
"Maaf.. abang mau ganti baju dulu ya Nis.. " Farhan membuka koper untuk mengeluarkan baju gantinya.
Nisa malah cemberut bukannya membantu suaminya menaruh baju-bajunya di lemari.
Farhan terdiam melihat sikap istrinya yang cuek. Ya selain belum mengenal betul sikapnya, Farhan terbiasa mandiri jadi tidak mempermasalahkannya.
"Abang.. mau ke toilet ya!" Farhan permisi ingin mengganti pakaiannya di dalam toilet.
"Abang.. kenapa tidak menggantikannya disini?" Nisa melayangkan protes.
"Mmm..abang mau sambil membersihkan diri." Jawab Farhan karena badannya agak terasa lengket.
Tak lama kemudian Farhan keluar dari kamar mandi.
"Bang.. bukain baju Nisa dong!" Nada permintaan Nisa agak kurang sopan. Meski mereka suami istri bagi Farhan yang baru saja mengenal Nisa agak kurang enak mendengar istrinya berbicara seperti itu.
Farhan hanya mengangguk lalu mendekati Nisa. Padahal baju kebaya yang Nisa pakai semua berkancing depan dan bisa saja dia membukanya sendiri.
Sah-sah saja sih untuk sepasang pengantin main romantis-romantisan.
Wajah Nisa dan Farhan kini saling berhadapan dengan jarak dekat sekali. Farhan fokus membuka kancing kebaya yang memang tali pengingat kancingnya agak ketat sehingga sulit untuk dibuka. Keringat Farhan keluar begitu serasa, karena baru kali ini dia sangat dekat dengan yang namanya perempuan. Jadi agak gerogi untuk bisa langsung akrab. Mendadak acara buka kancing pun menjadi sulit dirasakannya.
"Abang kok.. lama banget buka kancingnya?" Nisa protes kembali.
"He.. iya. Kancingnya kuat banget jadi agak susah untuk dibuka." Jawab Farhan menutupi geroginya. Dia menyeka keringat yang mengucur di kening. Padahal kamar itu suhunya sudah cukup dingin karena memakai AC.
"Alhamdulillah... sudah." Farhan bisa bernafas lega. Akhirnya seluruh kancing terbuka semua. Tapi tak ada sedikit pun niat untuk membuka pakaian Nisa.
Cup
Nisa mencium Farhan.
Degg
__ADS_1
Spontan Farhan memegang pipinya. Wajahnya jadi merona merah karena malu.
"Terima kasih bang.. " Nisa tersenyum lalu membuka baju kebaya di depan Farhan tanpa malu-malu. Dia melemparkannya ke sembarang arah.
Farhan menunduk, dia tidak tahu harus berbuat apa melihat Nisa sudah membuka kebayanya,
"Kenapa abang menunduk begitu?" Nisa yang sudah menanggalkan kebayanya langsung mendekati tubuh Farhan. Berharap Farhan tergoda dengan kemolekan tubuhnya.
"Mmm... tidak apa-apa. Nisa tidak mau berwudhu?" Masih dalam keadaan menundukkan pandangan Farhan menanyakan Nisa kenapa tidak segera membersihkan dulu tubuhnya.
"Oh.. abang kepingin Nisa mandi dulu? Abang tidak keberatan kalau menunggu?" Goda Nisa sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Farhan tanpa canggung.
Farhan yang menunduk pun terpaksa disuguhi dua buah gunung kembar yang sedang menunggu untuk disentuh.
"Mmm.. sebaiknya Nisa berganti di toilet saja, biar leluasa." Farhan menyarankan Nisa berganti pakaian di toilet karena dia tahu, karena bagian bawah Nisa masih terpasang.
"Abang tidak penasaran melihatnya?" Nisa kembali menggoda.
"Mmm.. maaf abang agak gerah kalau Nisa menempel kaya gini." Farhan melepaskan kedua tangan Nisa yang yang melingkar di leher Farhan.
"Coba berbalik Nisanya!" Ucap Farhan sambil bergetar menahan diri untuk tidak tergoda. Laki-laki mana sih yang tidak tergoda melihat permpuan cantik yang disuguhkan pemandangan indah yang selalu menjadi pujaan para kaum Adam ini.
