
Farhan mengantarkan pak Haji Zenal juga Sarah ke rumah yang sama. Sarah dan Reza jadi pulang ke rumah orang tuanya semenjak bu haji Zenal masuk rumah sakit.
Farhan yang baru menikah, tinggal bersama istrinya juga mertuanya. Dia bingung jika harus tinggal di rumahnya sendiri karena pernikahannya baru saja beberapa hari. Ya.. lagi hangat-hangatnya mencoba dunia baru yaitu syurga bagi para manusia yang baru menikah.
Ini adalah malam ketiga yang dijalani Farhan. Setelah malam pertama Farhan yang tidak pernah mencurigai apapun tentang Nisa yang sudah tidak lagi perawan lagi. Mungkin entah Farhan keasikan atau memang tentang hal itu Farhan agak bodoh, sehingga dia tak pernah mempermasalahkannya. Malam keduanya Farhan menginap di rumahnya sendiri karena ada urusan yang harus dikerjakannya.
Dan sekarang adalah malam ketiga. Farhan dan Nisa sudah sampai di rumah. Keduanya terlihat letih karena sesudah belanja tadi haris ke rumah sakit lantas Farhan harus mengantarkan abahnya juga kak Sarah.
Waktu sudah menujukkan hampir jam sembilan lebih. Farhan segera sholat isya setelah tadi terlebih dahulu mandi untuk membersihkan badannya yang lengket karena keringat.
Keduanya membaringkan tubuhnya di kasur setelah melaksanakan shalat isya berjamaah.
"Nis.. " Farhan menatap istrinya yang masih main handphone.
"Mmm.. " Jawab Nisa singkat. Dia masih sibuk berkirim pesan entah dengan siapa.
"Kamu capek tidak?" Farhan sepertinya ingin menyentuh Nisa.
"Mmm... Ya gitu deh.. " Nisa masih cuek tidak melihat Farhan yang sudah berkabut hasrat.
Setelah mencoba kenikmatan bermalam pengantin, Farhan sebagai laki-laki normal pastinya akan merasakan dorongan yang lain dari dalam tubuhnya. Berbeda dengan laki-laki yang belum menikah. Hasrat itu sudah tidak bisa ditahan lagi jika sudah terlepas segelnya.
Makanya dalam agama diharuskan menundukkan pandangan menjauhi zina, karena jika sudah mencoba satu hal ini, itu seperti candu yang tidak bisa lagi ditahan.
Tidak masalah jika hal itu dirasakan pasangan halal. Justru akan menjadi ibadah kalau dilakukannya sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya.
"Nis.." Farhan mengelus halus pipi Nisa. Farhan mendekatkan wajahnya pada Nisa yang sedang tidur terlentang.
"Hummmppp... " Farhan langsung memburu bibir seksi Nisa yang sudah tidak memakai lipstik. Nisa yang mendapatkan serangan dadakan langsung kaget dan menjatuhkan handphonenya.
Mata Nisa melebar saking kagetnya. Bukannya senang disentuh Farhan, malah replek dia mendorong tubuh Farhan.
Farhan yang mendapatkan penolakan Nisa tentu saja kaget.
__ADS_1
"Ada apa Nis?" Farhan mengangkat wajahnya dari Nisa sambil memandang wajah istrinya. Hasrat yang muncul belum sempat disalurkan malah sekarang mendapatkan penolakan.
"Aku capek bang.. " Nisa marah. Dia mendengus kesal pada Farhan lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Farhan yang masih tergugu memandangi wajah istrinya. Meski awalnya Farhan menolak Nisa, tapi setelah mencoba malam pertama Farhan seperti ketagihan dan melupakan bahwa dirinya pernah tidak menyukai Nisa.
"Maaf.. abang tidak tahu kalau Nisa sedang capek." Lirih Farhan menahan kecewa ditolak Nisa begitu saja. Padahal yang namanya suami, berhak kapan saja menyentuh istrinya selama istrinya tidak sakit atau udzur.
Farhan memandangi langit-langit kamar Nisa dan menarik nafas agak kasar. Dia berusaha bersabar atas sikap istrinya yang seperti itu. Semoga dengan dia bersabar bisa meluluhkan hati Nisa dan mengubah sikapnya yang arogan. Kini terbukalah satu persatu keburukan istrinya. Di mata Farhan ini bukan suatu yang harus dihindari tapi Nisa perlu dibimbing agar menjadi istri yang baik sesuai agama.
