Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
23


__ADS_3

"Alhamdulillah... " Farhan terlihat bergembira. Dia mengucap syukur. Lepas sudah satu masalahnya.


"Ayo.. teruskan makan ya! Besok kamu mesti memeriksakan kesehatan kamu sama cek darah ya!" Wajah Farhan langsung berbinar mendapatkan kemudahan atas masalahnya. Walaupun masalah dia sendiri belum bisa diatasinya.


"Assalamu'alaikum." Suara berat bariton terdengar dari balik pintu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Farhan menoleh ke arah pintu.


"Bang Reza... " Farhan langsung berdiri menyambut kedatangan kakaknya dan kakak iparnya.


"Kamu sehat Farhan?" Reza memeluk adiknya.


"Baik bang. Abang sendiri dan kak Sarah bagaimana?" Ucap Farhan pada Reza. Hampir sepuluh hari abangnya ini berada di tanah suci sedang menunaikan ibadah umroh. Kedatangannya di Indonesia bertepatan dengan jatuh sakitnya sang ibu.


"Alhamdulillah ala kulli hal." Jawab Reza.


"Alhamdulillah.. wasyukurillah. Farhan ikut senang melihat abang dan kak Sarah sehat dan bisa kembali dengan selamat." Farhan tersenyum lebar menyambut sepasang suami istri yang baru saja pulang umroh.


"Ayu.. kak duduk dulu! Kenalkan ini Sani kak. Sani ini kakak mas Farhan namanya abang Reza dan ini istrinya Kak Sarah." Farhan langsung mengenalkan mereka bertiga. Sani langsung menciumi punggung Sarah dan melipat kedua telapak tangannya begitu dihadapan Reza.


"Siapa? Calon Far?" Reza langsung menebak begitu saja membuat wajah keduanya memerah tersipu malu.


"Mmm bukan. Ini... Sani yang ditolong umi karena jadi korban tabrak lari. Dia sekarang tinggal di rumah kita bang." Ucap Farhan mendadak gerogi.


"Oh dikira calon Far." Lagi-lagi Reza mengulang kata itu, membuat Farhan bertambah malu. Kenapa harus malu? kecuali dia tidak menyimpan rasa di hatinya.


"Abang lihat dulu umi ya!" Reza dan Sarah menghampiri ibunya di tepian kasur. Dilihatnya perempuan paruh baya yang sudah mulai menua denga keriput dan wajah lelah nya yang tidak berdaya. Penyakit jantung yang sekarang menyerangnya entah kapan datangnya. Ibu dia orang anak ini memang jarang mengeluh sakit. Bahkan selalu terlihat ceria dan bahagia. Bukan hanya anak-anaknya, bahkan sifatnya yang penyayang bisa dirasakan Sani. Dia tidak membeda-bedakan perhatian.


Reza menyeka kedua kelopak matanya menahan sedih melihat ibunya terbaring. Dia tidak berani membangunkan ibunya yang sedang terlelap tidur.

__ADS_1


"Abang istirahat saja! Biar Farhan yang menunggu di sini." Ucap Farhan pada kakaknya.


"Abang mau lihat umi dulu Far.. abang belum tenang kalau belum melihat umi." Reza sama baiknya dengan Farhan. Keluarga pak Haji Zenal berhak bahagia. Mereka mempunyai dua anak laki-laki yang tampan juga sholeh. Mereka sopan juga sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Tak heran mereka mempunyai akhlak baik karena pak Haji dan bu Haji Zenal juga terkenal dengan kebaikannya kepada masyarakat juga keluarganya.


"Abang kan masih cape, baru jetlag langsung ke sini." Farhan mengerti kondisi Reza dan Sarah yang belum istirahat. Begitu sampai langsung datang ke rumah sakit.


"Tidak apa-apa. Di sini juga bisa istirahat Far. Ayoo.. temani abang ngobrol! Ada yang mau abang bicarakan." Reza membawa Farhan keluar dari ruangan dan membiarkan Sarah istirahat di sofa bersama Sani.


"Iya bang." Farhan mengikuti langkah kakaknya yang keluar dari ruangan dan mencari tempat duduk yang nyaman.


Rumah sakit nampak sepi. Keduanya duduk dengan relaks di kursi. Sesekali Reza menghembuskan nafas perlahan dan menariknya kembali.


