
"Assalamu'alaikum." Salam terdengar bersamaan dengan pintu rumah sakit dibuka. Seseorang menyembul dari pintu dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan
" Wa'alaikumussalam..Bang Farhan.. " Suara Nisa tercekat dan wajahnya memucat. Ibunya Nisa yang sedang menelpon pun turut melihat ke arah pintu begitu nama Farhan disebut.
Sorot mata Farhan begitu terlihat mengintimidasi melihat Nisa. Dia menilik dari atas sampai bawah tubuh yang sedang terkulai lemah.
"Nis.. " Hanya itu yang mampu bibir Farhan katakan. Entah kenapa sebagian tenaga Farhan seperti menguap begitu melihat keadaan Nisa ada di ruangan itu seperti apa yang dikatakan Sarah.
"Bang... " Cairan bening segera terkumpul di kedua kelopak mata Nisa. Ada ketakutan yang sekarang dirasakan Nisa begitu Farhan ada di depannya.
Tapi Jeng Reni tak bisa diam begitu saja membiarkan Farhan mengetahui apa yang sebenarnya dialami Nisa.
"Maaf bang Farhan.. mama juga baru tahu, kalau Nisa ada di sini. Tadi temennya menelpon, katanya Nisa pingsan. Ternyata Nisa terkena anemia akut, begitu haidnya datang. Mama mohon maaf selama ini suka abai pada Nisa. Jika haid datang Nisa memang suka sakit, tapi mamah tidak menyangka kalau Nisa mengalami anemia. Sekarang Nisa harus mendapatkan perawatan dokter." Jeng Reni dengan cepat mengarang cerita tentang keadaan Nisa.
Farhan terdiam. Dengan ibunya Nisa tadi tidak memberitahukan Nisa di rumah sakit saja itu pasti ada yang disembunyikan mereka tentang Nisa.
Farhan tak bisa mempercayai begitu saja cerita mertuanya itu. Farhan hany menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal sebenarnya.
Tadi sebelum Farhan masuk menemui Nisa, dia sudah bertemu dulu dengan dokter Tina temannya Sarah. Sekaligus dokter kandungan pribadi Sarah yang sudah lama menangani Sarah yang sedang terapi kehamilan. Karena sampai sat ini Sarah belum juga hamil.
"Kamu cepat sembuh ya! Maaf abang harus berbagi perhatian bersama umi." Ucap Farhan yang tak bisa menemani istrinya saat ini karena dirinya kebagian menunggu ibunya.
"Gak pa-pa bang Farhan. Kan disini ada mama. Biar Nisa sama mama aja. Kamu tidak usah khawatir tentang Nisa." Ucap Jeng Reni menjawab dengan cepat. Ada baiknya Farhan tidak bisa menemani Nisa menurut pikirnya. Karena kalau tidak, aib Nisa akan terbongkar.
"Baiklah. Seluruh biaya akan Farhan tanggung. Nanti kalau ada apa-apa kabari Farhan saja! Farhan mau kembali ke ruang ICU." Suara Farhan jelas terdengar tak bersemangat. Bayangkan saja kekecewaan Farhan yang sudah mendapatkan pengkhianatan Nisa juga keluarganya yang menutupi kehamilannya pada Farhan. Ini sungguh tak bisa dimaafkan. Dia begitu tega menikahkan Nisa yang sudah berbadan dua, pada Farhan yang notabene bukan ayah kandung bayi yang sedang dikandung Nisa.
"Iya bang. Maafkan Nisa bang!" uara Nisa terdengar gemetaran. Meski ibunya melindungi aibnya, tapi hati kecilnya tak bisa dibohongi bahwa dia merasa bersalah dan berdosa pada Farhan.
__ADS_1
"Abang pergi dulu ya Nis, ma! Assalamu'alaikum." Farhan memutar tumitnya melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang. Hatinya merasa sakit. Ternyata apa yang dikatakan kak Sarah mengenai istrinya benar adanya. Ditambah mereka malah berbohong dan menutupi kesalahan Nisa seolah Farhan tidak tahu apa-apa.
