
"Assalamu'alaikum." Farhan mengucapkan salam. Sejak tadi Farhan sudah berdiri di belakang pintu mendengarkan obrolan keluarga istrinya.
Farhan terpaksa masuk, karena ada perawat yang akan masuk juga. Takut disebut penguntit, akhirnya Farhan masuk berbarengan dengan perawat yang akan memberikan obat pada Nisa.
"Eh.. bang Farhan." Jeng Reni langsung menyambutnya. Farhan langsung cium tangan pada kedua mertuanya.
"Maaf Bu ini obat yang harus diminum oleh pasien. Ada vitamin penambah darah, antibiotik dan juga antinyeri." Perawat tadi memperlihatkan obat yang ditenteng didalam nampan kecil.
"Oh iya terimakasih sus!" Jawab Jeng Reni ibunya Nisa sambil menerima obatnya.
"Sama-sama. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum." Perawat keluar dari ruangan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Ayo duduk bang Farhan." Kedua mertuanya mempersilahkan duduk pada Farhan.
"Maaf ma.. ini ada makanan. Mungkin Nisa mau makan atau mau nyemil.' Farhan menaruh kresek berisi dus-dus yang berisi makanan.
__ADS_1
"Waduh repot-repot nak! Mohon maaf ya mama sama papa tidak bisa membantu banyak. Apalagi Nisa tidak sempat hadir pas pemakaman. Mama jadi malu. Bang Farhan juga kan lagi berkabung, kenapa malah datang kesini?" Jeng Reni sangat malu sekali dengan keluarga besannya. Di saat mereka berkabung, mereka tidak bisa hadir maksimal karena Nisa dirawat.
"Gak pa-pa ma. Tadi abah menyuruh saya untuk menunggu Nisa. Karena itu sudah kewajibannya sebagai suami." Ucap Farhan padahal dalam hatinya kini sedang membatin.
"Terimakasih bang Farhan. Mohon maaf ya Nisa malah jadi merepotkan." Antara sedih dan terharu jeng Reni terlihat berkaca-kaca. Farhan adalah suami yang baik. Anaknya lah yang tidak baik. Tapi meski begitu dia berharap mempunyai menantu yang baik agar bisa membimbing Nisa ke jalan yang baik. Jeng Reni dan suaminya tak berani mengangkat wajahnya di depan Farhan.
"Sama-sama ma.. pa.. Farhan mohon maaf sekali..sepertinya Farhan gagal menjadi suami yang baik untuk Nisa.
Deg
Kedua mertuanya saling memandang. Dia agak kaget mendengar Farhan mengatakan hal itu. Begitu pun Nisa. Sejak masuk rumah sakit hatinya tidak tenang. Apalagi barusan Farhan mengatakan seperti itu. Debaran jantungnya berlompatan tidak karuan.
"Tapi.. sepertinya pernikahan kami tidak bisa dilanjutkan ma.. pa.. Farhan mohon maaf. Mungkin Nisa lebih baik mencari calon suami yang cocok buat Nisa. Farhan dengan sangat menyesal tidak bisa melanjutkan pernikahan ini dengan Nisa. Sekali lagi mohon maaf." Farhan akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
"Maksudnya bagaimana ini?" Ayahnya Nisa terlihat marah mendengar Farhan mengatakan seperti itu.
"Pa.. " Jeng Reni menahan suaminya agar bisa berbicara lebih lunak demi keselamatan pernikahan putrinya.
__ADS_1
"Maaf pa.. ma.. Farhan ingin menceraikan Nisa." Turun sudah talak 1 pada Nisa dari bibir Farhan.
"Hei.. kamu jangan mentang-mentang orang kaya, bisa seenaknya mempermainkan anak saya Nisa. Kamu pikir pernikahan itu main-main? Kemarin nikah sekarang cerai. Dasar laki-laki lemah tak berguna!" Ayah Nisa naik pitam sehingga tidak bisa mengontrol emosinya pada waktu itu. Hal itu bahkan akan merugikan dirinya sendiri dan mempermalukan anaknya, Nisa.
"Pa.. " Jeng Reni menegur suaminya yang bicara kasar.
