
"Farhan.. " Pak Haji Zenal yang sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca Al-Quran terkejut melihat anaknya pulang kembali. Untuk mengurangi kesedihannya pak Haji Zenal sengaja membaca Al-Quran di ruang keluarga. Matanya yang sulit dipejamkan memilih untuk membuka Mushaf.
"Iya bah. Tadi ada ayah sama mamnya Nisa di rumah sakit. Farhan juga agak kurang sehat. Kalau dipaksakan khawatir nanti malah merepotkan." Farhan mencari alasan untuk menyembunyikan masalah yang sesungguhnya.
"Sini Far.. duduk mendekat!" Pak Haji Zenal menepuk kirain di sebelahnya.
"Abah.. sama umi minta maaf ya sama kamu. Mungkin sampai saat ini kamu belum bisa menerima perjodohan kamu. Abah sangat tahu karakteristik kamu Far. Abah harap kamu bisa bersabar! Jalan satu-satunya adalah meminta pertolongan kepada Allah agar kamu bisa hidup tenang dan istrimu bisa dibimbing. Setiap pernikahan pasti ada ujiannya. Umi sama abah juga sama. Reza sama Sarah juga. Bukan hanya kamu saja yang diuji." Pak Haji Zenal dengan insting orang tua bisa membaca kegelisahan Farhan saat ini.
"Iya bah. Farm sudah mencoba bersabar. Tapi ada yang tak bisa dengan jalan sabar Farhan menghadapinya." Farhan tertunduk. Dia tak kuasa menahan masalah sendirian.
"Hhmm... " Pak Haji Zenal menutup mushafnya, lalu mengelus lembut punggung Farhan.
"Ceritakanlah pada abah! Ada apa denganmu nak?" Sepertinya pak Haji Zenal teringat dengan Reza yang tadi menanyakan perihal Farhan. Apakah dia ada bercerita padanya atau tidak. Adik kakak itu sepertinya sudah saling bicara.
"Bah.. Farhan mohon maaf.. " Farhan memeluk tubuh ayahnya sambil terisak.
Pak Haji Zenal mengusap-ngusap punggung Farhan.
Sementara itu Sani yang tadi kebelet pipis keluar kamar melangkah menuju toilet. Matanya tertahan melihat Farhan sedang memeluk pak Haji Zenal.
Bukankah dia tadi pergi ke rumah sakit? Kenpa sekarang malah ada di rumah sambil menangis?
Sani diam sejenak melihat ke dalam ruangan keluarga.
"Bah.. Farhan... ingin bercerai dengan Nisa." Kata-kata akhirnya keluar juga dari bibir Farhan. Setelah tadinya Haji Zenal mengelusnya lembut ada rasa tenang di hatinya. Dia tak ingin menunda-nunda hal itu. Karena jika ditunda, bisa jadi keluarga Nisa akan berkilah. Farhan tak mau dia terjebak dalam perbuatan Nisa selanjutnya. Mumpung masalahnya masih hangat, Farhan menguatkan dirinya untuk berterus terang. Dia juga sebenarnya tak tega mengungkapkan hal itu pada ayahnya yang masih berkabung. Tapi apa. boleh buat.
Bak petir di siang bolong. Pak Haji Zenal terperanjat mendengar Farhan mengatakan hal itu. Dia tak menyangka putra kesayangannya ingin bercerai di waktu yang tidak tepat menurut pandangannya.
"Istigfar nak... Kata-kata itu tak boleh diucapkan sembarangan oleh seorang laki-laki yang sudah berumah tangga. Kamu tahu halal yang dibenci Allah adalah perceraian.
__ADS_1
Deg
Sani yang masih mematung di belakang mereka sangat kaget mendengar apa yang dikatakan Farhan.
"Bah... masalahnya Farhan bukan tak sabar. Tapi Nisa sudah hamil sebelum Farhan menikahinya. Sekarang Nisa ada di rumah sakit karena keguguran. Apa Farhan harus menerima Nisa setelah dia berbuat maksiat dengan laki-laki lain? Itu tidak adil bah." Farhan meluapkan emosi sambil berderai air mata.
