
Sani ke menghampiri bu Haji Zenal memamerkan baju yang tadi dibelinya di pasar. Sani bahagia sekali baru kali ini ada yang membelikannya baju sebanyak ini. Selama ini, Sani membeli baju saat mau lebaran saja. Itupun Sani sangat bahagia, karena tidak sedikit orang yang jangankan untuk membeli baju, untuk makan sehari-hari saja sangat sulit.
"Masya Allah, kamu cantik Sani." Mata bu Haji melebar seolah tak percaya bahwa itu adalah Sani yang tadi memakai daster lusuh pemberian istrinya pak Karim. Pada Dasarnya Sani memang gadis cantik, mau dipakaikan baju apa saja juga tetap menarik.
Farhan yang sedang sibuk berselancar ikut melirik ke arah Sani. Pandangan takjub itu seolah tak bisa mengedip dari sosok Sani apalagi dengan memakai baju baru dengan model yang sangat cocok dipakai Sani.
"Ayo coba satu-satu!" Bu Haji Zenal penasaran dengan semua baju yang tadi dibelinya. Walaupun bukan untuk dirinya, tapi ada kebahagiaan tersendiri ketika dia bisa memberi seseorang, kebahagiaan bersedekah.
Bu Haji Zenal yang tidak menyadari bahwa Farhan adalah laki-laki normal dan bisa tertarik dengan lawan jenis malah menyuruh Sani untuk mencoba semua baju-baju itu di depan matanya.
"Mi.. apa tidak sebaiknya dicoba di kamar saja?" Ucap Farhan semu malu, karena tidak dipungkiri hatinya mengakui kalau Sani memang menarik hatinya. Ini kali pertama buat Farhan bisa sedekat dengan perempuan. Dari dulu Farhan sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis untuk menjaga izzahnya sebagai orang muslim.
Farhan yang setelah takjub, dia langsung beristighfar dalam hati. Sesuai anjuran nabi Muhammad Saw,
Dia mengingatkan bu Haji Zenal agar Sani tidak memamerkan di depan dirinya. Bisa-bisa iman dan amin tidak singkron kalau terus-terusan digoda.
"Eh.. iya lupa umi. Ayo..coba di kamar Inah saja, Bu Haji jadi keder liat kamu Sani!" Bu Haji melihat Sani tampil menarik seolah lupa bahwa dia orang asing yang sedang berada di rumahnya. Bu Haji Zenal dan Sani beriringan berjalan menuju kamar Inah.
"Lho.. ada apa bu haji?" Inah agak terkejut ketika bu Haji masuk ke kamarnya.
"Ini, saya penasaran dengan baju-baju yang tadi dibeli. Ya takutnya tidak pantas." Ucap bu Haji Zenal agak menyembunyikan alasannya. Yang jelas tiap perempuan memang suka berbelanja dan suka sekali penasaran jika barang baru itu belum dicoba.
"Oh.. wah kalau Sani yang memakainya semuanya pasti pantes, apalagi bajunya dipilihkan oleh bu Haji." Ucap Inah memuji majikannya. Terlihat wajah bu Haji sumringah mendengar pujian Inah padanya.
"Ini bu Haji." Sani memakai baju yang kedua, dan ketiga sampai habis semua dicoba di depan bu Haji Zenal.
"Bener kan? Kata bi Inah juga apa? Pilihan baju bu Haji selalu modis."
__ADS_1
"Bi inah juga kaya ingin muda lagi kalau lihat seperti ini." Ucapnya dengan polos. Padahal dia sudah melewati masa 35 tahu yang lalu.
"Beneran bagus." Bu Haji sepertinya puas dengan semua barang belanjaannya.
"Terima kasih bu Haji!" Sani mengucapkan terimakasih lagi, walau tadi sudah dia lakukan. Mengingat bu Haji terlihat sangat bersemangat melihat Sani memakai baju barunya.
"Iya sama-sama. Kamu juga cepet sembuh ya! Biar kamu bisa.. " Separuh suaranya menggantung di udara manakal, sebuah panggilan padanya terdengar.
"Mi.. " Farhan memanggil bu Haji Zenal.
