Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
Pulang kampung


__ADS_3

"Bah.. Farhan mohon izin dulu mau berangkat ke kota K." Pagi ini Farhan merencanakan untuk mendatangi kota K untuk meneliti kebenaran Sani.


"Mmm..memang kamu sudah siap Far? Jangan sampai memaksakan diri berangkat di saat pikiran kamu masih keruh!" Pak Haji menasehati Farhan.


"Gak pa-pa abah. Farhan insyaallah sehat. Sepertinya Farhan juga harus menyelesaikan masalah satu-satu. Mmm.. bah Farhan mohon izin untuk membawa Sani ke kampung halamannya." Farhan tak mau berlarut- larut dalam kesedihan. Masalah yang dihadapinya satu persatu harus diselesaikannya.


"Baiklah. Tapi sebaiknya bawa sopir! Tak baik membawa Sani dalam keadaan kamu seperti itu. Nanti akan timbul fitnah." Pak Haji menyarankan Farhan untuk pergi ke kota K dengan memakai sopir agar ada saksi jika ada apa-apa di perjalanan.


"Baik bah. Saya akan membawa mang Supri. Doakan ya bah, Semoga perjalan Farhan lancar sampai kembali ke Jakarta." Farhan meminta doa restu dari Pak Haji Zenal sebagai ayahnya.


"Iya. Doa abah selalu menyertai kamu. Semoga urusannya lancar dan dimudahkan." Pak Haji Zenal mendoakan Farhan dengan segenap hatinya.


"Eh.. Farhan mau kemana?" Reza yang baru turun dari lantai dia kaget melihat Farhan menggeret koper.


"Mau ke kota K bang."


"Bersama Sani?" Tanya Reza.


"Iya bang."


"Kamu hati-hati lho Far! Yang kamu hadapi bukan orang sembarangan. Sekiranya membahayakan jangan diteruskan langsung pulang! Jangan memaksakan diri! Kamu butuh kebenarannya saja apakah betul Sani orang sana dan apakah betul ibunya Sani telah menjualnya. Jangan sampai kedatangan kamu diketahui oleh antek-antek mafia disana!" Reza mewanti-wanti akan kondisi yang akan dihadapi Farhan di sana.


"Baik bang. Maksud saya juga begitu. khawatirnya kalau belum dipastikan nanti keluarganya akan menuntut kita. Setelah tahu kebenarannya saya akan secepatnya kembali ke Jakarta.


"Eh.. sini.. abang mau bicara dulu sama kamu!" Reza membawa Farhan ke ruang tamu.


"Iya ada apa bang?" Farhan duduk berdampingan dengan Reza.


"Kamu beneran mau bercerai dengan Nisa Far? Tadi malam Sarah sudah menceritakan kondisi sebenarnya Nisa. Abang baru tahu kalau Nisa hamil duluan." Reza menyesal telah membujuk Farhan untuk mau menikah dengan Nisa. Kalau waktu bisa mundur, mungkin Reza akan melarang Farhan menikahi Nisa.


"Iya bang. Bukti-bukti Nisa sudah Farhan pegang. Kemarin Farhan sudah bicara dengan dokter yang menangani Nisa. Takutnya keluarga Nisa menimpakan kesalahan Nisa sama Farhan. Farhan tak mau terlibat masalah dengan mereka lagi. Biar Farhan pisah saja agar Farhan bisa berpikir jernih mengenai pernikahan Farhan ke depannya." Farhan ingin bertindak cepat agar semua masalah bisa selesai satu persatu.


"Iya. Abang minta maaf ya Far! Abang tidak tidak bisa membantu kamu banyak. Semoga urusan kamu dimudahkan dan dilancarkan." Reza menyesali sikapnya telah memaksa Farhan mau menikah dengan Nisa juga tidak bisa melindungi adiknya dari kejahilan orang lain.

__ADS_1


"Ga pa-pa bang. Doakan saja. Saya juga sudah mengajukan surat cerai ke pengadilan. Farhan sudah menyewa pengacara agar membantu masalah ini." Farhan lumayan gercep dalam menangani masalahnya.


"Ya sudah. Nanti bilang saja pada abang apa yang perlu abang bantu. Jangan merasa sendiri ya!" Reza menepuk pundak Farhan memberi motivasi kekuatan pada adiknya.


