Surat Terakhir Untuk Ibu

Surat Terakhir Untuk Ibu
25


__ADS_3

Dari pagi Sani hanya terdiam. Kadang banyak melamun dari pada fokusnya.


"Hei.. malah melamun!" Bi Inah mengagetkan Sani yang malah terdiam ketika mencuci piring.


"Astaghfirullah.. Bibi.. saya kaget beneran." Ucap Sani sambil menoleh ke arah Bi Inah.


"Bibi lihat dari tadi malah neng Sani melamun aja!" Bi inah walau sibuk masih memperhatikan Sani dengan baik.


Sejak tadi pagi bi Inah sibuk sekali karena harus menyiapkan persiapan pernikahan Farhan. Apalagi karena bu Haji Zenal tidak ada, jadi bi Inah lah yang membantu Farhan menyiapkan segala persiapan pernikahan.


"He... mungkin efek kurang tidur bi." Jawab Sani yang memang waktu itu harus menginap menunggu bu Haji Zenal di rumah sakit.


"Mmm kurang tidur apa kurang cuci mata?" Bi Inah menggoda Sani.


"Ihh.. Bi Inah.. cuci mata apaan sih bi?" Sani langsung fokus kembali mencuci wadah-wadah bekas memasak. Dia tersipu malu telah digoda perempuan bertubuh tambun.


Bi Inah sejak kemarin malam memang masak banyak untuk dibawa ke rumah besan juga ke rumah sakit untuk syukuran kecil-kecilan. Karena pernikahan Farhan terbilang dadakan mereka hanya mengadakan syukuran kecil-kecilan dan menunda walimatul ursyi sampai bu Haji Zenal sehat kembali.


"Ya... kan mas Farhan sudah hijrah ke rumah mertua. Jadi sekarang tidak ada lagi yang bisa kita lihat. Paling bi Inah lagi.. bi Inah lagi." Imbuhnya sambil menahan tawa.


"Ya ga pa-pa bi.. kalau bibi dilihat berkali-kali tidak dosa. Kalau mas Farhan dilihat berkali-kali mesti banyak istigfar." Ucap Sani pada bi Inah.


"Wah.. kalau bibi masih punya anak laki-laki, bibi ambil neng Sani jadi mantu. Sudah cantik sholehah lagi." Sebenarnya bi Inah menyimpan kekaguman sejak pertama kali Sani datang di rumah bu Haji Zenal. Selain cantik perangainya pun baik. Apalagi dia rajin membantu tidak terlihat malas-malasan.


"Memang anak bibi sudah menikah semua?" Tanya Sani yang belum banyak mengetahui keluarga bi Inah.

__ADS_1


"Sudah neng.. Bibi cucunya juga banyak. Anak bibi ada lima, semuanya sudah menikah." Jawab bi Inah.


"Wah... MasyaAllah... banyak anak banyak rejeki ya bi.." Ucap Sani yang baru tahu anak bi Inah banyak juga.


"Iya neng alhamdulillah... bibi berhasil menyekolahkan anak-anak semuanya. Sepeninggal suami bibi, keluarga bu Haji lah yang membiayainya sekolah. Makanya bibi banyak berhutang budi pada keluarga ini. Kebaikan mereka banyak sekali neng." Bi Inah semu berkaca-kaca. Dia terharu dengan kebaikan keluarga bu Haji Zenal yang dermawan.


"Oh.. begitu ya bi. Wah.. saya beruntung bisa bertemu beliau. Hanya Allah lah.. yang akan mendekatkan kita dengan orang baik bi.. InsyaAllah." Sani menoleh pada bi Inah, ada kesamaan yang dirasakan bi Inah dan Sani yang telah mendapatkan pertolongan keluarga ini.


"Iya neng. Bibi tiap hari mendoakan keluarga ini. Semoga Allah Subahana wata'ala selalu melindungi keluarga ini." Bi inah seolah sedang menerawang ke masa-masa tersulitnya ketika baru ditinggalkan suaminya tercinta ke alam baka.


Sementara di tempat lain, Nisa dan Farhan baru sampai di rumah. Keduanya masuk ke dalam rumah jeng Reni.


