Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
15


__ADS_3

"Ini pak! Mudah-mudahan bisa membantu Indra." Sani menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar.


"Duh.. Jadi merepotkan ya nak!" Tangan pak Karim menerima uang itu sedangkan hatinya menolak karena malu.


"Tidak apa-apa pak. Kebetulan sebelum berangkat mbak Ira memberi saya sedikit bekal untuk diperjalanan." Imbuh Sani pada pak Karim.


Indra menunduk malu, kenapa harus menerima bantuan dari orang yang sudah diperlakukan buruk.


"Indra... ucapkan terimakasih pada Sani!" Pak Karim menyuruh Indra berterima kasih pada Sani atas bantuannya.


"Ma kasih ya San. Nanti kalau aku punya rejeki aku ganti uang kamu." Ucap Indra merasa berhutang budi.


"Gak usah! Saya juga diberi orang. Mungkin rejeki Indra untuk menggunakan uang itu." Sani tak mau Indra meras berhutang budi.


"Kalau begitu saya berangkat dulu." Indra mencium punggung tangan pak Karim dengan rengkuh.


"Assalamualaikum." Ucap Indra berlalu keluar dari rumahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab pak Karim berbarengan dengan Sani.


Pak Karim terdiam. Dia tak tahu harus berbuat bagaimana sekarang. Setelah menerima bantuan dari Sani pak. Karim merasa tidak enak hati harus menyuruhnya pindah ke tempat ruangan kosong yang ada di mesjid.


"Ayu pak! Katanya mau mengantarkan saya ke sana." Ucap Sani pada pak Karim.


"Nak Sani.. maafkan bapak ya nak!" Suara pak Karim terdengar sedih. Ada segurat rasa kasihan di hati pak Karim melihat keadaan Sani yang masih terluka malah dirinya memikirkan untuk mengusir dari rumahnya. Kalau bukan karena perlakuan istrinya mungkin pak Karim akan mempertahankan Sani sampai sembuh di rumahnya.


"Gak pa-pa pak. Saya malah senang kalau bisa dekat mesjid. Saya bisa leluasa shalat di mesjid kapanpun. Kata guru ngaji saya dulu, jika kita kehilangan tempat tinggal maka datanglah ke mesjid. Karena di mesjid tempat orang-orang baik." Ucap Sani mengulang perkataan gurunya dulu semasa masih suka mengaji ke madrasah.


"Betul nak Sani! Mesjid adalah tempat orang-orang baik berkumpul. Jangan ragu untuk mendekat. Karena hanya orang-orang yang mau memakmurkan mesjid lah yang mau datang dan mengupayakan dirinya beribadah menunaikan shalat lima waktunya di mesjid.


"Iya Pak. Saya mau mengucapkan banyak terimakasih pada bapak yang sudah berkenan menampung saya disini." Sani mengucapkan terimakasih pada pak Karim yang dengan tulus mau menampungnya apalagi sekarang mencarikan tempat tinggal.


"Mari kita ke sana!" Pak Karim berdiri hendak mengantarkan Sani ke rumah pak Haji Zenal.


"Ibu kemana pak?" Sani tak melihat istrinya pak Karim ada di rumah.


"Mungkin sedang mengantarkan anak-anak ke sekolah." Jawab pak Karim.

__ADS_1


"Ya sudah saya titip salam buat ibu ya pak! Dan tolong sampaikan pula ucapan terimakasih saya padanya."


"Baik nak Sani. Bapak mewakili ibu meminta maaf jika ada hal yang tidak berkenan. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati!"


'Baik pak! Mari kita pergi pak!" Sani ke luar dari rumah itu mengikuti langkah pak Karim.


Setelah berjalan sekitar 300 meter, Sani dan pak Karim sampai di depan rumahnya pak Haji Zenal.


"Wah rumahnya besar juga ya pak!" Ucap Sani pada pak Karim.


"Iya. Pak Haji pengusaha sukses di daerah ini. Apalagi anaknya yang nomor 2 kini bekerja di Singapura dipercaya oleh bosnya memegang perusahaan. Sungguh beruntung keluarga pak Haji Zenal itu. Sudah kaya dermawan pula." Ucap pak Karim pada Sani.