Setelah berdoa Farhan pun tertidur dengan pulas melupakan penolakan istrinya yang tak mau disentuh.
Subuh-subuh Farhan sudah bangun, lalu mandi dan shalat tiga rakaat witir. Setelah itu membangunkan Nisa yang masih tidur.
"Nis.. bangun! Sebentar lagi subuh. Abang mau pergi ke mesjid." Farhan mengelus lembut pipi Nisa lalu mencium keningnya tanda mesra.
"Mmm.. " Nisa melenguh dari tidurnya. Sebentar menyipitkan matanya ke arah Farhan yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Aku pergi dulu ya! Assalamu'alaikum." Farhan berdiri lalu keluar kamar hendak pergi ke mesjid.
Rumah mertuanya masih nampak sepi, tidak seperti di rumahnya jam segini mereka sudah terbangun.
"Assalamu'alaikum." Farhan masuk lewat jalan tengah, tepatnya pintu ruang keluarga.
"Eh den Farhan. Wah menantu ibu hebat! Subuh-subuh sudah pergi ke mesjid." Ucap pembantu rumah mertuanya memuji Farhan.
Farhan hanya tersenyum.
"Mau bibi bikinkan air bang Farhan?" Tawarnya yang tahu kalau Nisa jam segini belum bangun.
"Boleh bi.. teh manis saja!" ucap Farhan meminta dibuatkan teh manis.
"Sebentar ya... bibi buatkan." Dia pergi ke dapur dengan cepat menyajikan teh manis hangat ke hadapan Farhan yang duduk di sofa ruang tamu.
"Ini den.. teh nya.. " Segelas teh hangat manis bersama kue biskuit disimpan di atas meja.
__ADS_1
"Terima kasih bi."
"Sama-sama den." Perempuan paruh baya itu kembali ke dapur memulai aktivitasnya sebagai pembantu rumah tangga.
"Bismillah...Sruttt.." Farhan menyeruput teh manis hangat yang sudah terhidang di atas meja. Tenggorokannya terasa nyaman sekali begitu teh itu mengalir di sepanjang tenggorokannya.
"Alhamdulillah.. " Farhan menyimpan kembali gelas yang masih berisi teh manis hangat di atas meja. Dia berdiri melangkah menuju kamar Nisa hendak menyimpan sajadah dan sarungnya.
"Assalamu'alaikum." Farhan membuka pintu kamar sambil mengedarkan pandangan. Ternyata Nisa masih meringkuk di atas kasur. Farhan menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya.
"Nis.. bangun! Shalat subuh dulu!" Ucap Farhan menepuk bahu Nisa pelan.
"Mmm... masih ngantuk... " Nisa malah menarik selimut lalu kembali menutup matanya.
"Nis... gak baik menunda-nunda shalat." Farhan menasehati Nisa dengan lemah lembut.
"Iya.. Mmm" Nisa mengucek matanya lalu bangun melihat Farhan yang sedang memperhatikan dirinya.
"Sudah berdoa bangun tidur belum?" Farhan tersenyum melihat Nisa masih duduk di atas kasur dengan rambutnya yang menyembul.
"Mmm.. " Jawab Nisa singkat sambil turun dari kasur lalu pergi ke kamar mandi.
Hoek... hoek.. perut Nisa terasa dikocok. Dia mendekati toilet duduk memuntahkan isi perutnya yang masih kosong. Ada rasa pahit ditenggorokannya.
"Nis.. kamu gak pa-pa?" Farhan yang mendengar Nisa muntah, panik lalu menggedor pintu kamar mandi.
"Gak pa-pa.. " Jawab Nisa berbohong padahal perut dan kepalanya agak sakit merasakan bekas muntah yang cukup mengocok perutnya.
"Aku buatkan teh manis ya!" Tawar Farhan.
"Mmm... " Jawab Nisa singkat.
Farhan keluar kamar lalu pergi ke dapur meminta ART membuatkan Nisa segelas teh manis.
__ADS_1
Tak lama kemudian Farhan membawa teh itu ke dalam kamar.
"Nis minum dulu! Biar perut kamu enakan." Farhan menyodorkan segelas teh hangat.