"Eh.. iya. Bu Haji tinggal dulu ya! Kamu siapkan makan buat bang Farhan!" Bu Haji Zenal menepuk bagi Sani dan bangkit dari kursi yang ada di kamar Inah lalu menghampiri Farhan.
"Iya ada apa Farhan?" Tanya bu Haji Zenal pada Farhan yang terlihat mengerutkan dahi.
"Kayanya Farhan tidak bisa menemui Nisa deh Mi!" Ucap Farhan mengeluhkan ketidaksiapannya.
"Yuk duduk dulu mi!" Farhan menuntun Ibunya ke meja makan.
Sani mulai menata meja membantu bi Inah, untuk menyiapkan makan siangnya keluarga bu Haji Zenal.
"Maaf mi, pekerjaan Farhan sekarang agak sulit. Barusan Farhan dihubungi dari Singapura disuruh untuk mencari pendonor. Bos Farhan mempunyai golongan darah yang cukup sulit ditemukan." Farhan Bingung harus mencari pendonor yang mempunyai golongan darah unik. Farhan berusaha menjelaskan pada ibunya tentang kesulitan pekerjaannya.
"Kenapa sih Farhan, kamu bekerja tapi harus mengurus masalah bos kamu sedetail itu? Apakah kamu tidak mau mengelola usaha abah?" Bu Haji nampak kecewa. Dia menyarankan Farhan untuk mengelola usaha Haji Zenal.
"Maaf mi, InsyaAllah kalau Farhan sudah mendapatkan pengalaman, nanti Farhan pulang. Tapi untuk waktu sekang sepertinya Farhan harus banyak belajar dulu. Farhan ingin mempunyai modal dulu mi. Jadi Farhan bisa tenang tidak mengandalkan modal dari abah." Ucap Farhan dengan menggenggam tangan bu Haji Zenal. dengan lembut. Tangan yang selalu ada di saat Farhan membutuhkan belaian dan kasih sayang, juga perhatian. Tangan yang selalu menggenggam di saat dirinya lemah, tangan yang selalu dirindukannya dikala sepi, tangan yang begitu tulus merawat dirinya sampai sebesar ini.
Bu Haji Zenal, sedang berpikir. Kalau Farhan sulit untuk diajak ke rumah Nisa. "Bagai kalau keluarga Nisa saja yang datang ke sini." Terbersit dalam pikiran bu Haji Zenal untuk mengundang makan keluarga Nisa malam ini.
__ADS_1
####
Tanpa sepengetahuan Farhan, bu Haji Zenal sudah menghubungi keluarga Nisa untuk datang pada acara makan malam. Dia hanya memberi tahu suaminya saja. Bi Inah dibantu Sani memasak di dapur. Beberapa menu dipesan dari luar karena acaranya dadakan.
"Assalamu'alaikum." Suara salam terdengar dari pintu.
"Bah sepertinya mereka sudah datang." Bu Haji Zenal nampak sumringah.
"Bi Inah coba buka pintu!" Bu Haji Zenal memanggil bi Inah untuk membuka pintu.
"Baik bu Haji." Bi Inah pun pergi ke pintu depan dan membuka pintu.
"Silahkan masuk!" Bi Inah dengan ramah menyambut tamu.
"Eh jeng Reni.. " Bu Haji Zenal langsung menghampiri tamu dan bersalaman. Begitupun dengan pak Haji Zenal.
"Ayo silahkan masuk!" Mereka mempersilakan masuk.
"Wah Nisa tambah cantik saja!" Bu Haji Zenal memuji kecantikan Nisa. Penampilan Nisa memang terlihat gaul. Dia memakai Rok tiga perempat dan atasan model anak muda kemeja dan berompi.
"Terimakasih bu Haji." Ucap Nisa dengan sopan.
"Duh maaf ya jeng.. saya mengundang jeng Reni. dan pak Pian mendadak. Kebetulan Farhan lagi siap-siap mau kembali ke Singapura.
"Oh gak pa-pa bu Haji. Malah kalau direncanakan suka tidak jadi." Ucap jeng Reni memberikan dukungan.
"Sebentar saya panggilkan Farhan." Bu Haji naik ke lantai dua memanggil Farhan.
__ADS_1
"Ayo..kamu turun Far!"