
Farhan, mang Supri juga Sani beristirahat di rest Area. Selain mengisi perut mereka pun menunaikan shalat. Mereka sejenak beristirahat dengan mata waspada takut ada yang mengikutinya. Sejak kebakaran yang menimpa tempatnya mamah Banyu dan menghilangnya Sani, semua warga kampung menjadi ketakutan. Hampir tiap hati diteror oleh anak buah mamah Banyu yang mencari penyebab kebakaran dan siapa pelaku pembakaran. Karena kebakaran yang terjadi menurut berita kepolisian, disebabkan adanya unsur kesengajaan. Oleh sebab itu anaknya mamah Banyu menjadi geram, karena kini tempat usahanya habis sudah dilalap api.
"Mas Farhan biar saya aja yang menyetir. InsyaAllah saya kuat." Ucap mang Supri tak enak hati harus bergantian dengan Farhan sang majikan.
"Gak pa-pa mang, nanti kita gantian aja! Sekarang mang Supri tidur saja dulu! Lagian saya belum mengantuk." Ucap Farhan yang sekarang duduk di bangku kemudi siap-siap akan kembali ke Jakarta. Perjalan masih ada sekitar lima jam lagi untuk ke Jakarta. Farhan tidak mau mang Supri kelelahan di jalan karena tadi pun sewaktu berangkat, lebih banyak mang Supri menyetir ketimbang dirinya.
"Baik den. Nanti bangunkan saya ya! Mohon maaf mang Supri jadi tidur duluan nih!" Ucap mang Supri berbasa-basi pada majikannya.
"Gak pa-pa mang. Yang penting saya ada temen satu mobil, tidak terlalu sendirian. Saya stel kaset murottal pelan ya mang! Biar adem." Farhan meminta izin pada mang Supri. Malam yang sepi juga jalanan yang agak cukup mencekam, membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi Farhan takut ada yang menguntit di belakang. Melihat mas Hamid waspada saja, berarti kampung yang dulu ditempati Sani sedang tidak aman dikunjungi oleh orang asing.
"Oh.. iya den. Mang juga suka dengernya. Suka tentrem bawaannya. Apalagi sekarang malam, jadi biar adem ke hati." Mang Supri juga mempunyai perasaan yang sama jika di stel ayat Al-Quran di sela menyupir. Dia sama sekali byidak keberatan Farhan menstel ayat murottal di mobilnya.
"Terimakasih mang. Mang Supri mau pindah ke belakang? Biar bisa tidur berbaring." Farhan menawari mang Supri untuk tidur di jok paling belakang agar bisa tidur lebih leluasa dan istirahatnya tidak terganggu.
"Aden gak pa-pa ditinggal sendirian di depan?" Mang Supri kembali bertanya. Khawatir majikannya kesepian dan butuh teman. Soalnya keadaan malam.
"Gak pa-pa mang. Nanti kita gantian nyupir di rest area lagi. Biar mang Supri tidurnya enakan." Sebenarnya mang Supri lebih lama menyupir daripada dirinya sendiri. Farhan merasa kasihan pada mang Supri yang sedari tadi duduk. Pastinya ada pegal juga dirasakan mang Supri.
"Baiklah den. Mohon maaf ya mang jadi gak sopan sama deng Farhan." Mang Supri yang sudah lama jadi supir pribadi bersama keluarga oak Haji Zenal, tentu tahu aturan. Dia harus menghormati majikannya meski umurnya lebih muda daripadanya.
"Gak pa-pa mang. Yuk kita berangkat! Jangan lupa bedoa!" Ucap Farhan mulai melajukan mobilnya yang tak lupa sebelumnya sudah berdoa terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan Sani tidak bisa tidur. Karena khawatir Farhan menyetir sendirian di malam gelap gulita. Ada perasaan mencekam. Tadinya memang mereka akan mengina barang satu malam. Tetapi karena keadaan yang mengkhawatirkan jadilah Farhan mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta secepatnya.
__ADS_1
"Sani kamu tidak tidur?" Farhan yang melihat sepintas dari kaca spion melihat Sani berjaga.
