Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Hampir ketahuan


__ADS_3

Mereka bertiga sudah sampai di kota K. Dan Farhan mengarahkan mobilnya ke hotel yang tak jauh dari kampung halaman Sani.


Farhan sengaja menyewa dua kamar di hotel untuk bermalam. Satu untuk Sani dan satu lagi untuk Farhan dan mang Supri.


Setelah cukup istirahat dan membersihkan badan, Farhan, mang Supri juga Sani turun ke bawah untuk mengisi perutnya.


"San.. biar kita tidak banyak waktu terbuang, bagaimana kalau perjalanan akan dilanjutkan ke kampung halaman kamu. Kira-kira siapa yang paling aman kita temui?" Tanya Farhan pada Sani.


"Mmm.. paling saya akan bertemu dengan guru ngaji saya dulu, mas Hamid. Ada tetangga saya yang masih suka ngaji ke rumah beliau. Jadi nanti bisa bertanya tentang keadaan ibu saya pada beliau." Jawab Sani.


"Baiklah jika menurut kamu dia bisa dipercaya." Farhan yang mengikuti apa kata Sani, Farhan menuliskan sesuatu pada buku catatannya. Itulah kebiasaan Farhan jika sedang melakukan pekerjaan. Dia teliti dan rajin mencatat.


"Iya mas Farhan." Ujar Sani.


"Setelah kita makan. Kita akan ke rumah guru ngaji kamu. Tapi kamu harus tetap di dalam mobil demi keamanan! Jangan sampai ada orang yang melihatmu! Biar nanti saya yang akan turun dan bicara dengan guru ngaji kamu." Farhan harus mengantisipasi sesuatu sebelum terjadi. Karena menurut cerita yang didengar dari Sani, kampungnya sangat tidak aman, karena banyak mata-mata mamah Banyu.


"Baik mas. Saya ikuti apa saran mas Farhan saja." Antara senang dan takut Sani tetap harus menghadapi kenyataan bahwa dia harus minta izin pada ibunya untuk pergi ke luar negeri.


"Kita berdoa saja semoga urusan kita dimudahkan dan kita bisa kembali selamat sampai tujuan." Farhan juga sama-sama agak cemas untuk menghadapi permasalahan rumit Sani.


"Iya mas Farhan." Jawab Sani sambil menghabiskan sisa makanan yang telah dipesannya.


Setelah selesai makan, ketiganya masuk ke dalam mobil. Sani memberi petunjuk pada mang Supri menuju rumah guru ngajinya, mas Hamid.


Akhirnya mobil yang ditumpanginya berhenti di deoan satu rumah yang telah ditunjukkan Sani.


"Apa benar ini rumahnya mas Hamid?" Tanya Farhan menoleh ke belakang melihat Sani. Kebetulan dia duduk di bagian ke dua belakang sopir


"Iya mas Farhan. Tapi.. biasanya jam segini masih ada yang mengaji." Jawab Sani melihat banyaknya sandal-sandal berserakan.

__ADS_1


"Mmm... baiklah saya shalat dulu di mushola. Kamu shalatlah di mobil bersama mang Supri. Jangan sampai ke luar mobil sebelum saya izinkan!" Ucap Farhan mewanti-wanti.


"Baik mas Farhan." Jawab mang Supri patuh.


Farhan pun keluar dari mobilnya, karena adzan magrib sudah berlalu beberapa saat yang lalu. Dia hendak melaksanakan shalat magrib dan isya di mushola sambil menunggu bubarnya anak-anak mengaji di rumah mas Hamid.


Tak lama kemudian, terlihat anak-anak bubar dari rumah mas Hamid. Mereka, anak-anak satu persatu bersalaman pada mas Hamid untuk berpamitan pulang. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka jika datang dan pergi pamit mengaji.


"Rijal... " Pekik Sani terkejut melihat Rijal keluar terakhir dari rumah mas Hamid. Terlihat wajah Rijal tidak segembira biasanya. Sahabat Sani itu terlihat lesu seperti tidak bersemangat. Final masih rajin mengaji meneruskan bacaan mengajinya pada mas Hamid. Kadang membantu mas Hamid untuk mengajar anak-anak kecil belajar mengaji.


