
"Ya sudah. Kalau Sani telah menentukan tujuan, pasti akan menemukan jalannya. Tapi.. abah merasa sayang kalau Sani bekerja. Karena Sani tidak mempunyai ijazah kan? Sebaiknya nanti setelah mendapatkan pekerjaan kamu ikut persetaraan. Biar kelak bekerja di tempat yang sesuai." Pak Haji Zenal ikut menyayangkan kalau Sani nantinya bekerja serabutan kalau tidak ada ijazah.
"Iya baik bah. Kalau abah mengizinkan mulai besok, Farhan akan mengurus surat-surat untuk Sani. Meski Sani harus menjadi anggota keluarga abah sementara. Karena tanpa data, KTP dan kartu keluarga bagaimana Farhan bisa membuatkan paspor dan Visa buat Sani." Farhan memberikan keterangan pada ayahnya seputar masalah adminstrasi yang harus dimiliki Sani.
"Iya, abah izinkan. Semoga Sani bisa amanah ya! Semoga nanti di Singapura bisa dilancarkan urusannya dan muda-mudahan banyak yang sayang sama kamu." Doa pak Haji Zenal meluncur tulus. Dia dan bu Haji Zenal memang terkenal penyayang pada siapapun. Tak heran jika Sani dengan mudah ditolong dan diakui sebagai anggota keluarganya dengan mudah.
"Aamiin pak Haji. Saya ucapkan terimakasih atas kebaikan dan pertolongan pak Haji, bu Haji juga mas Farhan. Semoga Allah Subahna wata'ala membalas kebaikan keluarga ini dengan berlipat ganda." Ucap Sani sambil berkaca-kaca terharu mendapatkan kebaikan mereka.
"Iya Aamiin." Jawab Pak Haji dan Farhan bersamaan.
"Far... kalau Nisa ikut juga?" Tanya Pak Haji Zenal penasaran.
"InsyaAllah bah. Nisa juga nanti akan dibawa. Farhan akan mengurus paspornya bareng sama Sani." Jawab Farhan.
"Syukurlah kalau begitu. Abah hanya bisa berdoa, semoga rumah tangga kalian rukun dan selalu sakinah mawaddah warahmah. Kalau bisa jangan menunda keturunan. Agar abah dan umi bisa melihat cucu dari kalian." Rupanya pak Haji Zenal sudah rindu menimang cucu. Karena Reza dan Sarah belum juga dikaruniai keturunan, walau mereka sudah lima tahun menikah.
"Iya Aamiin bah." Farhan tertunduk. Sedangkan Sani menghela nafas mendengar penuturan dari Pak Haji Zenal. Ada rasa sakit di hati Sani ketika mendengar Farhan pada kenyataannya sudah memiliki orang lain. Ya Sani hanya bisa pasrah, apalah daya dia anak yang tak. mampu dan tak mempunyai apapun untuk dibanggakan. Apalagi ketika hatinya menaruh rasa pada Farhan sejak pertama melihatnya.
Setelah pak Haji Zenal menyudahi makannya, Farhan, Sani juga Bi Inah sama-sama menyudahi makannya juga.
Pak Haji masuk kembali ke kamarnya begitu pun Farhan masuk ke kamarnya di lantai dua untuk mengerjakan tugas-tugasnya juga sedang mengumpulkan berkas untuk persiapan besok pembuatan Ktp, juga kartu keluarga dan selanjutnya akan mengurusnya ke kantor imigrasi untuk mendapatkan paspor dan visa.
Sani dan Bi Inah pergi ke kamarnya setelah selesai membereskan sisa makanan dan mencuci wadah-wadah kotor bekas makan.
Bi Inah langsung tertidur dengan lelapnya. Sedangkan Sani belum bIsa merapatkan kedua matanya karena belum mengantuk.
__ADS_1
Mama.. lagi apa ya sekarang?
Tiba-tiba Sani teringat ibunya. Apakah dia baik-baik saja selama ditinggalkannya atau malah sebaliknya.
Bagaimana kalau dirinya nanti jauh dari ibunya? Akankah ibunya akan merindukan dirinya?
