Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
13


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Pak Karim baru pulang sekitar jam setengah sebelas malam jika giliran shift siang.


"Waalaikumsalam." Indra yang masih belum tidur menjawab ayahnya yang baru pulang.


"Adik-adikmu sudah tidur?" Inilah rutinitas pak Karim jika sepulang kerja. Dia akan memeriksa kondisi anak-anaknya terlebih dahulu, sebelum melanjutkan aktivitasnya yang lain.


"Sudah pak!" Jawab Indra yang masih menonton televisi


"Ibu sudah tidur?" Pak Karim menanyakan istrinya.


"Gak tau. Tadi habis menyetrika langsung ke kamar." Jawab Indra apa adanya.


"Bagaimana Sani?"


"Apanya?" Indra bingung menjawab, karena pertanyaan pak Karim tidak jelas.


"Cerita ke bapak bagaimana dia sama ibu atau sama adik-adikmu?" Pak Karim penasaran dengan keadaan Sani setelah sampai di rumahnya.


"Bapak tidak ganti baju?" Inda melihat pak Karim masih memakai baju seragam security dan malah mengajaknya berbicara.


'"Iya nanti, sekalian mandi." Pak Karim tak sabar untuk mendengarkan Indra.


"Tadi Sani mengajar ngaji adik-adik. Juga bantu ibu cuci piring." Jelas Indra pada pak Karim.


"Cuci piring?" Pak Karim seperti keheranan mendengar Sani mencuci piring. Pak Karim tidak menyangka istrinya begitu tega menyuruh Sani membantunya mencuci piring, sedangkan luka-luka Sani masihlah basah.


"Bantu Sani kalau ibumu menyuruhnya bekerja! Bapak kasian melihatnya. Kalau sudah sembuh bapak juga tidak akan menyuruhnya tinggal disini." Ucap pak Karim dengan perasaan kecewa.


"Bagaimana lagi pak. Bapak sendiri tahu ibu seperti apa. Indra tak mau di rumah kita selalu terjadi keributan sesudah bapak membawa orang." Keluh Indra kerap kali mendengar pertengkaran antara bapak dan ibunya jika pak Karim membawa seseorang ke rumahnya.

__ADS_1


"Iya, bapak juga mengerti. Tapi bapak suka tidak tega jika melihat orang lain membutuhkan pertolongan. Selama kita masih bisa menolong, kenapa tidak?" Jawab pak Karim lemas.


"Iya. Bapak tolong dulu ibu, biar satu frekuensi. Kalau tidak, jangan harap niat bapak bersambut baik dengan ibu." Indra mematikan televisi dan membaringkan tubuhnya di atas karpet yang berada di depan televisi. Tak ada kamar yang bisa menampungnya tidur kecuali ruangan serbaguna yang biasa dipakai nonton, makan dan menyambut tamu. Satu ruangan multifungsi.


Pak Karim segera mengambil handuk dan bergegas masuk kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya dia masuk ke dalam kamarnya. Dilihat istrinya sudah terbaring lelap di atas kasur sempit yang hanya muat dua orang saja. Ya pak Karim memang bukan orang kaya, tapi dia berusaha menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan.


Dia cukup mensyukuri keadaannya yang serba pas-pasan. Gajinya sebagai security di sebuah rumah sakit cukup untuk membayar kontrakannya, dan membiayai semua anggota keluarga nya sehari-hari.


Pak Karim membaringkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Menatap langit-langit mengulang apa yang tadi Indra bicarakan.


Apakah aku harus menemui pak Haji untuk berkenan menampung Sani di sana? Dulu ada ruangan yang biasa dipakai marbot masjid. Mungkinkah aku bicara untuk menitipkan Sani di sana, sementara lukanya belum sembuh. Kasian kalau di sini istriku pasti mengomelinya tiap hari. Ah aku bingung... benar kata Indra. Aku harus menolong istriku satu frekuensi. Tapi bagaimana caranya? Belum lagi aku kepikiran tentang tuan besar yang sedang sakit. Katanya butuh cangkok tulang sum-sum segera. Ah darimana aku dapatkan untuk sekedar ongkos ke sana?


