
"Assalamu'alaikum." Ucap Rizal memberi salam pada Farhan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Farhan yang sudah masuk ke halaman rumah Mas Hamid.
"Anda mau bertemu siapa?" Rizal begitu gigih ingin tahu dengan tamu yang akan menemui mas Hamid. Entah instingnya yang sedang kuat atau dia memang mempunyai trauma dengan yang namanya orang asing.
"Saya mau bertemu mas Hamid." Farhan dengan wajah agak ragu membicarakan tujuannya pada laki-laki muda yang seumuran Sani.
"Baik. Kalau boleh tahu, nama anda siapa dan darimana?" Tanya Rizal detail. Rizal sedang mengamati Farhan dari atas sampai bawah. Kalau dilihat selintas wajah Farhan terlihat bersih dan bercahaya. Tak ada kecurigaan bahwa Farhan adalah orang jahat. Tapi Rizal tetap harus hati-hati dan waspada.
"Perkenalkan saya Farhan. Saya datang dari Jakarta ingin bersilaturahmi dengan mas Hamid." Farhan memperhalus bicaranya agar tidak dicurigai sebagai orang yang akan berbuat jahat.
"Sebentar, saya akan panggilkan mas Hamid. Anda tunggu diluar!" Ucap Rizal mirip seorang pengawal mas Hamid.
Tak lama kemudian mas Hamid keluar dari rumahnya. Lalu menatap tamunya sedang meneliti apakah dia mengenalnya sebelumnya atau tidak.
"Maaf saya Hamid. Anda siapa ya?" Ucap mas Hamid sama-sama waspada.
"Saya Farhan mas Hamid. Saya datang dari Jakarta ada perlu dengan mas Hamid." Farhan menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Mas Hamid pun menyambutnya lalu mereka pun berjabat tangan.
"Mmm.. ada apa ya? Apa saya pernah kenal dengan anda?" Mas Hamid tidak serta merta mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.
"Saya belum pernah bertemu dan belum kenal dengan anda. Tapi.. salah satu kerabat saya kenal dengan anda." Farhan tidak langsung menyebutkan nama Sani didepan mas Hamid juga Rizal.
"Oh.. begitu ya? Kalau begitu mari masuk! Izal kamu tunggu di luar dulu ya!" Mas Hamid mengajak Farhan masuk ke dalam rumah setelah mendengar kata kerabat. Dia merasa tenang membawa Farhan masuk ke dalam rumahnya.
"Mari silahkan duduk!" Mas Hamid mempersilahkan Farhan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Dan mas Hamid pun duduk di depan Farhan.
"Terimakasih." Ucap Farhan ketika istrinya mas Hamid menyimpan cangkir berisi teh hangat di atas meja.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu mas Hamid. Pertama-tama saya datang jauh kesini ada hal yang perlu ditanyakan pada mas Hamid." Ucap Farhan menjeda kalimat.
Mas Hamid menatap serius pada Farhan. "Iya silahkan tanyakanlah! Apa yang perlu saya jawab?" Tanya mas Hamid sambil melihat Farhan sudah siap memasang telinganya.
"Begini mas. Apa betul Sani adalah murid ngajinya mas Hamid?" Tanya Farhan dengan hati-hati.
Wajah mas Hamid tiba-tiba menyorot tajam pada Farhan.
"Mmm.. sebentar. Anda kenal Sani?" Mas Hamid balik bertanya.
"Iya. Saya kenal dia." Jawab Farhan.
"Saya kesini ingin mendengar kabar tentang ibunya Sani, mas Hamid? Bagaimana dengan kabar ibunya? Bolehkah saya tahu tentang dia?" Ada hal lain yang Farhan ingin ketahui tentang ibunya Sani.
"Sebentar. Saya tidak akan langsung menjawab pertanyaan anda. Kenapa tiba-tiba anda peduli dengan ibunya? Dan apa hubungan anda dengan Sani? Apakah anda ingin anda nikahi?" Mas Hamid langsung menebak begitu saja. Biasanya kan orang jika mencari wali seorang anak, biasanya kalau tidak mau menikah lalu apalagi? Berita buruknya kalau dia mati.
