
"Kamu sudah menyelesaikan surat perceraian dengan Nisa?" Tanya sang kakak yang sedari tadi melihat wajah murung sang adik. Wajahnya yang tampan juga bersih beecahaya, sedikit kusut karena beberapa masalah yang sedang dipikirkannya.
"Sudah. Farhan ingin cepat selesai sebelum kembali ke Singapura." Farhan menoleh ke samping menatap wajah teduh sang kakak.
"Ya.. abang tidak bisa membantu banyak. Hanya doa dan dukungan yang terbaik buat kamu. Mungkin Allah ingin kamu tambah sabara dan kuat dengan ujian ini." Reza menepuk bahu adiknya agar lebih bersabar dan kuat menghadapi ujian yang menimpanya sekarang.
"Iya bang. Terimakasih. Saya juga titip ucapan Terima kasih untuk kak Sarah yang telah memberitahu kebohongan Nisa waktu itu. Farhan benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana selain bercerai bang. Karena kesalahan Nisa fatal. Farhan bisa memaafkan segala kekurangan dia bang. Tapi kalau dia berzina, Farhan tidak bisa bang."
Tes
Satu tetesan air bening keluar dari mata Farhan. Sakit hati dan sesak di dalam dadanya begitu besar. Melihat kenyataan telah dikhianati dan juga dibohongi oleh istri dan kedua mertuanya.
"Sabar... abang akan selalu ada mendukungmu. Kapan sidang perceraian akan digelar?" Tanya Reza yang tidak akan membiarkan adiknya sedih sendirian.
"Besok bang. Tadi ibunya Nisa dan Nisa ingin bertemu secara kekeluargaan. Bahkan mereka ingin datang kesini sambil ta'ziah. Tapi Farhan tidak sanggup melibat mereka bang. Menurut abang baiknya bagaimana?" Farhan menyeka air matanya dan menoleh pada Reza untuk meminta pendapat.
"Abang sama kak Sarah akan datang ke rumah mereka. Kamu disini saja temani abah. Jangan sampai abah kepikiran masalah kamu. InsyaAllah nanti abang yang akan menyampaikan pada keluarga mereka sebagai wali kamu." Reza sebagai kakak juga wakil dari orang tua akan mendatangi keluarga Nisa untuk menyelesaikan masalah perceraian Farhan.
"Terima kasih bang. Maaf jadi merepotkan abang juga kak Sarah." Imbuh Farhan tidak enak hati sudah banyak merepotkan kakaknya.
"Tak apa. Kamu adik abang. Sudah seharusnya kamu menjadi tanggungjawab abang." Reza membesarkan hati adiknya. Dia tahu bahwa sekarang adiknya sedang berduka juga hancur hatinya melihat kenyataan istri yang dijodohkan nya itu selingkuh.
"Baik bang. Sekali lagi terimakasih." Farhan memeluk kakaknya dengan haru. Air matanya kian deras dan jatuh meleleh di atas pipi nya. Tanpa disadari sejak tadi Sani juga bi Inah mengintip percakapan mereka yang kebetulan sedang berbicara di ruang belakang dekat dapur.
__ADS_1
"Mmm... kasihan den Farhan.. " ucap bi Inah sambil mengelus dadanya seolah ujian itu sedang menimpa anaknya sendiri.
"Mmm... nasibnya tidak seberuntung wajahnya." Tanpa sadar Sani sedang mengagumi laki-laki yang sedang bersedih itu.
Bi Inah menoleh ke samping memperhatikan aura wajah anak perempuan yang sedang berada di sampingnya.
"Hhmmm.. neng Sani naksir ya?" Bi Inah begitu saja bicara membuat Sani terkejut dan malu. Pipinya yang putih tiba-tiba merona merah dan berhawa panas.
"Ih.. apaan sih bi Inah. Bagaimana kalau kedengaran sama mas Farhan. Nanti kan jadi salah paham." Sani langsung melengos karena malu ketahuan bi Inah dia sedang mengagumi Farhan.
