
"Apa perlu saya jemput ma?" Farhan melihat pada mertuanya yang sedang duduk termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Barusan sih katanya lagi otw." Jawab Jeng Reni menolak Farhan untuk menjemput Nisa. Padahal di dalam hati perempuan itu sedang berkecamuk, pasalnya Nisa tadi terdengar sama-sama parau. Kecurigaan dan tanda tanya memenuhi ibunya Nisa tentang perbuatan anaknya yang kedapatan sedang dengan laki-laki lain.
"Oh.. baiklah kalau begitu. Farhan akan menunggunya saja." Farhan sebenarnya kecewa mendengar pembicaraan yang sempat didengarnya. Wajar saja kalau dia bersuudzon pada istrinya sendiri. Tadi Farhan mendengar mertuanya menyebutkan satu nama laki-laki yang bernama Ridlo.
"Oh iya bang Farhan. Mendingan abang Farhan tunggu saja di kamar. Nanti kalau Nisa datang biar mama kasih tahu." Nada gelagapan jeng Reni terbaca oleh Farhan. Meski dia pura-pura, tapi entahlah hati kecilnya selalu saja mengatakan sesuatu yang bertentangan. Apakah ini ujian lintasan hati atau memang Farhan sedang mendapatkan petunjuk.
"Farhan permisi dulu ya ma." Farhan permisi meninggalkan mertuanya di ruang keluarga pergi ke kamar Nisa.
"Oh iya." Jawab Jeng Reni pendek
Adzan Ashar berkumandang. Farhan segera mengambil air wudlu lalu mengganti bajunya dengan baju koko dan sarung. Dia merapihkan pakaiannya dan hendak pergi ke mesjid terdekat dari rumah mertuanya itu.
Begitu Farhan keluar kamar hendak ke mesjid, pintu di ruang keluarga terbuka. Muncul Nisa dari balik pintu dengan wajah terkejut ketika melihat Farhan. Dia tersenyum menyembunyikan rasa bersalahnya karena pulang telat. Dikira. Farhan tidak akan pulang, makanya tadi dia asik ngafe dan berakhir bersama laki-laki yang bernama Rido.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nisa. Mama Nisa agak terkejut juga karena yang ditunggu akhirnya muncul.
"Waalaikumsalam." Salam dijawab serempak oleh Farhan dan Jeng Reni.
"Abang mau ke mesjid?" Nisa menghampiri Farhan sambil cium tangan dan pura-pura ramah tanpa merasa berdosa.
"Iya. Abang pergi dulu ya. Nisa jangan lupa shalat ashar dulu!" Sebagai suami Farhan merasa berkewajiban mengingatkan istrinya untuk menunaikan shalat.
"Iya bang. Saya mau mandi dulu." Ucap Nisa.
"Ya sudah abang pergi dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Nisa sambil menatap Farhan.
__ADS_1
Farhan berjalan keluar meninggalkan rumah mertuanya menuju mesjid.
"Nisa duduk disini!" Jeng Reni agak kecewa melihat Nisa kepergok Farhan sedang tidak ada di rumah. Apa yang nanti akan dikatakan keluarga besan kalau anaknya punya sikap tidak baik. Apalagi ini baru dua hari pernikahan.
"Ada apa sih ma?" Nisa nampak cemberut. Tak mau ibunya terlalu banyak bertanya.
"Kamu darimana saja Nis? Mama malu sama Farhan yang sejak mama pulang sudah ada di sini." Ibunya Nisa ingin tahu kemana putrinya pergi. Dan dia agak malu ketika kebiasaan putrinya yang senang kumpul-kumpul dengan temannya malah ketahuan sama Farhan.
"Aku cuman ngafe aja kok!" Nisa sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kalau ngafe kenapa juga gak buru-buru pulang. Tadi teman kamu saja sudah pulang kok! Ini malah keluyuran." Ucap Jeng Reni agak bernada tinggi.
"Ah.. mama gak tau aja. Temen aku juga masih diluar kok bukan di rumahnya." Nisa tak mau ibunya menyalahkan dirinya.
