Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
24


__ADS_3

Ruangan yang dipakai merawat bu Haji Zenal pagi ini nampak banyak orang. Ruangan itu diatur serapih mungkin agar bisa dipakai beberapa orang untuk duduk.


Baju stelan putih bersih model jasko juga warna pecinya yang senada sudah dipakai Farhan. Dia kelihatan tampan juga gagah. Kulitnya yang putih bersih berjambang tipis, perempuan mana yang tidak kepincut jika melihatnya.


Begitu pun dengan Nisa, dia sudah siap. Kebaya putih dan bawahan kain batik yang dililit terlihat begitu anggun dipakainya.


Acara pernikahan Farhan bersama Nisa dibuat sederhana karena kondisinya yang darurat.


Nisa tersenyum bahagia. Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Beberapa menit lagi Farhan akan resmi menjadi suaminya.


Berbeda dengan Farhan. Mungkin kabut sedang turun di dalam dirinya. Dia tak nampak ceria seperti laki-laki keumumannya yang bergembira ketika mau menikah.


"Kamu sudah siap Far?" Reza menepuk bahu adiknya sambil berbisik.


Farhan mengangguk pelan.


"Silahkan calon mempelai duduk disini!" Petugas KUA mengarahkan kepada kedua mempelai untuk duduk di depan meja. yang sudah disediakan.


Dua orang petugas KUA sudah siap menikahkan mereka. Juga dua saksi telah hadir sebagai perwakilan tim medis. Yaitu satu orang dokter dan pimpinan rumah sakit dimana bu Haji Zenal dirawat.


"Kita mulai saja ya acaranya?" Tanya petugas KUA pada orang-orang yang hadir di ruangan itu.


"Silahkan pak!" Pak Haji Zenal mempersilahkannya.


Tidak ada tamu yang diundang. Hanya ada kedua orang tua Nisa, Reza dan Sarah, pak Haji Zenal dan bu Haji Zenal yang tergolek lemah di kasur melihatnya sambil terbaring.


Acara pernikahan dimulai. Mulai dari petuah dari petugas KUA sampai Farhan mengucapkan ijab kobul semuanya berjalan dengan lancar.


Setelah kata 'Sah' disetujui oleh semuanya petugas KUA pun mengangguk lalu pencatatan pun dilakukan sebagai bukti laporan pada lembaga KUA.


Nisa mengambil punggung tangan Farhan, menciumnya penuh rasa suka cita. Dibalas dengan Farhan yang mencium kening Nisa dengan sebuah doa.


Tes


Cairan bening lolos dari kedua kelopak mata Farhan. Jangan tanyakan kalau itu air mata bahagia. Hanya pemilik air mata itu dan sang Pencipta saja yang tahu.


"Selamat ya.. Barakallah laka wabaroka alaika wajama baina huma fii khoirin." Reza mengucapkan ucapkan selamat doa pernikahan pada adiknya sambil memelunya erat.

__ADS_1


Disusul dengan yang lainnya mengucapkan selamat. Nisa dan Farhan kini duduk bersimpuh meminta doa pada kedua orangtuanya agar mereka berkenan memberikan restu dan berkah pada pernikahannya.


"Nisa... Farhan.. kalian sudah resmi menjadi suami istri, bapak harap kalian bisa saling menjaga dan saling menyayangi ya!" Ucap Pak Haji Zenal.


"Baik bah. InsyaAllah."Jawab Farhan dengan tertunduk.


"Kalian istirahatlah! Biar abang sama kak Sarah yang menunggu umi disini!" Ucap Reza pada Farhan.


"Baik bang." Jawab Farhan.


"Bang Farhan.. mari!" Jeng Reni yang sudah menjadi mertuanya mengajak menantunya untuk pulang ke rumahnya. Ya seminggu menginap di rumah mertua paska pernikahan memang disunnahkan bagi pengantin laki-laki.


"Mi.. Farhan sama Nisa pulang dulu ya! Besok Farhan kembali ke sini." Ucap Farhan berpamitan pada bu Haji Zenal.


"Iya. ati-ati!" Bu Haji Zenal. tersenyum bahagia melihat putra bungsunya telah menikah.


"Umi.. Nisa pamit dulu ya!" Nisa menciumi bu Haji Zenal untuk berpamitan.


