
Flashback
"Jangan mimpi kamu ingin menguasai perusahaan ku!" Bentak tuan Tedy Sani Nugraha.
"Sampai kapan kamu selalu bermusuhan dengan anakku San!" Suara lirih itu sepertinya sudah kehabisan semangat.
"Sampai anak kamu mau mengikuti aturan ku!" Tedi menghela nafas sambil menatap kosong ke arah jendela yang ada di kamarnya. Hujan rintik yang menambah suasana hatinya menjadi sendu. Sudah hampir 17 tahun ternyata dia telah meninggalkan seseorang jauh nan di sana.
"Jadi apa keinginan mu biar hidup kita bisa berdamai. Aku sudah lelah San.. hidup ribut denganmu. Bahkan energi kita selama ini hanya dihabiskan untuk menyesali pernikahan kita yang terpaksa." Rose hanya bisa mengalah. Sejak awal pernikahan memang dia yang bersalah sudah hamil di luar nikah dan menipu banyak orang karena menyembunyikan kehamilannya.
Untung Sani tidak menceraikannya, tapi alhasil Sani lebih banyak main wanita di luar pernikahan. Karena kecewa pada Rose.
Demi hubungan baik antara dua keluarga terpaksa keduanya membuat kesepakatan untuk tidak bercerai.
"Baik jika kamu dan anakmu mengikuti aturan mainku. Aku tak akan segan memberikan semua warisanku padanya. Asal dia menikahi wanita itu! Sani melemparkan sebuah foto gadis ke wajah Rose.
"Hhmm tidak jelek. Tapi dia ada dimana?" Rose melihat foto itu dengan teliti.
"Cari di daerah ini! Dan datangi tempat ini!" Dia menyimpan sebuah kartu nama di atas meja. Lalu melengos ke luar kamarnya.
"Tempat apa ini?" Dahinya mengerut.
####
"Maaf bos, kita akan menurunkan di rumah sakit mana? Bukankah kita ada janji?" Asisten nya mengingatkan laki-laki yang duduk di belakang yang dipanggil bos.
"Kamu turunkan di rumah sakit terdekat. Bayar biaya rumah sakitnya. Dan beri cek yang pantas atas kesalahan mu pada gadis ini." Suaranya yang ketus menambah aura dinginnya.
"Baik bos!" Asistennya segera membuka peta yang terdapat rumah sakit. Lalu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang dituju.
Sesampainya di rumah sakit. Gadis yang tergolek lemah diangkut tim medis ke ruang UGD. Sang asisten mengurus semua administrasi nya dan tak lama kemudian dia keluar.
"Sudah bos. Kita sekarang ke hotel untuk menunggu gadis pesanan bos!"
Laki-laki itu hanya mengangguk.
Kalau bukan permintaan tua bangka itu mana mau aku datang ke tempat murahan itu!
__ADS_1
Dia bergumam dalam hati.
Mobil itu melaju menuju hotel tanpa mempedulikan gadis yang telah dia tinggalkan di rumah sakit. Setelah dia membayar biaya rumah sakit dan meninggalkan cek pada gadis itu, tugasnya dianggap selesai.
"Telepon! Tanyakan sudah sampai mana dia?" Dengan nada dingin dia menyuruh asisten nya untuk menelpon.
Laki-laki dengan perawakan atletis itu terlihat sedang mengenakan handuk dengan panjang hanya menutupi bagian pinggang sampai lututnya. Setelah bajunya terkena noda darah. Dia segera mengganti bajunya lalu mandi untuk menyegarkan badannya setelah 4jam perjalanan yang cukup melelahkan.
"Baik bos!"
"Halo!"
"Iya Halo!"
"Kamu tidak lupa untuk mengantarkannya bukan?"
"Ma ma af tuan." Suara tergagap terdengar dari seberang telepon.
"Ada apa?" Dahinya mengernyit. Pastinya dia menduga akan ada masalah.
"Ngomong yang jelas!" Bentak asisten.