"Masuk bang Farhan! Rumah ini sekarang sudah menjadi rumah abang kedua. Semoga bang Farhan betah dan nyaman di rumah mamah sama papah." Ucap jeng Reni.


"Iya mah. Terima kasih." Farhan mengagguk sopan.


"E.. eh... iy iya." Farhan jadi malu karena dia masih malu dan canggung. Melihat sikap Nisa yang memaksa dia menyamakan langkah mendampingi Nisa.


Jeng Reni. dan suaminya pak Fadli tersenyum melihat tingkah Nisa juga Farhan yang malu-malu.


"Ah.. akhirnya anak kita menikah juga. Mamah sempet khawatir pah.. takutnya Farhan tidak mau menikah dengan Nisa." Jeng Reni menghela nafas.


"Mamah ngebet banget dapat menantu Farhan.' Pak Fadli yang tidak terlalu ambisi melengos ke ruang keluarga mengistirahatkan tubuhnya sejenak untuk relaks.


"Ih.... papah. Memangnya kita mau menikahkan putri kita satu-satunya deng laki-laki yang tidak jelas? Farhan dan keluarganya itu idaman setiap orang lho pah.. Masa mamah harus menyia-nyiakannya? Kurang apa coba mereka pah? Harta? Ada. Tampan? Iya. Dan.. yang satu lagi mereka orangnya terkenal baik." Ucap jeng Reni berbunga-bunga, bahagia impian mempunyai menantu idamannya tercapai.

__ADS_1


"Iya... mereka sih tidak kurang. Nah yang kurang itu justru kita mah... " Pak Fadli sadar diri bahwa keluarga dirinya lah yang banyak kekurangan apalagi dengan Nisa. Ada sesuatu yang dikhawatirkannya. Tapi dia berharap kekhawatirannya itu tidak terbukti.


"Iya Iya lah.. papah selalu aja mengejek mamah sama Nisa. Mentang-mentang papah sudah bener.. " Jeng Reni mengerucutkan bibirnya, kesal. pada suaminya.


"Eh... kalau udah baperan suka melengos begitu." Keluh pak Fadli melihat punggung istrinya yang masuk ke dalam kamar sambil cemberut.


Di ruangan lain, Nisa yang berhasil menarik Farhan masuk ke kamar nya sangat senang. Rasa senang dan bahagia Nisa tak habis-habisnya sejak kabar kesediaan Farhan untuk menikahinya datang. Wajahnya tak berhenti senyum seolah stoknya tidak habis-habis.


"Nih bang... kamar kita... " Ucap Nisa membuka kamarnya lalu dengan terbentang memperlihatkan kamarnya yang sudah dirias cantik oleh salah satu tukang rias pengantin. Meski acara akad pernikahannya diadakan sederhana, Nisa tak mau moment indah itu dibuat tidak berkesan.


Farhan hanya tersenyum tipis. Dengan langkah enggan dia masuk ke kamar Niaa yang sudah dirias cantik.


'Bagaiamana menurut abang?" Nisa langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Farhan.


Farhan yang tak biasa berdekatan dengan perempuan agak mundur. Tapi dia buru-buru sadar dari keterkejutannya. Bahwa Nisa sekarang sudah menjadi istri sahnya.


"Mmm.. bagus." Jawab Farhan pelan dan canggung.


"Ihh.. bang Farhan tidak seru." Nisa yang membaca raut wajah Farhan yang masih enggan romantis, cemberut dan melepaskan tangannya duduk di tepian kasur.


Farhan merasa bersalah. Dia menghampiri Nisa lalu tersenyum, walau dia tahu senyum ini terpaksa.


"Maafin abang ya Nis.. kalau abang masih kaku. Abang belum terbiasa dekat dengan perempuan. Abang juga pikirannya masih belum tenang. Mohon Nisa bisa bersabar ya!" Farhan mengelus lembut tangan Nisa yang sudah jadi istri sahnya.


Nisa menatap Farhan dengan sorot mata yang masih kesal dan bibirnya masih mengerucut. Farhan menatap inten sambil tersenyum

__ADS_1


YA Allah.. ampuni hamba-Mu ini. Hamba kenapa belum ikhlas menerima takdirmu. Bantu hamba yang lemah ini.


Farhan berdoa dalam hatinya untuk bisa menghadapi ujian ini.


__ADS_2