Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Keguguran


__ADS_3

Ridlo melihat darah mengalir dari ************ Nisa.


"Nis.. kamu.. berdarah... " Kaget Ridlo.


"Tolong aku Do.. perut aku sakit.. sakit banget. Bawa aku ke dokter! Aku tidak tahan!" Nisa sudah melupakan dirinya sendiri yang sudah bertelanjang. Yang dipikirannya hanya ada rasa sakit.


Ridlo segera memakaikan baju Nisa agar dia bisa membawanya dengan layak ke rumah sakit. Dia menarik sprei kasur nya untuk membungkus bagian bawahnya Nisa agar darah yang mengalir bisa menyerap ke sprei.


"Tahan Ya Nis! Ucap Ridlo dia membawa kunci mobilnya dan menyiapkan bagian belakang agar bisa dipakai Nisa. Setelah itu dia mengangkat tubuh Nisa ke dalam mobil.


"Aduh.. sakit.." Nisa hanya bisa meringis kesakitan menahan nyeri yang ada diperutnya.


"Tunggu ya! Aku mau mengunci kamar aku dulu sama bawa keperluan aku!" Ridlo setengah panik berlari kembali ke kamarnya membawa handphone dan juga dompetnya. Setelah mengunci pintu kamar kostnya dia kembali ke mobilnya dan menyalakan mobil untuk membawa Nisa ke rumah sakit.


"Cepet.. aku gak tahan. Perut aku sakit banget!" Nisa memegang perutnya yang seperti melilit juga sakit.


"Iy iya.. ini aku lagi nyetir Nis!" Ucap Ridlo sambil melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian mobil yang disetir Ridlo sampai di depan rumah sakit. Ridlo langsung laporan ke bagian UGD dan beberapa tim media pun segera sigap membawa blangkar untuk Nisa.


Nisa langsung dibawa ke ruang tindakan.


"Anda suami?" Tanya dokter pada Ridlo.


"Mmm..bukan... sa.. saya temannya dok."


"Panggilkan walinya! Dia mengalami kontraksi dini." Ucap dokter yang menangani Nisa.


"Mmm.. apa itu dok?" Ridlo yang tidak tahu mengenai soal kandungan, bertanya pada dokter.


"Pasien seperti akan keguguran. Dia mengalami kontraksi dini. Apa anda tidak tahu kalau dia sedang hamil?" Dokter itu mengerutkan dahinya.


"Mmm.. saya tidak tahu dok." Nisa yang tidak pernah memberitahukan siapapun kehamilannya, otomatis Ridlo pun tidak tahu kalau Nisa sedang hamil.

__ADS_1


"Kamu segera panggilkan walinya. Suami atau kedua orang tuanya. Ini perlu tindakan cepat. Kalau tidak nyawanya bisa terancam." Ucap dokter memerintah Ridlo memanggilkan wali Nisa untuk menyetujui tindakan kuret agar tidak terlalu lama pendarahan.


"Ba.. Baik dok!" Ridlo keluar dari ruangan tindakan Nisa dan menelpon ibunya Nisa.


"Halo.."


"Iya Halo. Ini dengan siapa?" Ibunya Nisa memandang nomor asing di layar handphonenya.


"Maaf..ii..ini mamanya Nisa?" Ridlo gugup untuk melakukan panggilan.


"Iya. Ini siapa?" Jeng Reni sedang mengingat-ingat suara yang ada di seberang telepon.


"Mmm... sa.. saya temennya Nisa tante. Nisa sedang di rumah sakit. Tante bisa cepat datang? Nisa mau operasi tante." Panik Ridlo yang tidak tahu sama sekali apa yang dikatakan dokter. Dia bisanya bikin aksi tapi tidak tahu akibat aksinya bisa menyebabkan keguguran.


"Mmm... kenapa dengan Nisa? Tadi dia baik-baik saja? Kok sekarang masuk ke rumah sakit?" Jeng Reni pun tak kalah panik begitu mendengar Nisa masuk rumah sakit dan harus operasi.


"Pokoknya tante datanya cepat! Ini dokternya sedang menunggu." Ridlo tak dapat menerangkan apa yang terjadi dengan Nisa.


"Saya sherlock saja tan. tut.. tut.. " Sambungan telepon putus begitu saja.


"Ya ampunnn.. apa yang terjadi? Apa Nisa kecelakaan? Aku harus telepon papa gitu? Atau telepon Farhan? Duh gimana nih?" Jeng Reni malah mondar-mandir gak jelas.


