Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
9


__ADS_3

Sani keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya dengan training juga kaos pemberian Indra. Sebenarnya Sani merasa tidak nyaman. karena tidak memakai kerudung. Dia duduk di kursi dengan tertunduk malu.


"Hhh..rumah kita seperti penampungan saja. Yang satu pergi yang baru datang. Istrinya pak Karim berbicara keras menyindir Sani dari dapur sambil mengorek-ngorek tumisan kangkung untuk dimakan bersama-sama keluarganya di sore ini. Bisa dibayangkan saat ini kuping Sani terasa panas harus mendengar sindiran pedas dari istrinya pak Karim.


Sani tak tahu lagi harus kemana. Karena dia tak mempunyai sanak family. Apalagi di kota Jakarta yang sangat kejam ini. Sani merasa beruntung masih ada yang mau menampungnya kali ini. Dia akan mencoba bertahan sampai luka-lukanya sembuh.


Sani berdiri. Kalau harus duduk seperti tamu dia merasa lebih tidak enak. Sani berjalan mendekati istrinya pak Karim.


"Maaf Bu.. jika kedatangan saya merepotkan ibu sekeluarga. Saya tidak ada keluarga disini, untuk sementara saya akan menumpang disini sampai luka-luka saya sembuh." Walau pun malu Sani memaksakan diri berbasa-basi pada istrinya pak Karim dengan harapan istrinya oak Karim mau menerimanya.


"Heii.. disini tak ada gratis. Semuanya dibeli dengan uang. Kalau mau numpang tahu diri! Tuh bersihkan cucian piring di kamar mandi. Aku juga tahu kamu pasti gembel makanya datang kesini. Kalau kamu kaya pastinya kamu balik ke hotel atau ke rumahmu." Istrinya pak Karim melotot dengan wajah yang cukup menyeramkan ketika marah.


"Baik bu. Saya akan bersihkan!" Sani walaupun luka-lukanya masih basah memaksakan diri untuk mencuci piring. Karena malu harus menumpang. Masih untung tidak diusir. Kalau diusir mau tidur dimana Sani malam ini.


Sani pun masuk ke kamar mandi. Di sana sudah menumpuk cucian kotor bekas memasak juga bekas makan.


Sani dengan posisi menungging dia menggosok satu persatu wadah-wadah kotor. Walaupun terasa sakit dan perih Sani berusaha tidak mengeluh. Sani tidak bisa berjongkok karena bagian yang terseret mobil tidak bisa ditekuk. Rasanya ngilu dan sakit walau sudah diobati.


Semua wadah kotor kini selesai dicuci. Sani mencoba mengangkat wadah keranjang yang berisi wadah-wadah yang sudah dicucinya.


"Awww.. " Sani meringis kesakitan. Kakinya belum kuat untuk menopang beban. Jangankan beban bergerak sedikitpun rasanya sakit sekali.


"Keluarlah! Biar aku yang angkat!" Indra bicara ketus.


Tanpa menunggu lama Sani keluar dari kamar mandi. Dia berdiri di dapur. Sedangkan Indra mengangkat keranjang yang berisi penuh wadah-wadah bersih itu keluar kamar mandi.


Sani melihat istrinya pak Karim sedang menyuapi anaknya. Mira dan Sara terlihat makan sendiri karena sudah besar.


Sani bingung berdiri di dapur atau mau kemana. Maklum ini bukan rumahnya dan dia tidak diharapkan ada di rumah ini.


Sekilas tadi Sani melihat bangku di luar. Dia berinisiatif untuk di luar saja. Sani berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit lalu keluar rumah itu.

__ADS_1


"Wah untung ada bangku! Jadi aku bisa duduk disini!" Sani merasa tenang setelah melihat bangku itu. Dia menempatkan pantatnya lalu duduk sambil melihat-lihat orang yang sedang berjalan di depan gang rumah oak Karim.


"Wah ramai juga disini! Tak seperti di kampung." Sani berbicara sendiri dalam hati. Sejenak dia bisa melupakan masalahnya. Dia asik memperhatikan lalu lalang yang melewati rumah pak Karim.


Krebek... krebek


Suara perut Sani terdengar keras bersuara.


