Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
20


__ADS_3

"Maaf bang Farhan.. ini ada rujak sama puding. Tadi bu Haji menyuruh saya membawakan ini." Ucap Sani menyodorkan wadah kecil yang berisi rujak Malaysia dan puding yang sudah dipesan sebagai acara pencuci mulut.


"Oh iya terimakasih!" Ucap Farhan.


Sani berdiri setelah menata meja menyimpan wadah-wadah cantik berisi rujak dan puding.


"San.. tolong duduk disini!" Farhan menyuruh Sni duduk menemani Farhan juga Nisa.


"Saya bang?" Sani agak kaget. Karena Farhan menyuruhnya duduk bersama. Bukannya tidak mau, tapi Sani merasa bahwa dirinya kurang sopan.


"Iya. Duduklah disini! Biar kita ada temannya, tidak berduaan." Ucap Farhan yang tidak nyaman harus berduaan dengan Nisa.


Nisa melihat ke arah Sani. Matanya menunjukkan sikap ketidaksukaannya karena Sani dianggap tidak pantas harus duduk bersama.


"Iya bang. Tapi saya masih ada pekerjaan di belakang." Tolak Sani halus.


"Duduklah dulu sebentar. Nanti kalau para orang tua datang kesini kamu boleh ke belakang." Ucap Farhan pada Sani setengah memaksa.


"Iya bang." Sani lalu duduk dan tertunduk malu. Karena dia merasa tak pantas harus duduk diantara keduanya. Sani merasa minder tidak bisa sebanding dengan Farhan dan juga Nisa yang terlihat lebih fashionable.


Farhan dan Nisa mencicipi rujak Malaysia dengan lahapnya. Rujak itu terasa segar di tenggorokan Nisa.


Sani duduk sebagai kambing conge atau bisa dikatakan sebagai nyamuk bagi Nisa. Kehadiran Sani sangat tak diharapkan karena telah mengambil kesempatan Nisa untuk bisa berduaan dengan Farhan. Sani hanya perlu duduk tertunduk menulikan telinga dan tak perlu bicara kalau tidak ditanya. Itu yang terjadi selama setengah jam di ruang tamu.


Karena kebosanan Sani hampir saja tertidur. Sesekali Sani kepalanya oleng terkantuk-kantuk dan membuat orang yang ada di ruang itu tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Untung bu Haji Zenal memanggilnya kembali guna membantunya di belakang. Sani langsung bangkit dari rasa kantuknya. "Permisi saya kebelakang dulu!" Dan Sani bisa bernafas bebas setelah setengah jam dibuat terpenjara atas permintaan Farhan.


"Sani tolong bantu bi Inah ya!" Bu Haji Zenal menyuruh membereskan meja makan karena tamunya akan kembali ke ruang tamu.


"Baik bu Haji." Sani tak banyak membantah.


"Duh terimakasih kasih banyak ya bu Haji atas jamuan makanannya!" Ucap Jeng Reni sambil berjalan ke ruang tamu dan berjalan berdampingan.


"Iya sama-sama. Mohon maaf ya ala kadarnya." Ucap bu Haji Zenal merendah.


"Wah.. ini bukan alasan kadar malah segala ada ucap jeng Reni yang melihat banyak menu pilihan di atas meja. Namun sayangnya Nisa tidak bisa menikmati semua itu karena merasa mual jika mencium masakan berbumbu.


"Maaf Pak Haji, bu Haji kami permisi dulu. Ini sudah malam." Ucap jeng Reni ingin menyudahi pertemuannya karena hari sudah larut malam.


"Wah.. padahal masih ingin berbincang-bincang ya.. " Ucap bu Haji Zenal berbasa-basi.


"Iya InsyaAllah."


"Kalau begitu permisi dulu. Kami pamit."


"Iya baiklah." Jawab bu Haji sambil mengantarkan sampai depan rumah. Mereka pun permisi pulang dan berlalu setelah mengemudikan mobilnya dari halaman besar rumah bu Haji Zenal.


"Farhan.. umi sama abah mau bicara sebentar." Bu Haji Zenal menahan Farhan untuk tidak segera ke pergi ke kamarnya.