"Iya. itip Ahan!" Ucapnya masih tidak jelas.


Giliran besan jeng Reni dan suami berpamitan pada semuanya. Dan semua tamu pun membubarkan diri karena acara sederhana itu sudah selesai.


Tinggal tiga orang yang masih ada di dalam ruangan.


"Abah.. istirahatlah! Biar Reza sama Sarah yang menunggu umi." Reza tidak tega melihat ayahnya tinggal di rumah sakit.


"Tidak apa-apa. Kalian yang harusnya istirahat. Karena sepulang dari tanah suci belum istirahat. Biar hari ini abah akan menunggu umi bersama Sani." Pak Haji Zenal tak tega pula melihat putranya yang baru saja sudah disibukkan dengan urusan pernikahan adiknya dan belum sempat beristirahat dengan baik.


"Abah tidak apa-apa?" Reza masih ragu untuk meninggalkan rumah sakit.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi Sani juga kesini bantu abah disini." Ucap pak Haji Zenal.


"Bah.. boleh abang bicara sama abah dulu di luar?" Rupanya ada Reza mempunyai ganjalan yang dibicarakan dengan pak Haji Zenal. Tapi dia tak ingin bu Haji mendengarkan isi pembicaraannya.


"Iya. Kita bicara di luar." Pak Haji menangkap kode dari Reza.


"Sarah.. abang titip umi dulu ya!" Reza pamit pada istrinya Sarah.

__ADS_1


"Iya bang." Sarah mengangguk.


Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangan rawat inap mencari tempat yang nyaman untuk keduanya berbicara.


Setelah keduanya menemukan tempat, tepatnya di sebuah taman yang ada di luar rumah sakit keduanya pun duduk berdampingan.


"Alhamdulillah.. abah sekarang tidak punya beban lagi setelah melihat Farhan menikah." Pak Haji Zenal mengambil nafas lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Terlihat wajahnya begitu tenang.


"Iya bah. Kita doakan semoga pernikahan Farhan tidak menemukan kendala dan masalah." Ucap Reza pada ayahnya.


"Mmm.. setiap orang tua pasti selalu mendoakan anak-anaknya agar mereka berbahagia." Ucap pak Haji Zenal.


"Bicaralah... tadi kamu katanya ada yang mau dibicarakan." Pak Haji Zenal menoleh pada Reza.


"Itu bah... Reza penasaran sama Sani. Sebenarnya dia siapa bah?" Tanya Reza penasaran. Reza memang orangnya berbeda. Dia orangnya teliti.


"Oh.. dikira abah apa.. " Pak Haji Zenal sempat tegang juga mendengar Reza ingin bicara dengannya secara khusus.


"Abah juga belum ngobrol banyak sih... abah cuman dapat kabar dari umi. Sani itu korban tabrak lari yang ditemukan pak Karim di rumah sakit."


"Lalu.. kenapa kok bisa dibawa ke rumah kita bah?" Reza heran kenapa Sani bisa ada di rumah kedua orang tuanya.


"Mmm... dia tidak ada tempat untuk bernaung. Katanya sih dia dari kota I di Jawa sana." Ucap Pak Haji Zenal.


"Kenapa dia tidak diantar saja kesana bah? Mungkin orang tuanya sedang mencarinya." Reza semakin serius mendengarkan penuturan pak Haji Zenal.


"Mmmm... bagaimana ya menceritakannya." Sekarang pak Haji Zenal mulai bingung.


"Kenapa bah? Kok abah kaya bingung gitu?" Reza menangkap sesuatu yang serius.


"Abah juga kasian mendengar cerita Sani bang.. Dia tidak mau kembali ke kota itu. Tadinya umi sama abah juga berpikiran sama, akan mengantarkannya pulang. Tapi katanya nyawanya bisa terancam kalau dia kembali ke sana." Jawab pak Haji Zenal.


"Kenapa memang bah?"


"Katanya dia sudah dijual ke mucikari. Saat diperjalanan dia melarikan diri. Dan karena tidak berhati-hati dia tertabrak mobil yang tidak dikenalnya." Terang pak Haji Zenal.


"Innalillahi.. masa iya bah?" Reza terkejut mendengarkan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2