
Terdengar Sani membacakan surat-surat pendek yang dihafalnya setelah shalat magrib. Karena setelah kepergiannya dari kampung halaman, dia tak membawa apapun termasuk mushaf yang biasa dibacanya selepas magrib juga subuh. Untuk menggantikan kebiasaannya mengaji, sekarang Sani mencoba membaca Al-Quran dengan cara menghafal.
Bu Haji Zenal mendengarkannya dengan sesekali mengikutinya dalam hati. Dia merasa beruntung atas keberadaan Sani. Dia dengan telaten mengurus kebutuhannya termasuk mengganti pakaiannya dan juga mengurus hal lainnya yang lebih privasi.
"Shodaqollahu adzim." Sani mengusap wajahnya mengakhiri bacaan Al-Quran nya.
Farhan yang baru pulang dari mesjid tak berani masuk ke dalam ruangan. Dia malah berdiri di depan pintu mendengarkan alunan ayat suci Al-Quran yang telah dibacakan Sani. Suaranya mengalun syahdu menggetarkan jiwa. Ada rasa ketenangan yang masuk ke dalam relung-relung jiwa yang sedang hampa. Rasanya itu seperti air yang sedang merasa kehausan. Jiwanya tentram dan tenang. Bahkan kecemasan dalam pikirannya saat ini sempat terdamaikan dengan aluna syahdu yang baru saja didengarnya.
Ah.. begitu indah...
"Assalamu'alaikum." Farhan memberanikan diri masuk setelah mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Sani melihat ke arah Farhan.
"Kamu sudah makan Sani? Biar mas Farhan belikan makanan di kantin." Farhan yang sedari tadi sibuk mengurus masalah administrasi ibunya malah melupakan isi perutnya. Sekarang Farhan merasakan perih karena jam makan siang rupanya telah terlewatkan. Dia pun telah lalai membiarkan sama laparnya dengan dirinya. Karena sejak tadi Sani hanya ada di dalam ruangan rawat inap tanpa pergi ke mana-mana.
"Terserah mas Farhan saja." Sani sejak tadi sudah merasakan lapar. Tapi tidak berani meminta ataupun mengeluh. Untungnya di dalam ruangan sudah tersedia dispenser. Jadi Sani memperbanyak minum untuk mengganjal agar perutnya tidak terlalu perih.
"Maafkan mas Farhan ya! Mas sudah lalai. Kalau begitu mas Farhan akan pergi dulu membeli makanan ya!" Farhan tak mau berlama-lama lagi untuk segera pergi membeli makanan.
"Iya mas." Jawab Sani mengiyakan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Farhan keluar dari ruangan dan segera mencari kantin.
Sementara itu Sani memeriksa keadaan bu Haji. Ditatapnya wanita paruh baya itu dengan inten. Sani jadi teringat ibunya di kampung.
*Ibu... sedang apa ya sekarang? Apa dia sudah makan? Apa ibu tidak lupa minum jamunya? Ah siapa yang akan mensucikan baju-baju ibu sekarang?
Ibu.. aku rindu... apa ibu merindukanku? Semoga ibu baik-baik saja disana. Doakan Sani ya bu! Agar Sani bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa pulang kampung membawa uang buat ibu*.
__ADS_1
Tak terasa buliran bening jatuh satu persatu maenetes di pipi Sani. Sani menyeka air matanya dengan ujung baju.
Setelah melihat bu Haji Zenal tertidur tenang, Sani berjalan dan duduk di sofa. Dilihatnya jam menunjukkan jam 8 malam. Sani agak lelah dan mengantuk. Perlahan dia membaringkan tubuhnya dan mengambil bantal sofa sebagai ganjal kepala. Tanpa kompromi matanya terpejam tanpa menunggu Farhan membawakan makanan. Sani tertidur dalam keadaan perut kosong.
"Assalamu'alaikum." Farhan mengetuk pintu. Tapi tak terdengar suara jawaban. Dia mengetuk lalu masuk ke dalam ruangan dengan membawa dua bungkus nasi goreng dan martabak telor juga martabak kacang.
Dilihatnya Sani sudah tertidur. Farhan merasa bersalah telah mengabaikan Sani sejak siang. Sampai melupakan tidak memberinya makan.
