Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Rasa yang tegang


__ADS_3

Nisa dan keluarganya terpaksa menulikan dan membutakan diri. Mereka datang ke rumah Haji Zenal dengan alasan takziah. Kebetulan waktu meninggal istrinya Haji Zenal mereka belum sempat datang karena alasan Nisa di rumah sakit.


"Assalamu'alaikum." Jeng Reni mengetuk pintu rumah pak Haji Zenal yang nampak sepi.


"Apa mereka ada di rumah?" Tanya sang suami menoleh ke arah istrinya.


"Kita coba aja pa. Mama juga tidak tahu." Jawab Jeng Reni menahan malu harus memaksakan diri datang ke rumah besannya demi kelangsungan hidup anaknya.


Salam dan ketukan pun diulang kembali agak keras dari awal untuk memastikan sang pribumi bahwa di depan rumahnya ada tamu.


Bi Inah tergopoh-gopoh berjalan dengan cepat tapi tetap langkah nya tertahan karena berat badannya yang gempal, jadi dia tak bisa lebih cepat dari orang biasanya.


"Waalaikumsalam." Ucap bi Inah menjawab salam sambil membuka pintu.


"Eh... bu.. pak.. neng Nisa.. Silahkan masuk!" Bi Inah mempersilahkan mereka masuk rumah. Kendati yang punya rumah tidak menyuruhnya.


"Silahkan duduk pak.. bu.. neng Nisa... " Ucap Bi Inah seramah mungkin menyambut tamu sekaligus besan sang majikan.


"Terimakasih bi." Ucap Jeng Reni duduk di sofa ruang tamu diikuti oleh suami juga Nisa.


"Pak Haji nya ada bi?" Tanya Jeng Reni langsung bertanya pada bi Inah.


"Ada. Sebentar saya panggilkan. Tadi pak Haji sedang shalat dhuha, mungkin sekarang sudah selesai." Ucap bi Inah karena waktu baru menunjukkan jam 9 pagi.


"Oh." Ucap Jeng Reni sambil tersenyum. Dia merasa lega ketika orang yang dituju sedang ada di rumah. Karena semenjak kematian istrinya, pak Haji masih tinggal di rumah dan jarang pergi ke tempat bekerja, yaitu usaha mebel yang dikelola nya.


"Sebentar saya panggilkan dulu." Bi Inah berlalu lalu berjalan mendekati mushola.


Dilihatnya pak Haji sedang melakukan wirid, tandanya sholat nya sudah selesai.


"Assalamu'alaikum pak haji." Ucap bi Inah pelan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Pak Haji membalikkan tubuhnya menoleh melihat ke arah bi Inah.


"Di depan sudah ada tamu mau bertemu pak haji." Ucap bi Inah sambil duduk menyamakan diri dengan pak Haji.


"Siapa?" Pak Haji agak mengerutkan dahi dan menghentikan dirinya.


"Keluarga besan pak Haji." Jawab bi Inah memberitahukan pak Haji Zenal.


Pak Haji Zenal manggut-manggut.


"Farhan apa ada di kamarnya?" Tanya pak Haji bertanya pada bi Inah.


"Ada. Tadi sudah sarapan katanya sih mau berangkat ke kantor imigrasi. Mungkin masih ada di kamarnya untuk siap-siap berangkat." Bi Inah yang tadi menyiapkan sarapan untuk Farhan memberitahu pak Haji Zenal.


"Panggilkan dia untuk turun!" Pak Haji menyuruh bi Inah.


"Oh sekalian.. sama abang. Dia sudah pergi belum?" Tanya pak Haji kembali pada bi Inah.


"Ya sudah kalau begitu panggilkan Farhan dan siapkan makanan untuk menyuguhi tamu." Ucap pak Haji yang terlihat agak lemas. Dia menduga besannya itu akan berbicara seputar pernikahan putra keduanya.


Pak Haji Zenal pun bangkit dari duduknya meninggalkan sajadah yang sejak tadi di dudukinya untuk menemui tamu, yaitu besannya.


"Assalamu'alaikum." Pak Haji Zenal menyapa besannya dengan mengucap salam.