Ah mama...semoga nanti ketika aku sukses mama akan menerima ku dengan tangan terbuka. Aku ingin yang terbaik agar mama bangga padaku
Sani hanya bicara di dalam hati. Dia tidak bisa tidur memikirkan ibunya, masa depannya juga bagaimana nanti ketika dia jadi pergi ke Singapura. Bermimpi pun tidak, untuk pergi ke sana. Ada rasa cemas dirasakan Sani ketika ajakan Farhan serius. Gundah dan tidak tenang dirasakan dalam hati Sani sekarang.
Waktu sudah melewati ambang tengah malam, Sani akhirnya tertidur. Meski dalam pikirannya tersimpan banyak masalahnya. Tapi dia harus mengistirahatkan tubuhnya agar bisa melanjutkan aktivitas di esok hari.
Pagi buta Bi Inah dan Sani sudah terbangun. Sebelumnya Sani sudah melakukan Shalat tahajud walau subuh ini hanya dua rakaat dan satu witr. Karena kurang tidur, badan Sani agak lemas dan kepalanya pusing.
"Neng Sani tidak apa-apa?" Bi Inah melihat wajah Sani pucat pasi. Dan kelopak matanya agak terlihat mengantuk.
"Tapi wajah kamu pucat. Bibi buatkan teh manis ya?" Bi Inah merasa kasihan pada Sani. Bahkan karena kedekatan yang belum lama ini, bi Inah sudah menganggapnya sebagai keluarga karena Sani dan bi Inah keduanya sama-sama orang baik.
"Nih minumlah!" Bi Inah menyodorkan teh hangat. Bi Inah meraba kening Sani karena penasaran.
"Neng Sani panas." Ucap Bi Inah kaget.
"Sssttt... bibi jangan keras-keras nanti kedengeran sama mas Farhan sama pak Haji!" Ke-dua yang kebetulan sedang berada di ruang keluarga menonton ceramah subuh.
"Neng Sani kalau pusing tidur aja! Nanti bibi buatkan bubur." Bi Sani agak khawatir jika terjadi apa-apa. Apalagi bu Haji tidak ada dan bi Inah tahu bahwa Sani orang asing di rumah itu.
__ADS_1
"Ga pa-pa bi saya tidak membantu bibi?" Sani yang sudah tidak kuat menahan sakit kepala ingin rasanya membaringkan tubuhnya di kasur.
"Iya ga pa-pa.. Bibi sudah biasa sendiri. Lagian tidak banyak pekerjaan. Neng Sani istirahatlah!" Bi Inah menuntun Sani ke kamarnya.
Sani terlihat menggigil karena demamnya. Badannya seperti ditusuk-tusuk nyeri, kepalanya begitu berat dan sakit. Bi Inah menyelimuti Sani sampai ke leher karena kasihan melihat Sani seperti kedinginan.
Bi Inah segera ke dapur lalu membuatkan teh manis hangat juga pisang goreng untuk camilan mas Farhan juga pak Haji Zenal yang sedang mendengarkan ceramah subuh dari stasiun televisi.
"Sani mana bi?" Sejak Sani tinggal di rumahnya, Farhan selalu penasaran jika tak melihatnya.
"Mmm... anu.. mas." Bi Inah bingung untuk menjawab. Karena tak ingin membebani majikannya. Tapi dia pun takut disalahkan jika ada yang terjadi pada Sani.
Pak Haji dan Farhan menatap bi Inah. Mereka mengerutkan dahi seperti penasaran dengan bi Inah yang menggantung kalimatnya.
"Ada apa bi?" Ucap Pak Haji sedang menunggu jawaban bi Inah.
"Anu pak Haji.. neng Sani sakit demam. Barusan sudah membantu bibi di dapur. Tapi pas bibi raba keningnya dia panas pak Haji." Bi Inah tertunduk takut majikannya marah.
"Far... coba nanti lihat dengan bi Inah! Kalau memungkinkan bawa ke dokter!" Pak Haji meminta Farhan untuk memeriksa keadaan Sani dulu.
"Iya bah." Farhan langsung berdiri diikuti bi Inah.
"Assalamualaikum." Farhan permisi agar Sani bisa memakai kerudungnya. Sani hanya melirik sebentar lalu menjawab dengan bibir bergetar karena merasa kedinginan.
"Silahkan mas!" Ucap bi Inah
__ADS_1
Farhan mengulurkan tangannya di kening Sani.
"Panas."