"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Ya Allah... dosa apa hamba sampai harus menerima cobaan ini? Hamba minta ampun Ya Allah... dari dosa dan khilaf hamba." Farhan duduk di salah satu kursi tunggu yang kebetulan sepi. Dia tertunduk. Kedua kelopak matanya mengeluarkan air mata. Bukan karena kecewa pada mereka tapi lebih pada ke dosa-dosanya sendiri.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang sedari tadi duduk di luar ruangan Nisa menghampiri Farhan. Sedari tadi dia memperhatikan Farhan yang sedang duduk tertunduk. Bahkan gumaman Farhan pun masih jelas terdengar oleh dirinya.
Farhan yang sedang menunduk melihat sepatu yang berada di sampingnya mendongak. Nenoleh ke arah laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.
Farhan mengangkat wajahnya lalu duduk tegak. Dia tak mau orang lain melihatnya bersedih.
Hening
"Kamu.. siapanya Nisa?" Laki-laki di samping Nisa tiba-tiba bicara dan melirik pada Farhan.
Farhan yang mendengar orang yang di sampingnya mengajak berbicara menoleh ke samping.
"Mmm. Aku temannya Nisa yang membawa Nisa sampai ke rumah sakit. Aku Ridlo." Terang Ridlo pada Farhan.
"Ridlo?" Farhan dahinya berkerut mengingat-ingat nama Ridlo.
Dimana aku mendengar namanya ya? Rasanya familiar.
Sayang Farhan hanya mengucapkannya di dalam hati.
"Terima kasih sudah membantu istri saya, dan membawanya ke rumah sakit." Imbuh Farhan pada laki-laki yang berada di sampingnya.
"Sama-sama." Jawab Ridlo.
__ADS_1
"Mmm.. maaf... " Ridlo ingin berbicara dengan Farhan.
Kring
Kring
Kring
Suara handphone Farhan berbunyi tandanya ada panggilan.
"Maaf.. " Farhan berdiri dan menjauhi Ridlo. Farhan tak fokus dengan perkataan Ridlo sebelum handphonenya berbunyi.
"Apa? Umi...? Iya ya bah aku sekarang kesana." Farhan terhenyak mendengar berita tentang ibunya. Dia langsung berlari menuju ruangan ICU untuk menemani pak Haji Zenal.
Penyemangat hidupnya kini telah berpulang ke rahmatullah. Farhan tak kuasa dengan kesedihannya begitu kabar Ibunya menghembuskan nafas. Dunia seakan berhenti sejenak untuk berputar menerima takdir yang baru saja disodorkan Allah padanya bersamaan dengan ujian pernikahannya dengan Nisa.
"Abah... " Farhan langsung memeluk ayahnya yang paling dulu tahu kematian bu Haji Zenal.
"Sabar Farhan.. sabar.. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umi. Doakan agar umi ringan hisabnya! Dimudahkan jalan kuburnya. Dan diampuni segala dosa-dosanya. Dan di muliakan tempat kembalinya. Kita mesti ikhlas." Pak Haji Zenal nampak bersabar dengan ujian kematian istrinya. Dia berusaha membesarkan Farhan yang sangat kehilangan ibunya. Dia tahu istrinya amat sayang pada Farhan.
"Abah.. maafkan Farhan... Farhan terlambat. Tadi Farhan ada perlu dulu. Tolong maafkan Farhan tidak bisa membersamai umi tadi." Farhanenangis sesenggukan di bahu pak Haji Zenal.
"Tak apa. Tadi abah sudah menemani umi di saat-saat terakhirnya. Abah ikhlas.. abah ikhlas melepaskan umi. Biarkan umi ringan pulang kepada Allah. Jangan diberatkan dengan tangisan kita." Pak Haji Zenal menguatkan Farhan dengan mengusap punggung anaknya.
Tak lama kemudian Reza dan Sarah pun datang. Mereka saling memeluk bergantian pada pak Haji Zenal. Saling menguatkan atas kepergian ibunya yang mereka sangat menyayanginya.
Tak lama kemudian jenazah pun dibawa pulang setelah urusan administrasi diselesaikan.
__ADS_1
Banyak tamu ta'ziah yang terus berdatangan ke rumah keluarga pak Haji Zenal. Keluarga ini yang terkenal dengan kebaikannya tentu meninggalkan bekas di setiap orang yang pernah menerima bantuannya ataupun kebaikannya. Ucapan doa terus saja mengalir dari tamu.