Sani hanya mangut-manggut.


"Kita masuk sekarang ya!" Ucap pak Karim


"Baik pak." Sani mengikuti langkah pak Karim masuk melalui gerbang yang dijaga ketat.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Eh pak Karim. Mari masuk pak!" Bu haji Zenal mempersilahkan pak Karim menyuruhnya masuk.


"Oh ini yang namanya Sani pak Karim?"


"Iya bu Haji."


"Ayo duduk nak!"


"Terima kasih." Sani duduk setelah dipersilahkan.


Bu Haji menatap detail Sani dari atas sampai bawah.


"Kasian anak ini. Bajunya kumel begitu. Apa istrinya pak Karim memberi daster dan kerudung lusuh itu untuk dipakai anak ini? Sungguh tega dia memberinya baju yang layaknya jadi lap kesed. Padahal anak ini mempunyai wajah yang cantik dan kelihatannya dia juga anak baik." Bu Haji Zenal hanya bergumam dalam hati.


"Kamu tidak apa-apa tinggal di mesjid Sani?" Ucap bu Haji.


"Mau bu Haji." Jawab Sani tanpa beban.

__ADS_1


"Baik. Nanti akan diantar sama bibi yang suka bantu-bantu disini ke mesjid. Di sana sudah ada kasur dan lemari. Kamu tinggallah untuk sementara. Kalau lukanya sudah membaik kamu bisa bantu-bantu membersihkan mesjid itu. Untuk makan datanglah ke sini ya!" Ucap bu Haji tersenyum ramah.


"Baik bu Haji. Saya ucapkan banyak terimakasih atas kebaikan bu Haji mau memberi izin saya tinggal di sini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bu Haji berlipat-lipat." Ucap Sani tulus.


"Aamiin." Ucap bu Haji mengaminkan.


"Bu haji kalau begitu saya mohon undur diri. Saya titip Sani ya bu. Mohon maaf sudah merepotkan!" Kata pak Karim terlihat malu.


"Iya baik Pak Karim. Sampaikan salam saya buat istri pak Karim." Bu Haji Zaenal berdiri mengantarkan pak Karim ke depan pintu.


"Iya bu Haji InsyaAllah."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Pak Karim berlalu meninggalkan rumah pak Haji Zenal dan kembali ke rumah kontrakannya dengan perasaan penuh bersalah pada Sani.


"Sani."


"Iya bu Haji." Sani melihat bu Haji dengan penuh hormat.


"Siapa yang memberi baju itu?" Bu Haji Zenal menatap Sani dengan heran.


"Ini dikasih istrinya pak Karim." Sani berkata pelan. Sepertinya Sani mengerti kenapa bu Haji Zenal menanyakan hal itu.


"Katanya kamu terluka? Boleh bu Haji lihat?" Dia melihat pada bagian bawah Sani yang tertutup kain daster lusuh.


"Oh.. iya." Sani menjawab dengan malu-malu.


"Coba buka! Bu Haji pengen lihat!" Sepasang netranya sedang mengamati gerakan Sani.


"Innalillahi.. Sani... Apa. itu tidak sakit?' Bu Haji kaget matanya membesar begitu melihat kulit putih Sani yang tergores menghitam dan sebagian lagi membiru. Dia menatap lagi ke arah Sani penasaran dengan ekspresi anak remaja yang ada di depannya.


"Sedikit bu Haji." Sani tak berani mengatakan yang sebenarnya. Merasa malu untuk mengeluh.


"Sebaik kamu kembali ke rumah sakit!' Bu Haji terlihat khawatir melihat luka-luka Sani takut infeksi. Dia sudah mengira itu pasti sangat sakit.

__ADS_1


"Kenapa mi?" Suara laki-laki muda terdengar dari lantai dua. Dia baru saja keluar dari kamarnya dan mendengarkan percakapan ibunya dengan perempuan remaja asing di ruang tamu.


"Farhan.. kamu mau mengantar ke rumah sakit?"


__ADS_2