"Ah.. aku pergi saja duluan. Nanti biar aku telepon papa dan Farhan di rumah sakit." Jeng Reni hanya membawa dompet juga handphonenya. Lalu memesan mobil online untuk datang ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Jeng Reni langsung mendatangi ruang UGD.


"Nisa... " Jeng Reni langsung memeluk Nisa yang sudah terlihat pucat. Nisa tak banyak bicara. Rasa sakit yang diderita Nisa begitu menguras tenaganya. Badannya lemah tak bertenaga.


"Anda, ibunya?" Dokter yang sedari tadi menunggu bertanya pada Jeng Reni.


"Iya dok. Saya ibunya Nisa. Kenapa dengan anak saya dok?" Jeng Reni menatap Dokter dengan seribu penasaran. Tadi dia melihat anaknya baik-baik saja. Bahkan di ranjang itu dia tak melihat bekas luka apapun. Kalaulah dia kecelakaan pastinya ada luka gores atau luka lebam.


"Anak anda mengalami kontraksi dini. Usia kandungannya sudah mencapai sepuluh minggu. Dipastikan dia positif keguguran. Sekarang saya menunggu persetujuan anda untuk melakukan kuret segera. Kalau tidak nyawa pasien dalam bahaya." Ucap dokter pada Jeng Reni.

__ADS_1


Blushhh...


Seketika itu juga kepala Jeng Reni seperti berputar layaknya naik kincir. Dia tidak percaya anaknya hamil.


"Bu.. ibu.. jangan panik bu!" Dokter yang melihat tubuh Jeng Reni limbung langsung menahannya dan berusaha agar dia tetap sadar.


"Hami.. hamil.. " Kata itu terus saja diulang-ulang Jeng Reni. Ketakutannya selama ini jadi kenyataan. Anaknya yang selalu dijaganya malah kecolongan.


"Ibu.. tenang! Anak ibu butuh tindakan segera. Kalau ibu pingsan kasian anaknya." Ucap dokter menenangkan ibunya Nisa.


"Sebaiknya disuruh minum dulu dok! Biar si ibu ini tenang." Seorang perawat membawa air minum. kemasan dan memberikannya pada Jeng Reni.


Perlahan-lahan Jeng Reni meminum air itu. Dadanya yang tadi sesak dan kepalanya yang pening berangsur-angsur membaik.


"Tarik nafas bu!" Dokter memerintahkan Jeng Reni mengatur nafasnya agar tenang.


Jeng Reni pun patuh. Dia menarik nafas perlahan dan menghembuskan perlahan.


"Dokter saya serahkan anak saya pada dokter! Silahkan ambil tindakan yang menurut dokter yang terbaik." Ucap Jeng Reni akhirnya dia menyerahkan urusan Nisa pada dokter.


"Baik. Sekarang anda ke ruang administrasi dulu! Selesaikan prosedurnya terlebih dahulu!" Dokter mengedipkan mata pada salah satu perawat untuk membawa Jeng Reni ke bagian administrasi.


"Mari bu.. saya bantu!" Perawat itu pun memapah Jeng Reni berjalan ke bagian adminstrasi rumah sakit. Tubuhnya jadi lemas setelah mengetahui Nisa sedang hamil dan sekarang keguguran.


"Ma.. mama.. " Seseorang memanggil Jeng Reni dengan sebutan mama. Siapa lagi kalau bukan Farhan. Farhan yang sedang mengurus administrasi Sani sekilas melihat mertuanya sedang dipapah oleh suster menuju ruang administrasi.


'Mmm.. b..bang Far... han." Jeng Reni terbata-bata. Baru selesai jantungnya marathon kini jantungnya mulai lagi beedetak tidak kalah cepat dari tadi.


"Mama lagi apa disini? Mama sakit? Atau...?" Farhan langsung ingat pada Nisa yang sering mengeluh sakit lambung.


"Mmm.. mama lagi ada perlu." Bohong Jeng Reni yang tak mau ketahuan Nisa akan dikuret. Dari usia kehamilannya tidak mungkin itu hasil dari suaminya. Apalagi tanda-tanda mengidam. Nisa sudah nampak sebelum mereka menikah. Jadi ada kemungkinan Nisa hamil sebelum pernikahan.


"Mari Farhan bantu!"

__ADS_1


__ADS_2