntut begini. Abang gak mungkin ngadain pesta besar-besaran sementara umi sakit. Apalagi sampai honeymoon sekarang. Sabarlah... nanti juga kalau umi sudah sehat abang akan memenuhi keinginan kamu buat honeymoon. Tapi tolong lah.. untuk saat ini abang butuh pengertian kamu Nisa... " Farhan jadi serba salah menghadapi Nisa yang tidak dewasa. Umur sih boleh matang tapi.. sikapnya yang tidak bisa dewasa membuat Farhan agak sesak.


"Terserah abanglah... " Nisa keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras membuat Fat terhenyak kaget.


"Astaghfirullah... Nisa."


Ya Allah... ampuni hamba mu yang banyak kekurangan ini. Hamba tidak mau menzholimi istri. Tapi bagaimana dengan keadaan hamba sekarang ya Allah.. hamba tak mungkin menuruti kemauan istri hamba semaunya seakan dia malah tidak peka pada keadaan.


Farhan bermunajat pada sang Khalik atas ujian yang disebabkan istrinya yang tidak mendukungnya.


Farhan segera mengganti bajunya dengan pakaian agak rapih. Dia keluar kamar lalu mencari Nisa.


"Nis.. abang antar jika kamu mau jalan-jalan. Bersiaplah!" Farhan akhirnya mengalah pada Nisa. Dia tak mau dihari-hari pengantin barunya, istrinya malah kecewa akan sikapnya yang dianggapnya kurang perhatian.


"Ya udah Nisa mau ganti baju dulu." Nisa langsung sumringah ketika Farhan ingin mengajaknya jalan-jalan.


Dia berniat membawa Farhan belanja sesuai keinginannya. Bukankah suaminya orang tajir? Gajinya pun pastinya besar karena dia bekerja sebagai orang kepercayaan yang punya perusahaan. Nisa semangat sekali tanpa menunggu lama, dandanannya terlihat rapih bisa mengimbangi Farhan yang tampan juga bisa menyesuaikan pakaian sesuai kebutuhan. Nisa langsung menggandeng Farhan dengan manja.

__ADS_1


Keduanya pamit berangkat.


__ADS_2