"Iya mi." Farhan duduk di ruang tamu bertiga dengan pak Haji dan bu Haji Zenal selalu orang tuanya.

__ADS_1


"Bah.. abah saja yang bicara sama Farhan!" Bu Haji Zenal meminta suaminya untuk bicara pada Farhan.


"Begini Farhan. Abah sama umi sudah sepakat dengan keluarga Nisa untuk menjodohkan kalian dalam jangka waktu dekat ini. Kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga dan Nisa sepertinya sudah siap untuk menikah. Abah sama umi ingin kalian menikah sebelum abah sama umi berangkat naik haji. Bagaimana menurutmu?" Pak Haji Zenal bersama bu Haji tahun ini mendapatkan kesempatan untuk pergi lagi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.


Mereka tak ingin putra keduanya berlarut-larut menunda pernikahan. Apalagi mereka akan pergi meninggalkan tanah air yang tidak tahu apakah umur mereka masih panjang atau tidak. Khawatir ketika menunaikan ibadah haji mereka tak kembali.


"Umi.. Abi.. Farhan sangat menyayangi umi dan abi. Mana mungkin Farhan menolak pilihan umi dan abi jika calon yang dipilihkan sesuai dengan kriteria yang ada dalam al-quran dan sunnah Nabi. Farhan bukan menolak umi. Tapi... Farhan merasa kurang cocok dengan karakter Nisa dan keluarganya. Apalagi Nisa tidak menutup aurat. Farhan tak ingin calon ibu dari anak-anak Farhan nantinya mengikuti jejak ibunya." Farhan dengan berat mengungkapkan isi hatinya. Jauh dalam lubuk hatinya ada seseorang yang mulai disukai Farhan. Mulai penampilan dan tutur katanya yang sopan.


"Farhan.. kamu baru sekali bertemu. Belum tahu betul siapa mereka. Kamu baru menilai mereka hanya malam ini saja. Umi dan abi sudah mengenal mereka sejak lama. Keluarga mereka juga sudah tahu kita. Menurut umi.. Nisa bisa dibimbing. Ya itung-itung jihad kamu menyampaikan kebaikan." Bu Haji Zenal keukeuh dengan pilihannya.


"Begini saja umi. Berikan Farhan waktu untuk istikharah. Farhan akan meminta pilihan pada Allah Subhana wataala agar membimbing Farhan ke jalan yang diridoi-Nya. Juga kemantapan hati Farhan untuk menempuh rumah tangga. Tapi mohon maaf jika suatu saat Farhan memilih yang lain. Farhan harap umi dan abi bisa memakluminya." Farhan menatap kedua orang tuanya dengan penuh harap.


Bu Haji dan pak Haji Zenal saling menatap, seolah mereka sedang berbicar lewat netranya.


"Baiklah.. umi harap, jalani saja dulu. Kalau di tengah jalan Farhan merasa tidak cocok. Farhan boleh memantapkan pilihan yang lain." Suara Bu Haji terdengar melemah. Meski dia sudah bersikeras menjodohkan, tapi dia tak bisa memaksa Farhan untuk memaksakan perjodohannya dengan Nisa.


Sementara itu keluarga jeng Reni sudah sampai di rumah. Nisa langsung berlari ke wastafel memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


"Nisa... kamu masuk angin? Atau kena lambung?" Jeng Reni merasa cemas melihat anaknya yang tiba-tiba muntah-muntah.


"Sepertinya Nisa masuk angin dan terkena lambung. Kemarin Nisa tidak sempat teratur makan ma." Ucap Nisa sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Ya sudah.. gosok pakai kayu putih dan jangan lupa makan obat lambungnya." Ucap jeng Reni.


"Iya ma." Nisa melangkahkan kakinya dengan gontai ke kamarnya. Rasa lemas dan pusing kini sedang mengendap dalam tubuhnya. Dia membaringkan diri di kasur yang bersprei kan warna pink baby kesukaannya.

__ADS_1


"Duh.. bagaimana ini? Apa bisa aku menikah dengan Farhan?"


__ADS_2