"Waalaikumsalam pak Haji.. " Ayahnya Nisa langsung bersalaman lalu memeluk besannya itu dengan erat. Sang besan melerai pelukannya tapi tangannya masih erat menggenggam tangan pak Haji.


"Maafkan kami pak Haji. Kami baru takziah sekarang." Ucap ayah Nisa mengucapkan bela sungakawa atas meninggalnya bu Haji Zenal.


"Tak apa-apa. Silahkan duduk!" Pak Haji mempersilahkan kembali duduk besannya.


Tak lama kemudian bi Inah datang menyuguhkan empat cangkur teh dan kue-kue ringan dia atas meja.

__ADS_1


"Silahkan diminum!" ucap pak Haji Zenal mempersilahkan tamunya untuk mencicipi suguhan yang baru saja bi Inah tata.


"Terimakasih." Mereka pun secara bersamaan mengambil gelas hias yang berisi teh manis dan meneguknya sebagai penghormatan pada sang pribumi. Lalu mereka menaruhnya kembali di atas meja.


"Maaf saya juga belum sempat menengok Nisa yang sedang sakit. Kebetulan waktunya begitu bersamaan dengan meninggalnya istri saya." Ucap paj Haji Zenal.


"Gak pa-pa Haji.. kami juga baru sempat kesini. Menunggu Nisa sehat dulu. Sambil... ada yang mau kami bicarakan tentang anak-anak." Ucap Jeng Reni berusaha menata sesopan mungkin agar besannya bisa terkesan.


"Iya. Semoga Nisa terus sehat ya.. " Ucap pak Haji sambil tersenyum.


"Aamiin." Mereka kompak bersamaan mengucapkan aamiin atas doa pak Haji yang baru saja diucapkan.


"Kami pun pertama-tama mohon maaf jika ada salah pada bu Haji. Dan kami sekeluarga ikut berdoa, semoga amal ibadah bu Haji di Terima Allah Subahana wataala, diampuni dosa-dosanya dan keluarganya bisa tabah menghadapi ujian ini." Ucap ayah Nisa mengucap doa takziah untuk bu Haji Zenal.


"Aamiin... terimakasih pak besan atas doa-doanya. Kami pun tak luput dari kesalahan, jika ada khilaf dan salah dari bu Haji mohon dimaafkan pula." Jawab pak Haji sambil berkaca-kaca. Tidak dipungkiri rasa sedih itu masih ada dalam diri laki-laki tua yang kini sudah ditinggalkan separuh nyawanya itu. Pak Haji yang selama ini adalah panutan keluarganya juga suami yang baik, begitu merasa kehilangan atas meninggal istrinya yang juga tak kalah baik.


"InsyaAllah pak Haji." Jawab ayahnya Nisa mengangguk ikut bersedih atas meninggalnya besan perempuan yang baru satu minggu ini.


"Assalamu'alaikum." Farhan datang ke ruang tamu sambil mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak. Semua pandangan langsung tertuju pada Farhan.


Farhan lalu salam pada kedua orang tua Nisa sebagai penghormatan. Tanpa sengaja kedua pasang mata beradu antara Nisa dan Farhan, lalu Farhan segera membuang pandangan yang kini sudah tak berhak memandang Nisa sebagai mantan istrinya.


"Duduklah!" Pak Haji Zenal menepuk sofa di samping nya yang masih kosong. Farhan menurut lalu mendaratkan bokongnya di kursi sofa samping pak Haji.


Ruangan sementara hening. Saling menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan setelah tadi kedua besan selesai berbasa-basi.


Jeng Reni menoleh pada suaminya, mengisyaratkan pada suaminya untuk memulai bicara.


"Maaf pak Haji.. nak Farhan... Kalau kedatangan kami mengganggu waktu kalian. Kami... sebenarnya datang kesini untuk bertakziah... sekaligus ingin membicarakan perihal kalian berdua." Ayahnya Nisa menjeda pembicaraan dan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya melanjutkan maksud tujuan nya datang ke rumah itu.

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat serius. Masing-masing dari mereka benar-benar didera rasa deg-deg an yang sama.


__ADS_2