Pak Karim rupanya mendapatkan pesan dari mantan majikannya dulu yang sekarang sedang sakit. Katanya membutuhkan donor segera. Lalu siapa yang bisa mendonorkan tulang sum-sum untuk majikannya. Tak ada family yang dia punya.


Sebelum adzan subuh Sani sudah terbangun mencoba berwudlu karena lukanya sudah agak kering efek dari salep yang diberikan dokter. Lalu shalat witir 3 rakaat dan 2 rakaat shalat malam. Sani melakukan shalat sambil duduk di kursi karena belum bisa menekuk kakinya.


Orang-orang dewasa yang ada di rumah itu terhenyak kaget begitu mendengar suara deru mesin cuci berputar. Terutama Indra. Dia langsung mengucek matanya memastikan siapa yang sedang mencuci di hari yang masih gelap.


"Sani.. " Indra menatap aneh melihat Sani sudah menyelesaikan cucian piringnya.


"Eh Indra. Maaf jadi berisik ya?" Sani tersenyum manis karena merasa sikapnya mengganggu penghuni rumah.


"Kamu bangun jam berapa? Jam segini sudah beres nyuci." Indra terheran-heran melihat tumpukan piring sudah bersih di atas keranjang.


"Jam 3. Aku sudah biasa bekerja. Jadi kalau bangun terlalu siang agak tidak enak." Jelas Sani menerangkan tentang kebiasaannya.


"Ya sudah! Keluar! Aku akan angkat keranjang itu." Indra menyuruh Sani keluar dari kamar mandi.


"Terimakasih!" Ucap Sani pada Indra yang telah membantu membawakan keranjang itu ke dapur.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain Dina sedang duduk di depan kerja Rei membaca surat perjanjian yang haru ditandatanganinya.


Dina menautkan kedua alisnya. Tertera dalam perjanjian bahwa dia akan dinikahi dan akan diceraikan selepas surat wasiat turun.


"Jadi ini maksudnya dia membawaku kesini? Aku akan dinikahi karena untuk memenuhi keinginan ayahnya?" Dina bermonolog.


"Ah lebih naik aku tanda tangani saja. Nanti ya gimana nanti saja. Menurutku selama aku tidak melawan mudah-mudahan nasib baik menyertaiku." Dina menaruh harap pada nasibnya. Untuk saat ini Dina bersyukur bisa tinggal dan menikmati fasilitas mewah di rumah ini. Ketimbang harus melayani para hidung belang yang berada di rumah mamah Banyu.


Dina tak ambil pusing. Cukup sudah nasibnya yang rumit memusingkan pikirannya. Lalu dia pun menandatangani surat itu.


"Sekarang ikuti aku! Kamu perlu tersenyum manis jangan pernah membantah atau pun menyela. Kamu hanya bicara kalau aku izinkan. Selebihnya kamu hanya diam dan jangan banyak bicara!" Rei memperingati Dina agar mengikutinya.


"Baik." Dina hanya menuruti keinginan Rei.


Dina yang sudah memakai baju rapih ditambah parasnya yang cantik cukup serasi menemani Rei ke rumah sakit. Tujuannya akan mengunjungi tuan Tedi yang sedang terbaring lemah di ruangan VIP.


"Selamat sore!" Rei menyapa penghuni ruangan begitu membuka pintu sambil menuntun Dina.


"Apa kabar pih?" Rei walau suak bertengkar hatinya sebenarnya baik. Dia tak tega kalau harus berkata kasar pada orang yang lemah.


"Hhhm." Jawab tuan Tedi pendek.


"Pih.. Rei sudah bawakan pesan papih. Kenalkan ini Dina." Rei menarik tangan Dina untuk maju dan memperkenalkan dirinya di hadapan tuan Tedi.


"Perkenalkan saya Dina." Ucap Dina pada tuan Tedi.


"Frans bawa dia!" Tuan Tedi menyuruh asistennya untuk membawa Dina.


"Baik tuan. Mari nona ikuti saya!"

__ADS_1


__ADS_2