"Duh kamu malah bunyi! Kamu sabar ya! Mudah-mudahan nanti bisa ditawarin makan." Sani seperti berbicara dengan perutnya yang sedang orkestra. Berharap yang punya rumah menawari dia makan. Tadi di rumah sakit sempet Sani mencicipi hidangan makanan pasien. Tapi karena rasanya tawar dia tak menghabiskannya. Sekarang penyesalan pun datang, coba kalau tadi makanannya dihabiskan mungkin perutnya tidak akan menagih seperti sekarang.


###


"REI kapan kamu kembali?" Rose sedang menelpon anak kesayangannya. Dia merasa cemas karena dia menyembunyikan foto perempuan yang diberikan suaminya. Jadi Dia sangat mengkhawatirkan Rei. Siapa yang akan dibawa Rei.


Sudah dua hari ini tuan Tedi dirawat di rumah sakit. Semakin hari tubuhnya semakin melemah. Dokter sedang menganalisa apa penyakit Tedi. Karena hampir setahun ini Tedi merasakan tubuhnya selalu lemas berlebih.


"Aku masih di Jakarta ma. Nanti juga balik. Kenapa ma?" Rei menangkap suara ibunya seperti sedang gelisah.


"Iya ntar ada yang masih ditunggu!"


"Apa belum dapet gadis itu Rei? Sebaiknya kamu cepat bawa dia!"


"Iya ma. Kalau sudah beres Rei juga pasti balik. Sebaiknya mama temenin papa! Kenapa mama masih di rumah?" Rei walaupun kurang suka dengan tuan Tedi, tapi bukan berarti nuraninya mati. Selama ini hubungan Rei dan tuan Tedi memang tidak akur. Mereka seperti musuh jika bertemu. Selalu saja bertengkar dari masalah kecil sampai yang besar. Entah karena kekecewaan tun Tedi pada Rose sehingga dia amat membenci Rei.


"Iya hati-hati sayang. Mama sayang kamu Rei!" Telepon pun ditutup.


"Hei.. cobalah telepon lagi. Apa masih lama? Rei menegur asistennya karena kesal menunggu kedatangan gadis pengganti.


"Katanya sudah sampai Jakarta bos! Kita tunggu sebentar lagi." Asisten Rei mencoba beralasan.


Gak sabaran banget punya bos.

__ADS_1


Dahi Rei nampak mengerut. Dia berdiri disisi balkon hotel sambil menyesap rokoknya. Tiba-tiba pikirannya mengingat gadis yang ditabrak asistennya. Walaupun waktu itu wajahnya tertutupi tanah, Rei seperti mengingat wajahnya.


"Diman gue melihat dia ya? Apa gue pernah bertemu?" Tanpa terasa Rei sudah menyesap rokok lumayan banyak. Puntung-puntung rokok berserakan di lantai balkon. Entah berapa batang rokok yang sudah dihabiskannya di atas balkon.


"Rud.. Rudi.. Rudiiii" Rei berteriak kencang ketika nama asistennya tak muncul ketika dipanggil.


"Iya bos! Saya lagi toilet bos."


Ya ampuun.. gue lagi kebelet juga


"Kamu kemarin bisa pastikan gadis itu tidak mati Rud?"


"Tidak bos! Waktu aku ke rumah sakit dokter bilang besok katanya bisa pulang. Jadi kemungkinan dia tidak parah bos!"


"Kamu beri dia cek berapa?" Rei seperti mengkhawatirkan sesuatu


"100jt bos! Apa kurang bos?"


"Tau! Kamu sendiri tahu dia namanya siapa?"


"Enggak bos! Aku kan buru-buru. Terus gadis itu juga susah diajak bicara. Memangnya kenapa bos?"


"Gue khawatir dia mati Rud."


"Apa perlu saya cek kesana sekarang bos?"


Rei terdiam.


"Kamu cek kesana! Apa dia baik-baik saja? Secepatnya kabari aku! Sebelum gadis pengganti itu datang. Kamu mesti sudah balik lagi kesini!


"Baik bos!" Rudi langsung pergi keluar.

__ADS_1


__ADS_2