
"Sebaiknya kamu ke kampungnya Sani! Kamu harus lebih waspada, jangan sampai suatu hari kamu malah disalahkan!" Reza tak mau Farhan ceroboh. Sebaiknya memang Farhan tahu keluarga Sani agar jika terjadi apa-apa nanti bisa dipertanggung jawabkan.
"Baik. Besok Farhan akan berangkat ke kota K untuk mencari kebenaran tentang keluarga Sani." Farhan menuruti nasehat Reza.
"Hari ini Sani sudah bisa pulang. Sekalian kamu urus kepulangan Sani! Nanti Sarah akan menjemputnya setelah selesai di toko. Aku titip Umi sama kamu ya! Nanti sore abang insyaallah akan datang lagi ke sini." Reza dan Farhan bertukar jaga. Reza akan istirahat dulu di rumahnya sambil mengontrol toko materialnya.
Sementara pak Haji Zenal setelah mengurus toko akan datang bersama Sarah ke rumah sakit untuk menjemput Sani juga melihat keadaan bu Haji Zenal yang masih di ruang ICU.
"Iya bang." Farhan mengangguk.
"Maaf ya.. acara pengantinnya sering diganggu. he he.." Reza terkekeh menertawakan Farhan sambil menepuk bahunya. Farhan menunduk malu karena digoda Reza.
"Ya udah abang pulang dulu! Jaga diri baik-baik! Assalamu'alaikum." Reza berpamitan pulang.
Tinggal Farhan sendiri di rumah sakit. Dia melihat ibunya dari balik kaca. Bu Haji Zenal masih tergeletak belum sadar. Di balik diamnya Farhan menguntai doa-doa untuk seorang wanita yang sedang tertidur pulas di ruang ICU. Wajahnya begitu tenang.
Sementara itu setelah Farhan berangkat ke rumah sakit, Nisa bangun lalu mandi. Dia teringat janji bertemu dengan seseorang.
Setelah mandi dan berdandan. Nisa mengambil handphone, dompet juga tas selempang kecil untuk menyimpan beberapa barangnya.
"Nisa.. kamu mau kemana lagi?" Ibunya yang sedang sarapan menegur Nisa yang sudah siap-siap mau pergi.
"Ih mama.. ya mau hangout lah.. " Nisa dengan nada cueknya hendak pergi meninggalkan rumah.
"Hei.. sini dulu kamu!" Ibunya Nisa setengah marah memanggil Nisa yang dianggap tidak sopan telah mengabaikannya.
__ADS_1
"Ih.. apa sih ma?" Nisa menghentakkan kakinya kesal.
"Kesini kamu!" Nisa masih berdiri mematung tak sejengkal pun kakinya melangkah untuk mendekati ibunya.
"Kamu mau kesini gak Nis? Mama marah nih!" Rasanya sesak sekali dada ibunya Nisa melihat anaknya seperti itu. Apa. salahnya dia menghampiri ibunya? Lalu kenapa juga dia malah berdiri mematung di dekat pintu dengan wajah manyun dan jutek.
"Ah.. mama kenapa juga marahin Nisa? Pasti mau melarang Nisa keluar kan?" Nisa malah alot membalas ibunya.
"Eh Nisa dengerin ya! Mama kemarin sudah nutup-nutupin kamu dari suami kamu. Sekarang kamu mau pergi lagi ke laki-laki itu kan? Mama gak mau kamu lepas kendali Nisa! Kamu mikir dong! Gimana kalau Farhan sampai tahu kamu keluyuran sama laki-laki? Kamu sudah bersuami Nisa. Sebaiknya kamu diam di rumah! Atau kamu ikut ke rumah sakit bersama suami kamu! Bagaimana kalau mereka tahu kelakuan kamu Nisa? Mama.. bisa malu!" Ibunya Nisa berkaca-kaca sudah tidak tahan melihat kelakuan anaknya yang susah dinasehati. Dia kira dengan menikah dengan Farhan sisi buruk anaknya akan berubah. Ini malah tetap saja seperti itu. Melawan dan membangkang.
"Terserah mama deh! Aku pergi!" Nisa melengos tidak lagi memperdulikan kalau ibunya sangat marah dan sedih.
Jebred...
"Astagfirullah... Nisa..!" Jeng Reni bangkit dari kursi lalu melangkah cepat hendak menyusul Nisa.