"Neng Sani kenal sama orang yang ada di depan itu?" Tanya mang Supri menoleh pada Sani.


"Iya mang. Yang terakhir keluar dari rumah mas Hamid itu teman sekolah Sma saya mang, namanya Rizal." Jawab Sani sambil mengamati mas Hamid dan juga Rijal dari dalam mobil.


Rizal berpamitan terakhir setelah semua anak-anak pergi. Dia menyalami punggung gurunya dengan penuh hormat. Lalu Rizal pun keluar dari halaman rumah mas Hamid untuk pulang ke rumahnya.


Mobil yang terparkir tak jauh dari rumah mas Hamid, membuat perhatian mata Rizal. Karena di kampungnya jarang sekali ada yang mempunyai mobil. Kalaupun ada hanya satu dua orang, itupun sudah dikenali banyak warga.


"Neng.. teman neng Sani seperti mendekat kesini." Mang Supri agak cemas melihat Rizal berjalan menghampiri mobil yang sedang ditumpangi Sani.


"Iya mang. Saya harus bagaimana ya mang?" Sani bingung, antara harus menyapa Rizal atau harus bersembunyi. Dia menanyakan pendapat pada mang Supri.


"Sebaiknya neng Sani sembunyi saja! Takutnya mas Farhan nanti malah menyalahkan kita. Kita patuhi saja apa kata mas Farhan." Mang Supri memilih patuh pada majikannya. Kalau tidak, nanti dia bisa disalahkan atas kecerobohannya.


"Baik mang saya sembunyi di bawah saja." Sani segera turun dari kursi dan bersembunyi di bawah tepat dibelakang jok sopir.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rizal begitu sudah di depan pintu mang Supri. Kebetulan kaca mobil bagian mang Supri terbuka.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Mang Supri.

__ADS_1


Mata Rizal menatap mang Supri penuh curiga. Dia mengedarkan ke bangku sebelah mang Supri lalu kembali melihat pada mang Supri.


"Mmm... boleh tahu, bapak siapa ya?" Tanya Rizal menanyai mang Supri.


"Saya mang Supri." Jawab mang Supri jujur.


"Ada keperluan apa ya disini?" Rizal menanyakan kepentingan mang Supri diam di sana.


"Saya sedang mengantar majikan saya. Kebetulan dia sedang shalat di mushola." Jawab mang Supri terus terang.


"Bapak darimana dan mau kemana?" Tanya Rizal tak bisa begitu saja meninggalkan mang Supri.


"Saya dari Jakarta, mengantar majikan saya ke sini mau ada perlu." Jawab mang Supri agak deg-deg an. Pasalnya Rizal tak lantas pergi setelah tadi mang Supri menjawab pertanyaannya.


"Oh. Ada perlu ke siapa ya?" Rizal mendadak bertanya detail seperti detektif.


Hacim... Hacim...


Sani mendadak bersin. Suaranya begitu keras terdengar sampai keluar.


"Mmm.. di dalam ada orang pak?" Rizal langsung curiga mendengar suara bersin perempuan. Matanya langsung melongok ke dalam mobil.


"Mmm.. iya. Adik majikan saya sedang sakit flu. Dia tidur di belakang mobil." Jawab mang Supri dengan jantung yang berdegub tak karuan.


"Oh itu majikan saya, dia baru selesai shalat." Mang Supri seolah menemukan solusi begitu melihat Farhan keluar dari mushola yang berada di samping rumahnya mas Hamid.


"Oh.. itu majikannya? Biar saya ke sana!" Ucap Rizal memutar tumit ingin mendekati Farhan.


"Ya ampun.. neng Sani... mang Supri sampai jantungan begini... " Mang Supri sampai mengelus dada.

__ADS_1


"Iya mang... maafkan saya. Saya tak sengaja bersin. Disini bau bensin mang. Jadi saya gak tahan ingin bersin.


'Iya gak pa-pa, mang cuman tegang."


__ADS_2