Bi Inah cekikikan sambil menutup mulut lalu mengikuti langkah Sani.
"Eh.. neng Sani suka pundungan. Gak pa-pa atuh. Bi Inah juga kalau masih muda segede neng Sani bakal. naksir juga kok!" Bi Inah senyam-senyum mesem.
"Ih.. bibi. Sudah umuran juga masih saja begitu. Nanti bagaimana kalau iya beneran." Sani langsung mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan di dapur. Kebetulan memang cucian piring bekas makan siang belum dibersihkan.
Sani menoleh ke arah bi Inah. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah bi Inah yang menurutnya ke kanak-kanakan.
Bi Inah langsung membersihkan kompor dan sisa-sisa memasak yang belum dibersihkan nya juga. Karena hari itu banyak orang jadi bi Inah masak lumayan banyak dan membuat dapur agak sedikit berantakan bekas sisa-sisa memasak juga cipratan bumbu yang menempel kemana-mana.
"Bi Inah.. " Suara pak Haji Zenal memanggil bi Inah dari ruang tengah.
"Iya Pak haji." Bi Inah langsung menghampiri Pak Haji Zenal sesudah mengelap tangannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Lihat Farhan sama Reza?" Mata Pak Haji Zenal memindai ke sana kemari.
"Oh.. sebentar saya panggilkan ya pak Haji." Bi Inah tergopoh-gopoh melangkah dengan langkahnya yang berat karena badannya yang tambun.
"Den Reza.. den Farhan.. dipanggil pak Haji.. " Bi Inah langsung ke ruang belakang yang dekat Mushola. Karena dia tahu dia orang yang sedang dicari pak Haji Zenal ada di sana.
Keduanya menoleh ke arah bi Inah dengan kompak.
"Oh iya bi." Reza segerakan berdiri.
"Ayo.. kita samperin abah. Mungkin ada yang mau dibicarakan sama abah pada kita!" Ajak Reza pada Farhan.
Farhan pun menurut. Dia berdiri lalu berjalan beriringan dengan Reza menghampiri pak Haji Zenal.
"Ada apa bah?" Tanya Reza ketika mendapati pak Haji sudah duduk di ruang tengah.
"Duduklah kalian berdua! Ajak juga Sarah kesini! Ada yang mau dibicarakan sama abah." Pak Haji Zenal nampak dengan wajah serius.
"Baik. Sebentar saya panggilkan dulu ya bah." Reza naik ke lantai dua untuk memanggil Sarah sedangkan Farhan duduk di samping pak Haji.
"Bagaiamana hasil kemarin pergi ke kampungnya Sani?" Tanya pak Haji Zenal pada Farhan. Kebetulan semenjak Farhan kembali ke Jakarta pak Haji belum sempat berbicara mengenai Sani.
"Waktu ke sana kebetulan Farhan belum berhasil bertemu dengan keluarga nya tapi baru dengan guru mengajinya. Di sana benar-benar rawan bah. Sampai-sampai rumah guru ngajinya Sani pernah didatangi para bodyguard rumah bordir untuk mencari keberadaan Sani. Tapi Farhan sudah berhasil berbicara lewat telepon dengan guru ngajinya Sani. Katanya semenjak Sani pergi ibunya Sani pergi dari rumahnya juga karena mendapatkan ancaman dari rumah bordir itu." Farhan hanya bisa menjelaskan sebatas yang dia tahu. Karena untuk datang kembali ke daerah itu rasanya agak riskan.
__ADS_1
"Oh.. begitu." Pak Haji Zenal mengangguk mengerti.
"Lalu bagaimana dengan masalah pernikahan kamu Far?" Pak Haji Zenal kelihatannya agak cemas. Diantara yang dipikirkannya semenjak kematian istrinya, masalah Farhan lah yang terasa berat di rasakan laki-laki tua yang sangat mencintai keluarga nya itu.