"Gadis itu tak ditemukan di tempat. Sepertinya ada seseorang yang membawanya. Tapi.. entahlah. Sepasang sepatu ditemukan dengan darah tercecer di beberapa tempat. Ada kemungkinan gadis itu kena korban tabrak lari tuan." Akhirnya dia harus menjelaskan pada pelanggannya.
"Waduh jangan-jangan gadis yang kuseret." Sang asisten bergumam dalam hati. Dia sedang berpikir bagaimana menyelesaikan masalahnya agar bosnya tidak marah dan di tidak kena sangsi.
"Akan kuberi pesan!" Dia menutup pembicaraannya.
"Cepat kirimkan seorang gadis tercantik yang kamu miliki! Jangan bilang gadis itu hilang! Cepat atau kalian kutuntut!" Pesan itu segera terkirim
"Baik bos! Secepatnya saya kirim!" Pesan itu pun berbalas tak menunggu lama.
"Bagaiamana?" Suara Rei yang dingin dan wajahya yang irit senyum menanyakan kabar gadis itu.
"Baru akan berangkat bos!" Jawab asistennya yang sedikit gemetar.
"Hah? Jangan becanda kamu! Kita harus menunggu empat jam? Dasar gak becus!" Rei kesal matanya mendelik.
__ADS_1
flasback
"Hah.. enak saja anakku harus menikah dengan perempuan gak bener dari rumah bordir." Rose memasukan foto yang diberikan suaminya ke dalam laci. Lalu menghempaskan badannya ke kursi sambil memijit keningnya.
Mana mungkin dia akan membiarkan anaknya menikahi seorang wanita murahan dari tempat itu hanya ingin mewarisi perusahaan milik Tedy.
"Gila ini sungguh gila.. anakku bisa menikahi perempuan manapun jika dia ingin. Tapi.. kenapa harus perempuan itu. Apa aku harus menyembunyikan foto itu. Jika yang dibawa Rei nanti tidak sama bagaimana? Apa Tedy akan menyerah? Ya ampun.. kenapa hidupku harus serumit ini sih!" Rose beberapa kali memijat keningnya yang semakin berdenyut.
"Mah.. " Rei tanpa mengetuk pintu masuk ke dalam ruang kerja Rose.
"Eh Rei.. " Rose menatap putra semata wayangnya dengan senyum walau kepalanya masih berdenyut.
"Tadi mama memanggilku?" Rei berjalan lalu duduk di kursi berhadapan dengan Rose.
"Iya. Ada yang ingin dibicarakan sama kamu Rei."
"Iya. Bicaralah mah!" Rei menatap serius wajah ibunya.
"Begini Rei.. kali ini mama Minta kamu jangan berontak lagi sama papa mu! Mama sudah lelah hidup bertengkar. Mama sudah tidak muda lagi begitu juga dengan papa mu. Mama pingin hidup berdamai bersama. Tolong kali ini mama harap kamu jangan keras kepala ya!" Rose berbicara dengan wajah memohon.
"Apaan sih ma! Aku juga gak ingin hidupnya gini. Perasaan yang banyak uringan kan papa sendiri. Aku juga gak mau kaya gini sih ma!" Rei berusaha memberikan alasan.
"Iya. Mama tahu. Mama Minta maaf sama kamu atas perlakuan papa mu selama ini. Mama juga gak bisa membelamu. Jadi please kali ini mama ingin kamu menuruti perkataan ayahmu."
"Maksud mama apa?" Rei menatap ibunya heran.
"Beberapa waktu yang lalu papa mu bicara pada mama. Dia ingin kamu pergi ke tempat ini." Rose menyodorkan secarik kartu nama pada Rei.
Rei menerima kartu nama itu lalu membacanya.
"Lalu untuk apa aku harus pergi ke sana?" Rei kembali melihat ibunya menanyakan alasannya.
"Cari gadis terbaik di sana dan bawa kesini. Lalu. menikahlah dengannya!"
"Apa?" Rei terhenyak kaget.
"Ya itu jalan satu-satunya kamu bisa mewarisi perusahaan papa mu. Kalau tidak kamu akan terlunta-lunta.
__ADS_1