Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
21


__ADS_3

"Mas Farhan.." Sani berteriak memanggil Farhan karena terkejut melihat bu Haji Zenal tergeletak di dalam toilet yang ada di kamarnya. Teriakan Sani cukup keras menggaung di dalam rumah besar itu. Sontak Farhan pun buru-buru keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga menghampiri asal suara itu.


"Innalillahi..umi.." Suaranya tercekat. Farhan terkejut melihat ibunya tergeletak pingsan di lantai.


"Sani..tolong panggilkan mang Syarif!" Farhan meminta bantuan Sani untuk memanggilkan satpam rumahnya.


"Baik." sani bergegas memanggilkan mang Syarif.


Farhan langsung mengangkat tubuh ibunya ke atas ranjang. Lalu memeriksa bagian hidung untuk memastikan apakah masih ada nafas atau tidak. Beralih memeriksa beberapa titik nadi yang terletak di leher juga pergelangan tangan ibunya, dikhawatirkan sesuatu terjadi.


Farhan menarik nafas lega. Detak nadinya masih terasa walaupun Farhan belum bisa memastikan apakah detak itu normal atau sebaliknya.


"Ada yang bisa dibantu mas farhan?" Mang Syarif menghampiri Farhan.


"Tolong bantu saya mengangkat umi ke mobil! Saya akan membawa ke rumah sakit. Dan kamu Sani, tolong panggilkan bi Inah agar menyiapkan pakaian ganti umi untuk dibawa ke rumah sakit!" Farhan terlihat lemas melihat kondisi ibunya yang masih pingsan.


Bi Inah langsung memasukan beberapa pakaian ganti bu Haji Zenal ke dalam tas lalu menyimpannya di dalam bagasi mobil.


"Den Farhan pakainnya sudah saya masukan ke dalam mobil. Ada yang bisa saya bantu lagi Den?"


"Terima kasih bi. Saya minta doanya dari semuanya, agar umi kembali sehat." Gurat wajah Farhan terlihat sedih.


"Iya den..bibi doakan semoga bu haji cepat sembuh." Bi Inah berkaca-kaca hatinya begitu sedih melihat bu Haji Zenal tergeletak tak berdaya.


"Aamiin. Terima Kasih. Mmm...Sani.." Farhan menoleh ke arah Sani mau meminta sesuatu, tapi ragu.


"Mas Farhan mau minta bantuan lagi?" Dilihat dari mata Farhan, Sani menebak bahwa Farhan menahan sesuatu. Entah itu ragu atau malu. Sani mencoba mendahuluinya menawarkan bantuan.


"Kalau tidak keberatan, bisakah kamu menemani bu Haji?" Farhan nampaknya tidak tahu lagi harus meminta siapa, selain Sani yang bisa membantunya mengurus kebutuhan privasi ibunya.


"Baik mas Farhan." Sani tidak menolak. Bahkan ini seperti kehormatan jika bisa membantu keluarga itu. Mengingat keluarga bu Haji memang telah memberikan kebaikan kepada Sani.


Tanpa menunggu lama, Farhan segera memicu kendaraan itu menuju sebuah rumah sakit.


Kini bu Haji Zenal sudah ditangani oleh dokter. Farhan menunggu di luar menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Di lorong rumah sakit terlihat sosok laki-laki dengan langkah panjang dengan mata yang terus mengamati tiap ruangan yang dilewatinya. Tiada lain adalah pak Haji Zenal. Dia baru datang dari luar kota setelah Far-han mengabari kondisi istrinya yang dibawa ke rumah sakit.


"Assalamualaikum." Pak Haji langsung setengah berlari begitu melihat Farhan dari kejauhan sedang berdiri di depan satu ruangan.


"Waalaikumsalam warahmatullah." Jawab Farhan sambil mencium punggung ayahnya.

__ADS_1


"Bagaimana umi, Farhan? Apa yang terjadi sampai umi pingsan?" Pak Haji Zenal sudah tidak sabar mendengarkan kabar dan kondisi istrinya. Pasalnya bu Haji jarang sakit dan jarang mengeluhkan sakit.


"Sabar bah, kita duduk dulu! Abah pasti cape." ucap Farhan menenangkan kecemasan ayahnya.


Farhan memegang tangan ayahnya, lalu mengusap lembut punggungnya untuk memberikan kekuatan. Padahal dirinya juga sama cemasnya melihat ibunya yang sangat dicintainya tergolek lemah.