"Eh.. kalau dikasih tahu malah suka melawan. Tadi kamu dari ngafe pergi kemana lagi? Kok ada sama Rido? Siapa Rido? Dan kamu ngapain sama dia?" Jeng Reni ingin tahu aktivitas putrinya selepas ngafe. Karena dia agak mencurigai sesuatu antara Nisa dan Rido.
"Aku gak ngapa-ngapain ma! Udah ah Nisa mau ke kamar. Cape nih!" Nisa malah melengos tak ada adab. Dia tak mau ibunya terus-terusan menanyainya.
Nisa bukannya menoleh ketika dipanggil Jeng Reni ini malah membanting pintu.
"Ya Allah.. " Jeng Reni mengusap dada terhenyak mendengar pintu ditutup keras.
"Mudah-mudahan Nisa bisa berubah." Lirih Jeng Reni di dalam hati. Dia tak ingin Farhan tahu kebiasaan-kebiasaan buruk Nisa. Apalagi ini baru dua hari pernikahannya.
Jeng Reni mengetikkan sesuatu lalu mengirimkannya pada teman Nisa. Dia ingin tahu sekali mengenai laki-laki yang bernama Rido. Pesan yang dikirim Jeng Reni tak jua dibaca. Garis centang dua abu terlihat di layar handphone.
"Apa aku telepon saja anak laki-laki yang bernama Rido itu? Apa aku tanya langsung siapa sebenarnya dia? Dan apa hubungannya dengan Nisa?" Jeng Reni bermonolog.
Sementara itu Nisa malah berbaring di kasur sambil cekikikan. Entah dengan siapa dia bertelepon ria. Padahal tadi dia berjanji akan segera sholat ashar ketika Farhan menyuruhnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Farhan sudah datang kembali dari mesjid.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam.. " Jeng Reni yang masih duduk di ruang tengah menjawab salam.
"Eh bang Farhan sudah pulang lagi." Mertuanya sangat malu, ketika dia kedapatan masih duduk di ruang keluarga belum menunaikan shalat. Padahal Farhan saja sudah kembali dari mesjid.
"Iya ma." Jawab Farhan mengangguk.
"Iya mama tinggal dulu ya. Belum shalat ashar." Jeng Reni bangkit dari sofa hendak masuk ke kamarnya untuk menunaikan shalat ashar.
"Oh iya ma silahkan!" Farhan berjalan ke kamar Nisa setelah mempersiapkan terlebih dahulu mertuanya melangkah pergi.
Farhan lalu berjalan menuju kamar Nisa. Belum juga masuk ke dalam, suara cekikikan Nisa terdengar Farhan dari balik pintu. Farhan menghentikan langkah. Entah apa yang menahan kakinya untuk tidak segera masuk ke dalam. kamar itu.
"Eh.. kapan kita ketemuan lagi Do? Tadi kan keganggu sama mama aku." Suara itu terdengar jelas oleh Farhan dari balik pintu bahwa Nisa sedang asik berbicara.
"Dengan siapa dia berbicara?" Farhan hanya berbicara dalam hati.
"Ya kalau sih.. oke-oke aja. Nanti aku kasih kabar lagi ya kalau suamiku lagi gak ada." Ucap Nisa menjawab pertanyaan seseorang dari seberang telepon.
"Apa maksudnya?" Farhan agak mengernyitkan dahi.
"Tapi.. janji ya kamu jangan menghindar gitu? Aku cinta habis sama kamu." Tanpa disadari Nisa Farhan sudah mendengar kata-katanya di balik pintu.
Deg. Hati Farhan seperti tersambar petir di siang bolong. Dadanya begitu sakit mendengar Nisa mengucapkan kalimat pernyataan itu. Tak mungkin dia menyatakan kalimat itu pada perempuan kan?
"Astaghfirullah.. maksudnya apa Nisa?" Farhan langsung membuka pintu kamar sambil menegur Nisa. Wajahnya nampak merah dan matanya agak berembun. Jantungnya mendadak berdetak tak karuan menahan emosi yang naik. sampai ubun-ubun.
__ADS_1
"Eh.. " Nisa spontakn terkejut dengan keberadaan Farhan ada di depannya.
"Siapa itu Nisa?'