"Eh.. bukan. Maksud saya begini mas Hamid. Sani sekarang ada bersama saya." Ucap Farhan.
"Ssst... jangan keras-keras!" Mas Hamid langsung memberi isyarat dengan telunjuk di bibir agar Farhan tidak membahas Sani terlalu keras dan kentara takut ada mata-mata yang sedang mengintai.
"Oh.. maaf." Ujar Farhan.
"Tolong suara anda dipelankan! Khawatir ada mata-mata mamah Banyu datang kesini. Beberapa waktu lalu saya pernah dianiaya gara-gara dianggap menyembunyikan Sani. Sani sekarang dalam pencarian. Setelah kebakaran yang habis melalap tempat itu anaknya mamah Banyu langsung ngamuk dan menangkap siapa saja yang dicurigainya." Ucap mas Hamid.
__ADS_1
"Makanya orang asing yang datang ke tempat ini sangat dicurigai. Saya khawatir anda pun sedang diawasi sekarang. Jadi kalau bisa anda segera pergi dari sini. Nanti kita bicara lagi lewat Handphone." Ucap mas Hamid.
"Baiklah kalau begitu. Anggap saja kalau ada yang bertanya sama mas Hamid, saya saudara mas Hamid saja. Ini kartu nama saya. Saya tunggu kabar mas Hamid secepatnya jika dianggap tempat ini tidak aman." Farhan pun bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan rumah mas Hamid.
"Iya baik. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Ujar mas Hamid harus mempersingkat obrolannya dengan Farhan karena dia takut kalau ada salah satu anak buah mamah Banyu berkeliaran dan mencintai rumahnya.
"Baik. Saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mas Hamid.
Farhan pun keluar dari rumah mas Hamid tanpa menoleh lagi ke belakang. Rizal yang sedari tadi berada di luar mengawasi keadaan takutnya mobil yang baru saja datang mengundang kecurigaan warga dan memicu anak buah mamah Banyu datang ke rumah mas Hamid. Karena sebelumnya pun mas Hamid pernah kena teror karena dianggap menyembunyikan Sani.
"Ayo mang kita pergi dari sini! Kita jangan menginap di hotel lagi!" Ucap Farhan langsung menginterupsi begitu dia masuk ke dalam mobil.
"Baik den." Mang Supri pun langsung melakukan mobil ke hotel dan Sani dilarang turun untuk mengurangi kecurigaan. Semua tas sudah dibawa mang Supri ke dalam mobil. Lalu setelah mereka membawa barang bawaan mereka langsung pergi meninggalkan kota K.
"Kenapa den? Keadaan di kampung neng Sani tidak aman?" Tanya mang Supri agak deg-degan.
"Ya begitulah mang. Mang Supri awasi juga di belakang takutnya ada yang menguntit kita!" Ucap Farhan yang sama-sama waspada.
"Baik den. Tapi sejak tadi sih mang Supri tidak melihat ada yang mencurigakan. Mungkin karena deng Farhan tadi bertamu tidak terlalu lama. Jadi warga di sana tidak begitu curiga dengan mobil asing yang bertamu ke mas Hamid." Terang Mas Supri yang sedari tadi waspada.
"Iya mang alhamdulillah. Untung kita pergi agak malaman. Kalau siang-siang gak tau tah, apa akan mengundang orang curiga." Farhan merasa beruntung waktu datang ke rumah mas Hamid, warga di sana sepertinya sedang berada di dalam rumah.
"Iya den. Alhamdulillah masih dilindungi Allah. Semoga saja kita selamat sampai tujuan." Mang Supri sama-sama berharap kebaikan dan keselamatan.
"Iya mang. Nanti kita istirahat di rest area saja! Mudah-mudahan sampai di sana aman mang."
__ADS_1
"