"Maaf keluarga pasien?" salah seorang perawat memangil.


Farhan dan pak Haji Zenal menghampiri perawat.


"Saya dok!" Farhan menyahut panggilan.


"Anda dipanggil dokter. Silahkan masuk ke ruangannya."


"Selamat sore dok!" Farhan dan pak Haji Zenal masuk ke dalam ruangan.


"Sore. Silahkan duduk!" Dokter mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


"Bagaimana keadaan istri saya dok!" Pak Haji tidak sabar ingin menanyakan kabar kesehatan istrinya.


"Maaf... ibu terkena serangan jantung dan struk." Dokter mengabarkan kondisi penyakit bu Haji Zenal.


"Sekarang istri bapak siuman. Tapi harus dirawat dulu ya! Diusahakan jangan stress agar tidak memicu penyakitnya." Dokter menyarankan agar bu Haji dirawat dan bisa tenang agar pemulihannya cepat sembuh.


"Baik dok. Apa kami sudah bisa melihatnya dok?" Tanya Farhan pada dokter.


"Silahkan! Kondisinya sudah lebih baik. Dijaga pola makan dan istirahatnya ya!"


"Oh iya baik dok! Kami permisi dulu!" Farhan meminta izin pamit dari ruangan dokter.


"Iya silahkan!"


Keduanya masuk ke ruangan rawat inap. Sani sudah duluan masuk setelah tadi perawat membawa blankar bu Haji ke ruangan khusus rawat inap.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan dan ayahnya menghampiri bu Haji yang sedang terbaring. Keduanya duduk di kursi yang ada di dekat tepian kasur.


"Mi.. " Farhan menggenggam tangan bu Haji.

__ADS_1


"Aafkan mi.. ya!" Bu Haji Zenal berkata pelan dan tidak jelas karena lidahnya kelu kena serangan struk.


"Iya mi.. umi cepat sehat ya!" Farhan tidak menunjukkan rasa sedih, takut ibunya tahu.


"Umi.. sabar ya!" Pak Haji Zenal mencium kening istrinya dengan lembut.


"Aafkan bah.. mi!" Bu Haji menoleh ke arah pak Haji dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan abah juga ya! Abah kurang memperhatikan kesehatan umi." Pak Haji Zenal mengusap kening istrinya.


Tes


Air mata bu Haji Zenal menetes di pipi nya.


"Kita berdoa ya mi.. semoga umi cepat sembuh." Farhan menguatkan mental ibunya sambil mengusap punggung tangannya.


Bu Haji mengangguk.


"Aan.. emu ikah... ya! Uru mi ati..!" Kata-kata nya tidak jelas membuat Farhan dan pak Haji mengerutkan dahi mencerna perkataan bu Haji Zenal.


"Apa umi?" Pak Haji Zenal mendekati wajha istrinya.


"Aan ikah!" Bu Haji Zenal mengulang perkataannya dengan susah payah.


"Farhan nikah?" Pak Haji Zenal mencoba mencocokkan perkataan istrinya.


Bu Haji Zenal mengangguk.


Pak Haji menatap Farhan. Sepertinya bu Haji sudah merasakan penyakitnya jauh sebelumnya. Makanya mendesak Farhan untuk segera menikah khawatir umurnya tidak panjang. Apalagi beberapa bulan ke depan dia akan berangkat menunaikan ibadah haji.


"Iya mi.. Farhan mau menikah. Asal umi sembuh dulu!" Farhan dengan berat hati mengiyakan, melihat kondisi ibunya yang sedang sakit.


Bu Haji menggelengkan kepalanya.


"Alang ikah! mi.. ulu ati." Keduanya mencerna perkataan bu Haji yang susah dimengerti.


Pak Haji langsung menimpali.


"Umii.. jangan banyak pikiran ya! Biar umi cepat sembuh. Biar umi bisa menyaksikan pernikahan Farhan. Kalau umi sakit.. kasian Farhan tidak bisa mengundang teman-temanya untuk hadir." Pak Haji mencoba memberikan semangat untuk istrinya.


"Iya mi.. Farhan insyaallah mau menikah. Umi sembuh dulu ya!" Farhan tersenyum. Mau tidak mau sekarang Farhan tidak bisa menolak lagi perjodohannya dengan Nisa.

__ADS_1


__ADS_2