"Iya. Kebetulan saya tidak mengantuk." Jawab Sani yang memang tidak mengantuk dan tidak berniat tidur.
"Mmm.. sambil nyemil biar gak bosan!" Farhan yang tadi membeli cemilan untuk di perjalanan menyuruh Sani memakannya.
"Iya mas." Sani membuka satu kantong kresek besar yang isinya macam-macam cemilan dan oleh-oleh.
Sani membuka satu bungkusan menarik yang berisi cemilan yang isinya ciki.
"Mas Farhan mau?" Sani menawari cemilan itu pada Farhan.
"Boleh. Tolong diambilkan saja! Aku susah bawanya!" Farhan menginterupsi Sani.
Satu tangan Farhan menerima cemilan itu lalu mengunyah dengan asik sambil menyetir.
Sani pun menikmati cemilan itu sambil ikut menatap ke depan.
"Kalau jalan pantura malam-malam gini sepi juga ya?" Farhan mengajak ngobrol Sani biar tidak terlalu sepi.
"Iya mas. Paling bis malam sama truk-truk yang lewat. Kecuali musim lebaran." Jawab Sani.
"Kamu sebelumnya pernah keluar dari kampung kamu?" Tanya Farhan penasaran.
__ADS_1
"Belum mas. Sejak kecil saya gak pernah diajak kemana-mana." Jawab Sani.
"Memangnya ibu kamu asli orang sana?" Farhan mulai bertanya-tanya perihal Sani.
"Setahu saya iya. Mereka lahir dan besar disana seperti saya." Jawab Sani.
"Kamu tidak pernah tahu siapa ayahmu?" Tanya Farhan pada Sani.
"Mmm.. saya pernah bertanua pada ibu saya. Tapi tak pernah dijawab. Jadi ya.. saya gak tahu siapa ayah saya. Di kampung saya yang seperti saya juga banyak mas Farhan. Jadi tidak aneh kalau ada anak, tidak tahu bapaknya.
"Mmm.. begitu ya?! Farhan agak bingung dengan kondisi budaya lokal di kampung Sani. Selain legalnya prostitusi, mereka pun jadi merusak nasab. Khawatir jika satu saat seorang anak jika tidak tahu nasabnya akan dipertemukan jodoh dengan satu nasabnya. Itu jelas-jelas dalam Islam adalah haram.
Untuk membasmi penjualan manusia di daerah sana cukup sulit. Selain budaya, mereka seperti dapat legalisasi dari pemerintahan setempat. Karena dari kegiatan itu, mereka mendapatkan uang saku yang tidak sedikit dari para makelar prostitusi.
"Iya mas." Sani menjawab apa adanya.
"Apa kamu ingin mencari ayahmu? Terus kalau ketemu bagaimana?" Tanya Farhan penasaran.
"Ya pengen sekali mas. Tapi Sani harus mencari kemana? Tidak ada petunjuk. Sani pengennya membawa uang banyak buat ibu mas biar ibu bahagia. Dan kalau ibu sudah bahagia pasti dia akan memberitahu ayah Sani. Kalau keadaan Sani seperti ini, mana mau ibu Sani memberitahukan keberadaan ayah Sani. Kalau Sani ketemu sama ayah Sani... Sani juga bingung. Apa ayah Sani Sudah menikah atau bagaimana. Ya buat Sani sudah tahu saja, sudah syukur mas. Takutnya kalau sudah menikah nanti istrinya akan marah." Sani tidak pernah berambisi lebih. Dia hanya ingin tahu saja keberadaan ayahnya dimana dan seperti apa dia.
"Apa ayahmu ada kemungkinan yang pernah datang ke rumah mamah Banyu?" Tanya Farhan.
"Iya. Kalau kata tante Mei... biasanya ada yang menjual anak gadis hanya untuk dijadikan penghibur ada juga yang dijual mahal untuk sekedar jadi gundiknya seseorang. Kalau ibu Sani katanya jadi gundiknya seseorang. Tapi tidak ada yang tahu siapa dia." Jawab Sani polos.
__ADS_1