"Hei Nisa.. jika kamu nekad pergi! Pergi sana! Jangan balik lagi! Mama gak mau tanggungjawab jika terjadi apa-apa dengan kamu!" Jeng Reni saking marahnya mengusir Nisa. Walaupun dalam hati, dia tidak sunguh-sungguh.
"Ah.. masa bodo! Dari kemarin juga begitu. Pas gak balik.. di telpon melulu suruh balik." Nisa menggerutu. Dia acuh saja setiap mendengar ibunya marah seperti itu. Ini bukan kali pertama Nisa selalu melawan pada ibunya. Dan hal itu sudah biasa dia lakukan yang berakhir dengan permohonan ibunya yang menyuruhnya untuk kembali ke rumah.
"Lagian kesal juga di rumah mau ngapain? Mending ngafe.. mumpung rekening gue penuh. Kan lumayan gak harus minta-minta sama nyokap dan bokap." Nisa tersenyum licik melihat rekeningnya penuh karena kemarin Farhan sudah mentranfer sejumlah uang untuk nafkah bulanannya. Farhan yang tidak mencurigai Nisa dengan polosnya memberikan sejumlah uang sebesar 20jt ke rekening Nisa. Entah Farhan terlalu polos atau terlalu bodoh? Yang jelas uang itu mudah saja berpindah tempat ke rekening Nisa.
Nisa meninggalkan rumahnya tanpa dosa. Dia naik mobil online yang sudah dipesannya lalu pergi ke tempat kost seseorang yang bernama Ridlo.
Sesampainya di tempat kost, Nisa masuk begitu saja ke kamar Ridlo. Kost mewah ini terbilang bebas keluar masuk orang. Ya sengaja Ridlo memilih tempat ini agar dia bisa bebas membawa siapa saja ke kamarnya, termasuk Nisa. Ridlo adalah mahasiswa Casanova yang sering berganti-ganti pasangan. Dia mempunyai profesi lain sebagai gigolo juga. Tapi anehnya kebobrokan laki-laki itu tak Nisa ketahui sampai sekarang. Dia mengira Ridlo cinta mati sama Nisa. Entah Nisa yang buta atau Nisa yang terlalu cinta.
__ADS_1
"Halo sayang.. kamu cantik banget... " Seperti biasa Ridlo mengumbar gombal mautnya pada Nisa.
Yang digombalin seperti hilang akal. Dia langsung jatuh terperdaya di tangan sang buaya. Setelah mendengar Nisa menikah, Ridlo yang tadinya acuh tak acuh pada Nisa, sekarang malah tak ingin kehilangan perempuan itu. Padahal setiap waktu, dia bisa saja mendapatkan wanita manapun yang lebih cantik dari Nisa. Tapi anehnya ada perasaan tidak rela ketika mendengar Nisa menikah. Makanya dia jor-joran merayu Nisa agar bisa selalu bersamanya. Dia tak mau kehilangan Nisa. Bahkan sudah dalam pikirannya dia bakal membuat Nisa berpisah dari Farhan suaminya.
"Sayang.. aku kangen. Bolehkan?" Ridlo yang sudah lihai memperlakukan wanita sudah tahu titik lemah Nisa.
Tanpa penolakan Nisa hanya mengangguk patuh. Ridlo langsung me**** Nisa. Tak lama kemudian Nisa sudah kembali jatuh dipangkuan Ridlo tanpa daya.
Ya Ridlo dan Nisa sedang bergulat dengan kenikmatan sesat. Kenikmatan yang dibumbui para syetan yang seolah menari-menari di tas mereka.
Mereka melenguh bersama sampai puncak nirwana yang fatamorgana.
"Aku masih kengen sayang.. " Suara Ridlo kembali memancing Nisa dan mereka kembali mengulang perbuatan sesatnya sampai beberapa kali.
Tanpa mereka sadari, perbuatan meraka membuat sesuatu yang membahayakan.
"Auw... " Nisa menjerit kesakitan. Ridlo yang masih belum tuntas terus saja memacu.
"Ridlo stop.. aku tak kuat!" Nisa ingin menghentikan aksinya
"Sebentar lagi sayang... "
"Ridlo... sakit... " Nisa menjerit kesakitan. Perutnya terasa kram dan nyeri luar biasa.
Ridlo menghentikan aksinya. Dia melihat darah mengalir keluar.
__ADS_1