"Astaghfirullahalazim... " Pak Haji Zenal. mengusap dadanya. Jantungnya seperti tertekan benda besar, sesak dan nyeri.
Sani menutup mulutnya begitu mendengar kenyataan tentang Farhan. Dia yang tak sengaja menguping merasa kasihan pada Farhan yang telah ditipu oleh perempuan yang bernama Nisa.
"Maafkan Farhan bah.. Farhan.. tak bermaksud membuat abah sakit. Tapi Farhan bingung harus bagaimana menghadapi kenyataan ini. Farhan tidak mau diperalat oleh mereka bah." Farhan bersimpuh di pangkuan ayahnya sambil kembali terisak.
Pak Haji Zenal tak mampu mengatakan apa-apa. Jantungnya masih terasa nyeri dan lidahnya masih terasa kelu. Dengan tangan gemetaran pak Haji hanya bisa mengusap punggung anaknya. Dia tahu hati anaknya sekarang sedang hancur. Dia malah memaksa dirinya untuk bertanggungjawab pada istrinya. Untung Farhan di didik keagamaan yang cukup kuat. Dia masih bertahan untuk tidak depresi menghadapi dua ujian sekaligus dalam waktu yang sama.
Sani melangkahkan kakinya ke masuk ke kamar bi Inah. Duduk di tepian kasur sambil memikirkan nasib Farhan. Ternyata tiap orang mempunyai masalahnya masing-masing yang tak kalah berat dengan masalah dirinya.
'Neng Sani belum tidur?" Bi Inah yang membalikkan badannya mengerjap-ngerjap matanya melihat Sani yang masih duduk di tepian kasur. Perempuan paruh baya itu memang jarang tidur lelap. Selain faktor usia, dia juga sering ke toilet malam hari.
"Kamu banyak pikiran ya?" Bi Inah melihat Sani seperti melamun.
"Mmm.. begitulah bi." Jawab Sani singkat.
"Banyak berdoa. Semoga ke depannya neng Sani dapat pengganti yang lebih baik dari bu Haji Zenal." Ucap bi Inah yang menyangka Sani memikirkan kematian majikannya.
"Bibi.. mau ke toilet dulu ya. Pengen pipis." Bi Inah bangkit dari ranjang lalu keluar dari kamarnya.
Bukk
Suara pintu toilet terdengar ditutup. Pak Haji Zenal dan Farhan melihat ke arah toilet yang berada di dekat dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian keduanya melihat bi Inah keluar dari toilet.
"Bi inah." Panggil pak Haji Zenal.
"Eh.. pak Haji. Iya ada apa pak Haji." Bi Inah kaget dikira majikannya sudah tertidur. Karena ini sudah hampir menjelang sebelas malam.
"Tolong buatkan susu hangat dan makanan manis!" Pak Haji Zenal menyuruh bi Inah membuatkan susu hangat untuk membantu merilekskan pikirannya yang sedang kusut.
"B.. Baik Pak Haji." Bi Inah tergagap. Matanya agak mengerung heran.
Bukankah tadi den Farhan sudah pergi ke rumah sakit? Kok sekarang ada disini? Apa mereka ada masalah.
Bi Inah bicara sendiri dalam hati. Tak lama kemudian bi Inah menyuguhkan dua gelas susu hangat dan camilan manis yang masih banyak tersisa bekas tadi menyuguhi para tamu.
"Silahkan pak Haji.. den Farhan.. mumpung masih anget!" Bi Inah menyodorkan dua gelas susu di atas meja.
"Terimakasih bi.. " Ucap keduanya berbarengan.
"Sama-sama. Apa ada yang bisa bibi bantu lagi?" Bi Inah bertanya pada keduanya sebelum meninggalkan ruang keluarga.
"Mmm.. sepertinya tidak bi." Ucap Farhan.
"Abah?" Farhan menatap pak Haji Zenal.
Pak Haji Zenal menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada bi Inah. Maaf malam-malam merepotkan." Ucap Farhan pada bi Inah.
"Tidak den. Kebetulan bibi bangun. Kalau begitu bibi mau ke kamar lagi. Permisi." Bi Inah dengan sopan permisi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Oh iya bi. Silahkan." Farhan mempersilahkan bi Inah untuk kembali beristirahat.