Nisa berbalik menurut. Dia menghadapkan bokongnya pada Farhan yang sedang mencondongkan diri agar bisa membuka resleting rok batik milik istrinya.
Duh... ampun... kenapa aku ketar ketir gini....Tolong jangan dulu tergoda.. aku... tak mau sebelum melakukan shalat sunat dulu.
Hati Farhan bergemuruh melawan arus listrik yang terus menerus menerjang hasrat kelaki-lakiannya.
"Sudah Nis!" Farhan memejamkan matanya. Karena sebentar lagi pastinya Nisa membuka bagian bawahnya.
Benar saja Nisa langsung memelorotkan bagian bawahnya sehingga meninggalkan underware saja yang masih terpakai di tubuhnya.
Nisa berbalik ke arah Farhan.
__ADS_1
"Kenapa abang menutup mata?" Heran Nisa yang baru kali ini melihat laki-laki yang menutup mata saat melihat pemandangan eksotis milik istrinya.
"Mata abang kelilipan." Bohong Farhan sambil membentangkan tangannya meraba-raba mencari tempat untuk duduk.
"Sini... Nisa bantu." Nisa menuntunnya ke atas ranjang dan mendudukkan Farhan di tepian kasur.
"Coba Nisa tiup-tiup matanya agar mata abang bisa mendingan." Masih dengan penampilan seksi Nisa malah cuek, dan mendekati Adam sambil mencondongkan badannya.
"Eh... gak usah!" Farhan langsung membuka matanya takut ketahuan. Tapi... Lagi-lagi... mata Farhan disuguhi pemandangan nan indah juga mempesona dari Nisa.
Jantung Farhan berdetak kencang rupanya aliran listrik berdaya jutaaan volt sudah hampir meledak. di ubun-ubunnya. Kulitnya yang putih seketikaerah seperti kepiting rebus.
Nisa melihat Farhan yang sudah tak berdaya langsung menjatuhkan bada Farhan ke ranjang lalu menindihnya menciumi Farhan tak memakai aba-aba.
Farhan gelagapan mendapatkan serangan buas Nisa. Pikirannya memang menolak tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Sentuhan-sentuhan yang diberikan Nisa seperti aliran listrik yang mudah menyetrum seluruh badan Farhan.
Ya ampun... sadar.. dong tubuh.. jangan kaya gini.
Sayang cuman pikirannya yang mengeluh. Tapi tubuhnya malah menikmati permainan Nisa yang seperti sudah hafal dengan jalan dan cara mana yang ampuh untuk menundukkan Farhan.
Ya.. Farhan terlena.. kini tubuh dan pikirannya seolah dibawa ke nirwana. Menikmati semua kenikmatan yang begitu nikmat tiada tara sampai akal sadar nya menguap entah kemana.
Permainan Nisa berhasil meluluhkan lantahkan pertahanan Farhan yang begitu awam dan masih orisinil sehingga dengan sekali sentuhan saja dia langsung terbuai.
Lenguhan demi lenguhan mereka ciptakan sebagaiman para pengantin melakukannya. Farhan melupakan niat awalnya untuk mengajak Nisa shalat dua rakaat sebelum hajat suami istri dilakukan.
Akhirnya pelepasan pun mendarat di bagian paling nikmat. Anehnya Farhan dengan mudah membobol gawang Nisa.
Farhan dan Nisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah dihias khusus para pengantin. Farhan tak berdaya apapun di tangan Nisa yang lihai menarik hasratnya sampai ke puncak.
Di lain tempat Sani hanya duduk di tepian kasur bu Haji Zenal. Pikirannya seperti kosong tak bernyawa. Ada rasa sakit dan juga kosong sekaligus Sani rasakan dalam dadanya.
Sani pasrah pada keadaan. Meski dia menyukai seseorang tapi Sani tak bisa berdaya karena dia sudah menjadi suami perempuan lain.
__ADS_1
Sejak melihat Farhan, Sani memang merasakan hal aneh dalam hatinya. Setiap melihatnya seperti orang yang kelaparan dan kehausan. Ya dia ingin terus saja melihat pesona yang dimiliki laki-laki itu. Kalau tidak ada rasanya rindu ingin melihatnya. Itulah yang kemarin dirasakan Sani pada Farhan.
Tapi begitu mendengar Farhan menikah, dadanya terasa sakit.