"Kapan kamu balik ke Singapura Far?" Reza menoleh melihat Farhan sambil menaruh kedua tangannya di dada.


"Harusnya besok bang. Tapi aku tadi sudah meminta izin pada asisten bos. Farhan tidak meninggalkan umi sakit." Jawab Farhan yang tak mungkin meninggalkan ibunya sendiri hanya sebuah pekerjaan.


"Far.. tadi abang sempat bicara sama abah." Reza berbicara dengan semu berat.


"Iya bang. Ada apa?" Tanya Farhan pada Reza.


"Sepertinya umi terlalu keras memikirkan kamu Far." Reza menyimpulkan sakitnya bu Haji Zenal karena memikirkan Farhan.


Farhan terdiam.


"Sebaiknya kamu menikah secepatnya agar hal itu tidak mengganggu pikiran umi." Reza melihat adiknya yang terdiam.


"Iya bang. Farhan memang salah menolak permintaan umi. Tapi bang.. boleh aku cerita sama abang?" Farhan seperti merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Ceritalah! Abang akan mendengarkan apa yang menjadi masalahmu." Reza dengan wajah serius siap mendengarkan apa yang akan dibicarakan adiknya.

__ADS_1


"Kenapa ya bang hati Farhan merasa tidak cocok sama Nisa? Padahal Farhan sudah beberapa kali istikharah meminta petunjuk." Farhan mengeluarkan unek-unek nya pada Reza.


"Alasannya kenapa?" Reza ingin tahu dibalik keraguan Farhan adiknya.


"Entahlah bang. Hati Farhan seperti menolak. Kemarin keluarga Nisa berkunjung ke rumah kita bang. Aku kurang sreg aja dengan sikap mereka yang cenderung matre sama suka merendahkan orang lain." Ungkap Farhan pada Reza.


"Mmm.. terus selain itu apalagi?" Reza harus tahu dengan detail apa yang menjadi kebimbangan Farhan pada keluarga Nisa.


"Aku.. kurang cocok juga sama Nisa bang. Dia tidak memakai kerudung. Terus dia juga agresif orangnya." Ungkap Farhan yang tak menemukan kecocokan.


"Mmm... " Reza terdiam mencerna apa yang baru saja dikatakan Farhan.


"Memangnya kamu punya calon selain Nisa Far?" Reza ingin mengetahui lebih jauh tentang Farhan.


"Belum bang. Tapi Farhan tidak ingin terburu-buru menikah karena Farhan tak ingin menyesal dikemudian hari. Tapi Farhan bingung dengan keinginan umi bang. Jadi menurut abang Farhan harus bagaimana?" Farhan menumpahkan segala unek-unek nya pada Reza.


"Kadang jodoh tak bisa ditolak Far. Seperti kakak.. yang sudah mau lima tahun belum bisa mempunyai keturunan. Sewaktu kakak memilih Sarah ya bismillah saja. Sampai sekarang kakak ridlo kalau kakak harus menjalani takdir. Adakalanya kita ideal dan adakalanya kita tak bisa mempunyai pilihan. Semua pasti ada dalam gurat takdir dari Allah Far." Reza tak bisa memaksakan apa. yang menjadi keinginan orang tuanya.


"Jadi menurut abang. Farhan bismillah saja?" Farhan agak berat melakukan keinginan ibunya.


"Fat... bismillah itu harus ikhlas. Bukan karena terpaksa. Kalau seandainya bismillah kamu terpaksa tidak akan menjadi ibadah. Tapi jika bismillah kamu dikarenakan ingin berbakti, pasti Allah tunjukkan kemuliaan-Nya dengan jalan-Nya yang lain.


Farhan menunduk.


" Maafkan Farhan bang. Sepertinya Farhan terlalu egois untuk menolak pilihan umi. Farhan akan sholat dulu bang meminta Allah Subhanawataala untuk membantu kesulitan Farhan. Jika seandainya Farhan menerima Nisa, semoga Allah juga memudahkan Farhan menjadi imamnya." Farhan melunak. Dia tak lagi sekeras kemarin setelah berbincang dengan kakaknya.


"Itu bagus. Sholatlah! Minta tolonglah dengan sholat dan sabar. InsyaAllah pasti ada jalan buat kamu untuk jodoh yang lebih baik." Reza menepuk bahu adiknya memberinya kekuatan dan dorongan.


"Iya Aamiin bang. Terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2