"Iya bang Terima kasih. Farhan pamit dulu ya bang. Biar bisa lebih pagi berangkat ke kota K." Pamit Farhan.


"Iya. Hati-hati ya! Jangan lupa berdoa!" Reza memeluk Farhan untuk saling menguatkan.


Di kamar Sani sudah siap-siap berangkat. Dia sedang menunggu Farhan yang sedang bicara dengan Reza.


"Neng Sani hati-hati ya! Bi inah bantu dengan doa. Semoga ibu neng Sani mengizinkan Neng Sani pergi ke Singapura." Bi Inah mengelus punggung Sani.


"Iya bi. Doakan Sani." Sani tertunduk. Hatinya deg-deg an banyak kekhawatiran yang dipikirkan Sani.


"Sani.. " Sarah memanggil Sani keluar.


"Oh iya mbak." Sani berdiri menghampiri Sarah.


"Sani.. ini buat jajan kamu! Maaf mbak tidak bisa membantu banyak. Mbak doakan semoga urusan kamu lancar. Jaga diri kamu! Jangan sampai kalian disana celaka!" Sarah memberikan pesan untuk Sani.


"Iya. Kembalilah dalam keadaan selamat!" Sarah memeluk Sani. Sekarang Sarah akan menggantikan posisinya bu Haji Zenal yang telah menyayangi Sani dan memberikan naungan yang baik di rumah ini.


"Sani.. kamu sudah siap?" Tanya Farhan yang sudah selesai bicara dengan Reza.


"InsyaAllah mas Farhan." Jawab Sani sambil mengangguk.


"Baik. Kita pergi sekarang." Ajak Farhan pada Sani.


"Baik. Mbak saya pamit. Sebentar saya mau salim dulu sama bi Inah." Sani masuk ke dalam kamar.


"Bi Inah.. saya berangkat dulu." Sani menyalami tangan bi Inah sambil membawa tas ransel berisi baju ganti.


"Iya hati-hati ya!" Bi Inah memeluk Sani.

__ADS_1


"Iya bi." Mereka saling melepaskan pelukan lalu keluar kamar.


"Bang Reza.. pak Haji.. saya pamit dulu!" Sani menyimpan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai hormat Sani pada kedua laki-laki yang muhrimnya.


"Iya.. kalian jaga diri ya! Kembali dengan selamat." Pak Haji mengiringi keduanya dengan pesan dan doa.


"Iya bah. Kami pamit assalamu'alaikum." Pamit Farhan lalu keluar rumah diikuti Sani.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka serempak. Mereka mengantarkan sampai halaman rumah.


Sani dan Farhan masuk ke dalam mobil. Mang Supri sudah siap mengantarkan keduanya ke kota yang dituju.


"Jangan lupa berdoa San!" Farhan mengingatkan Sani baegitu mobil melaju.


"Iya mas. Bismillahi tawakaltu alallahi laa haula walaa kuwwata illa billah." Sani melafalkan satu doa pengiring perjalanan.


Sani duduk di bangku kedua sedangkan Farhan duduk di samping Mang Supri.


"Mang.. kalau kelelahan tinggal bilang saja! Nanti kita tukeran nyopir." Ucap Farhan.


"Iya den. Kalau aden Farhan mau tidur, tidur saja! Nanti sama mang Supri dibangunkan kalau Mang Supri mau gantian sama aden."


"Iya baik mang. Saya tidur dulu ya! Nanti kita gantian nyopir di rest area sambil makan siang." Ucap Farhan. Perjalanan dari Jakarta ke kota K lumayan jauh sekitar 8 jam mereka baru bisa sampai. Farhan memilih tidur dahulu sebelum bergantian dengan mang Supri.


Di lain tempat Nisa sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"Kamu sudah menghubungi laki-laki itu belum?" Jeng Reni bertanya pada Nisa.


Nisa menggelengkan kepala.


"Ya ampun Nisa...!" Jeng Reni kesal. sekali pada Nisa yang tidak menurut pada perintahnya.


"Sampai kapanpun Nisa tidak mau bercerai dengan mas Farhan." Tolak Nisa.

__ADS_1


"Heh.. kalau kamu tidak mau pisah sama Farhan, makanya jadi istri yang sholehah Nisa!"


__ADS_2