Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Ingin bercerai


__ADS_3

Acara pemakaman almarhumah bu Haji Zenal pun selesai sudah. Banyak pelayad yang ingin mengantarkan jenazah itu sampai pekuburan. Tak terkecuali Jeng Reni dan suaminya.


Nisa yang masih perawatan tak bisa iku melayat mertuanya karena belum kuat untuk berjalan kaki.


Sani dan bi Inah saling merangkul. Mereka sangat sedih sekali atas kepergian bu Haji Zenal yang baik hati.


Setelah pemakaman selesai satu persatu pulang meninggalkan pekuburan. Hanya Farhan yang masih duduk sendirian di atas pusara ibunya.


Kesedihan Farhan yang ditinggalkan ibunya tercinta sangat berbekas di hatinya. Ibunya yang selama ini selalu memberikan semangat, menggenggam tangannya di saat lemah juga yang selalu mencurahkan perhatiannya untuk keluarga. Tentu rasa kehilangannya teramat besar.


"Umi.. selamat jalan semoga suatu hari kita akan bertemu kembali di surga-Nya kelak. Selamat istirahat dari segala kelelahan. Semoga kuburmu dilapangkan dan tempat kembalimu dimuliakan." Sejak berita kematian ibunya, Farhan tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Begitupun sekarang, air matanya tak surut untuk keluar.


"Far.. " Reza menepuk bahu Farhan


Tadi setelah Reza meninggalkan pemakaman, pak Haji Zenal menyuruhnya untuk menyusul Farhan yang masih di depan pusara ibunya seolah belum mau berpisah.


Farhan mendongak melihat Reza sambil menyeka air matanya yang selalu berair. Bola matanya terlihat merah.


"Far..Mari kita pulang! Ikhlaskan umi pulang tanpa beban. Jangan menangis berlebihan! Itu tidak di perbolehkan oleh rosul." Ucap Reza menasehati Farhan. Meski Farhan juga tahu hukumnya tak boleh bersedih berlebihan, tapi dia tidak kuasa menahan hatinya untuk tidak bersedih.


"Iya bang." Farhan berdiri.


Reza merangkul bahu adiknya, menuntun dia untuk pulang bersama.


Sesampainya di rumah, Farhan masih menerima tamu yang mengucapkan turut berbela sungkawa.


Satu persatu tamu pun pulang. Jam sepuluh malam rumahnya nampak sepi setelah beberapa jamaah mesjid melakukan doa di rumahnya.


Reza bersama Sarah menginap kembali di rumah orang tuanya. Begitupun dengan Farhan.


"Far.. aku tak melihat Nisa ada." Reza tiba-tiba menanyakan keberadaan Nisa. Sejak kepulangan jenazah sampai pemakaman Reza tak melihatnya. Hanya melihat orang tuanya saja.

__ADS_1


"Dia lagi sakit bang. Masih di rumah sakit." Jawab Farhan.


"Oh.. kamu kok gak cerita?" Tanya Reza agak heran.


"Masuk rumah sakitnya bereng umi meninggal bang. Saya juga sama baru tahu." Jawab Farhan.


"Kalau istrimu sakit. Kamu temani dia! Biar abang yang bersama abah dam menerima tamu jika ada." Saran Reza yang belum mengetahui permasalahan Farhan.


"Bang.. boleh aku curhat?" Farhan melihat pada Reza.


"Iya.. bicaralah!" Ucap Reza.


"Bagaiamana menurut abang kalau aku bercerai dengan Nisa?"


Deg


Reza terhenyak kaget dengan perkataan Farhan.


"Baik bang. Farhan akan tunda sampai waktu yang tepat." Jawaban Farhan tentu bukan berarti dia akan menggagalkan perceraian tapi dia akan menunda menceraikan Nisa sampai waktu yang tepat.


Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan pikiran Farhan. Apakah karena perjodohannya Farhan, dia belum merasa ikhlas, atau entah ada masalah lain. Atau bisa jadi karena ibunya sudah meninggal inilah kesempatan bagi Farhan untuk melepaskan diri dari perjodohan. Yang jelas ini masih hari berkabung. Reza dan Farhan belum bisa membicarakan masalah apapun kecuali nanti ketika masa berkabung sudah selesai.


Di lain tempat Sani dan bi Inah sibuk di dapur menyediakan beberapa masakan dan menyiapkan untuk para tamu ta'ziah yang jauh datang dari luar kota, seperti saudara juga teman dekat dan para kolega keluarga itu.


Sani yang baru sembuh dari sakit tidak mau duduk berdiam diri melihat bi Inah sibuk.


"Neng Sani jangan terlalu lelah biar sama bibi aja! Kan baru sembuh. Bagaimana nanti kalau kecapean kamu sakit lagi?" Bi Inah begitu mengkhawatirkan Sani. Meski dia bukan anaknya sendiri, tapi karena Sani anak yang baik, bi Inah begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Gak pa-pa bi. Saya sudah sehat insyaallah. Saya gak enak harus duduk-duduk sedangkan bibi sibuk. Saya juga merasa keluarga ini juga banyak berjasa terutama almarhumah bu Haji Zenal." Ucap Sani yang masih mengingat kebaikan bu Haji Zenal pertama kali Sani datang ke rumah ini.


Sani membawa nampan ke atas meja makan dan menyuguhi beberapa tamu.

__ADS_1


"Sani biar abang saja yang membawakan nampannya! Kamu istirahat dulu!" Farhan membawa nampan yang dipegang Sani.


"Gak apa-apa bang. Sani sudah sehat." Jawab Sani sambil menunduk.


"Gak pa-pa giliran abang sekarang. Kamu sudah sejak tadi bekerja. Istirahatlah!" Farhan semu memaksa menyuruh Sani beristirahat.


"Baik bang. Saya bantu-bantu di dapur bersama bi Inah saja. Kasihan bi Inah sibuk sendiri." Sani memilih duduk di dapur sambil menata beberapa kue ke dalam piring dan apa yang bisa dilakukannya sambil duduk.


"Tadi juga sudah dibilang sama bi Inah den. Tapi neng Sani tak mau. Padahal sudah ada beberapa yang membantu." Ucap bi Inah melaporkan pada Farhan.


"Kamu sudah shalat isya belum?" Farhan bertanya pada Sani yang sejak tadi bolak-balik melayani tamu tanpa terlihat istirahat.


"Mmm.. belum bang. InsyaAllah kalau tamunya sudah pulang saya akan shalat isya." Jawab Sani.


"Sekarang kamu shalat isya, lalu tidur! Abang gak mau kamu kelelahan dan besok malah harus balik lagi ke rumah sakit karena penyakit kamu kambuh. Biarkan pekerjaan di dapur dikerjakan yang lain. Masih banyak orang yang membantu bi Inah. Kamu nurut deh apa yang abang katakan!" Farhan lebih tegas lagi pada Sani.


"Mmm.. baiklah bang. Sani mau shalat sekarang. Maaf ya bi Inah.. saya duluan." Akhirnya Sani menurut pada Farhan dan berpamitan pada bi Inah.


"Iya neng Sani. Jangan lupa obatnya dimakan!" Ucap bi Inah mengingatkan Sani.


"Iya bi. Terimakasih." Ucap Sani meninggalkan dapur dan masuk ke kamar tidur untuk shalat dan tidur.


"Den.. neng Nisa kemana? Bibi dari tadi tidak melihatnya." Bi Inah bertanya akan keberadaan istrinya Farhan.


"Lagi sakit bi. Jadi tidak bisa kesini." Ucap Farhan.


"Oh.. sakit apa den?"


"Sakit... anemia bi." Bohong Farhan tak mau membuka aib istrinya pada bi Inah.


"Oh.. Bibi do'akan semoga neng Nisa cepat sembuh. Dan segera cepat mendapatkan momongan ya!" Bi Inah dengan polosnya mendoakan Nisa dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2