Disimpannya bungkusan-bungkusan itu di atas meja. Farhan agak canggung mau membangunkan Sani, tapi dia pun tak tega membiarkan Sani tidur dengan perut kosong.
"San... Sani... Sani.. " Farhan membangunkannya tapi tak berani menyentuh area tubuhnya.
Sani menggeliat mendengar panggilan Farhan. Lalu mengucek matanya yang lengket. Matanya menyipit karena silaunya lampu dalam kamar menusuk bola matanya yang baru saja terlelap.
"Eh.. Mas Farhan."
"Kamu makan dulu! Nanti setelah makan kamu lanjutkan tidurnya." Farhan membuka bungkusan agar bisa dimakan bersama.
"Iya mas. Terimakasih." Rani membawa satu bungkus nasi goreng lalu membukanya.
"Nih ada martabak telor. Sengaja mas Farhan membelinya. Biar ada temen nasi goreng." Farhan menyodorkan dus martabak ke arah Sani.
"Terimakasih!" Sani mengambil satu potong martabak telor yang telah disodorkan Farhan.
"Bismillahirrahmanirrahim." Farhan tak lupa membaca doa sebelum makan.
"Bagaimana luka-lukamu Sani? Mumpung ada di rumah sakit sekalian diperiksa." Farhan baru ingat akan luka-luka Sani waktu itu.
"Alhamdulillah.. sudah kering mas Farhan. Seperti tidak usah dikontrol." Sani tak enak hati harus merepotkan Farhan apalagi sekarang kondisi bu Haji Zenal sedang sakit.
"Tetap harus diperiksa Sani! Nanti kalau sudah dinyatakan sembuh oleh dokter baru bisa tenang. Besok ya kamu kontrol!" Farhan agak memaksa.
"Baik mas Farhan. Maaf susah merepotkan." Ucap Sani tidak enak harus berhutang budi terus menerus pada keluarga ini.
__ADS_1
"Tidak apa. Sesama muslim harus tolong menolong kan?" Farhan merasa nyaman berbicara dengan Sani.
"Iya mas Farhan. Semoga kebaikan mas Farhan akan dibalas oleh Allah Subhana wata'ala dengan berlipat ganda." Ucap Sani hanya baru bisa membalas kebaikannya dengan doa.
"Aamiin."
Kring
kring
kring
"Assalamu'alaikum." Farhan mengangkat telepon panggilan.
"Kapan kamu balik lagi ke Singapura?" Seseorang di seberang telepon menanyakan kepulangannya.
"Maaf Pak ibu saya sakit. Jadi saya ingin menunda kepulangan saya ke sana sampai kondisi ibu saya sehat." Farhan terdengar berat harus meninggalkan ibunya yang sakit dan malah harus mengurus bosnya yang lagi sakit.
"Apa kamu sudah menemukan golongan daranya belum? Pak Tedi harus segera ditranfusi. Aku kemarin sudah mencari disini tapi belum berhasil.
"Mmm.. belum pak. Golongan darahnya sangat langka jadi... saya juga bingung harus mencarinya kemana lagi." Wajah kebingungan Farhan ditangkap Sani.
"Iya kalau bisa diusahakan. Aku juga disini sedang berusaha.Aku doakan semoga ibumu cepat sembuh ya!"
"Aamiin.Terima kasih pak!" Farhan menutup teleponnya. Lalu duduk sambil berfikir kemana dia harus mencari pendonor. Beberapa pmi sudah dihubunginya tapi belum bisa banyak membantu karena belum mendapatkan darah yang dibutuhkan.
"Mas Farhan sedang mencari pendonor?" Pertanyaan Sani mengangetkan Farhan.
"Iya. Tapi agak sulit karena golongan darah bos Mas Farhan agak langka." Farhan sedang memutar otak kemana kira-kira bisa menemukan pendonor.
"Mas.. saya juga mempunyai golongan darah yang langka. Jika dibutuhkan ambil saja dari saya." Kalimat yang diucapkan Sani seperti mimpi buat Farhan.
"Apa?" Farhan yang dari kemarin sibuk mencari informasi malah belum bisa menemukannya. Malah yang dicari ada di depannya.
__ADS_1
"Kamu yakin Sani?" Farhan melebarkan matanya menatap langsung Sani.
Sani mengangguk. "Dulu ibu Sani pernah memeriksakannya ke rumah sakit, mas."