"Mohon maaf ya bang Farhan.. kalau papa marah. Jangan dimasukkan ke dalam hati! Sebaiknya nanti kita bicara lagi kalau Nisa sudah pulang ke rumah. Sekarang Nisa butuh istirahat. Jadi mama harap papa sama bang Farhan tenang dulu!" Jeng Reni menengahi keduanya. Terlihat suaminya membuang muka karena marah pada Farhan. Dads dan nafasnya terlihat naik turun menahan amarah yang bergelora.
"Baik ma.. Kalau begitu Farhan pamit dulu. InsyaAllah kalau Nisa sudah di rumah kita akan bicara lagi." Farhan berdiri dari kursi. Niatnya tadi mau menginap. Tapi setelah ayahnya Nisa menghina Farhan. Farhan memutuskan untuk kembali ke rumah. Suasana hatinya sedang kacau. Lebih baik menenangkan dahulu. Jika Nisa telah sembuh Farhan akan mengurus semua perceraiannya dengan Nisa.
"Farhan permisi dulu ma.. pa.. Nis. Assalamu'alaikum." Farhan keluar dari ruangan itu dengan membawa segala kesedihannya. Tadinya dia ingin bersabar dengan sikap Nisa apa adanya. Mungkin lambat laun Nisa bisa berubah. Tapi kalau urusan Nisa sudah hamil dengan yang lain ditambah sikap Nisa yang tidak baik, Farhan tak mungkin berdiam diri saja. Bahkan dia harus bertanggungjawab atas perbuatan orang lain pada Nisa. Itu sama halnya dia mendukung ma'siat.
"Waalaikumsalam.. " Salam Farhan hanya dijawab oleh Jeng Reni saja. Ayahnya Nisa tak sedikitpun melihat ke arah Farhan. Sedangkan Nisa tertunduk sambil terisak. Sekarang dia baru sadar bahwa sebentar lagi akan kehilangan Farhan sebagai suaminya. Dia. sedang menunggu waktu untuk menjadi janda.
"Pa.. seharusnya papa tidak bicara seperti itu. Nisa anak kita yang salah. Farhan tadi secara halus bicara pada kita tanpa menghina ataupun mencela anak kita. Meski kita tidak tahu, apa. alasannya akan menceraikan Nisa. Kalau dia sudah tahu permasalahannya, pasti yang malu kita sendiri. Mama sih sebenernya ingin mencoba menarik Farhan agar dia bertahan sebagai suami Nisa. Eh.. papa.. malah emosian. Padahal dengan datangnya Farhan ke sini, dia masih menunjukkan itikad kuatnya sebagai suami Nisa. Ini malah dikacaukan." Jeng Reni menyesalkan sikap suaminya yang terlalu mudah emosi.
"Sekarang papa yang disalahkan. Seharusnya Nisa tuh mikir, sudah dinikahi Farhan saja sudah untung. Ini anak malah tak tahu diuntung. Malah kelayapan ke cafe. Seharusnya kamu tuh cerdas dikit. Sudah hamil anak orang kamu seharusnya manut suami, ikutin kesenangan suami. Malah membuka aib sendiri dan sekarang kamu tanggung sendiri. Aku tak mau ngurusin anak seperti kamu yang bisanya menyusahkan saja." Ayahnya Nisa melemparkan kesalahan sepenuhnya pada Nisa.
__ADS_1
"Hik hik hik... Suara tangis Nisa semakin kencang. Kini nasibnya diambang batas. Menunggu jadi janda dan dimarahin ayahnya yang tak mau lagi mengurus Nisa. Bukankah seharusnya hal itu dipikirkan oleh Nisa sebelum bertindak? Karena perbuatannya, kini bukan hanya dirinya yang malu, tapi kedua orang tuanya pun malu besar setelah ketahuan anaknya hamil di luar nikah.
"Sudah.. sudah.. kalau begini terus tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu Nisa, hubungi laki-laki yang telah merusak kamu. Suruh besok menemui mama! Secepatnya kalian harus menikah kalau sudah bercerai dengan Farhan. Kalau tidak.. mama akan malu."