
Kring
Kring
Kring
"Assalamu'alaikum Far.. "
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. iya bang." Farhan menjawab telepon dari kakaknya, Reza.
"Kamu sebaiknya cepat kesini Far... " Suara Reza terdengar serius.
"Iya bang. Bagaimana dengan perkembangan umi?" Tiba-tiba hati Farhan tidak tenang.
"Mmm.. umi ngedrop Far. Sebaiknya kita ngumpul aja disini!" Farhan tak mau menyembunyikan kondisi ibunya yang tiba-tiba saja ngedrop.
"Ba.. Baik bang. Farhan segera ke sana." Farhan terbata-bata menjawab telepon Reza. Hatinya tidak karuan setelah mendengar tentang kesehatan ibunya yang memburuk. Sesuai dugaannya bahwa ada hal yang kurang baik mengenai kondisi ibunya di rumah sakit.
"Iya. Sebaiknya kamu tenang tidak panik! Jangan lupa hati-hati bawa mobilnya!" Pesan Reza pada Farhan.
"Iy ya bang." Meski begitu tetap saja Farhan masih terbata-bata dalam bicara.
"Kalau begitu saya tutup dulu ya bang telepon nyal! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Telepon pun di tutup. Farhan melihat ke arah Nisa yang sedang memilih baju di satu counter yang ada di mall. Farhan menghampiri Nisa.
"Nis.. bajunya sudah ada yang terpilih? Abang mesti cepat ke rumah sakit. Umi drop." Ucap Farhan memberitahu Nisa. Berharap Nisa mempercepat belanjanya.
"Ih abang baru juga sampai.. Nisa belum beres memilihnya." Nisa cemberut kesal acara belanjanya jadi gagal.
__ADS_1
Farhan lagi-lagi harus mengurut dadanya karena melihat sikap Nisa yang tidak mempunyai rasa empati.
"Kamu beli dengan cepat mana yang kira-kira menurut kamu suka, tapi abang harap kamu bisa memilih dengan cepat." Farhan tak mau bertengkar dengan Nisa meski Nisa seperti itu. Dia berharap jika dirinya memperlakukannya baik, Nisa akan berubah melunak.
"Iya deh.. Tunggu sebentar! Nisa akan memilih cepat. Nisa langsung memilih baju yang disukainya lalu cepat menghampiri Farhan.
"Nih sudah! Tapi janji nantinya belanja lagi." Nisa yang tidak puas meminta Farhan untuk berjanji berbelanja lagi nanti.
"Iya. InsyaAllah kalau abang sudah tenang ya!" Farhan mengusap kepala Nisa lembut.
Nisa tersenyum senang diperlakukan seperti itu. Farhan berjalan menuju kasir bersama Nisa untuk membayar baju yang telah dipilih Nisa.
Nisa tersenyum bahagia, melihat Farhan tidak mempermasalahkan mahalnya baju yang dipilih Nisa. Walaupun Farhan tidak berlebihan dalam membeli pakaiannya tapi dia membiarkan begitu saja Nisa memilih baju sesuai keinginannya walaupun harganya terbilang mahal.
Setelah Farhan membayar barang belanja, dia menuntun Nisa keluar mall.
"Bang.. jangan cepet-cepet! Nisa capek." Nisa mengeluh harus mengejar langkah Farhan yang panjang dan juga cepat. Meski dia sudah berusaha menyeimbangkan langkahnya tetap saja merasa seperti harus setengah berlari.
"Oh.. iya maaf. Abang agak tidak tenang Nis sekarang sedang ditunggu bang Reza. Abang ingin segera cepat sampai di rumah sakit. Hati abang khawatir, pikiran abang juga tidak bisa tenang setelah tadi ditelepon.
"Oh iya.. maafkan! Langkah abang terlalu cepat ya!" Farhan meminta maaf karena tidak sadar langkah kakinya membuat Nisa jadi kelelahan.
Mereka memasuki area parkir lalu keduanya pun masuk ke dalam mobil. Farhan memasangkan safety belt Nisa terlebih dahulu lalu memasangkan safety belt punya dirinya. Nisa yang diperlakukan seperti itu senyam-senyum sendirian. Yang awalnya Farhan agak kamu kini sudah bisa menyesuaikan diri dan bersikap layaknya sebagai suami.
Dia manis sekali. Rasanya aku tak may kehilangan dirinya. Wanita mana yang menolak laki-laki tampan, tajir juga romantis. Tak aku sangka dia bisa juga berlaku seperti ini.
Nisa hanya bicara di dalam hati. Farhan segera melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan lumayan di atas rata-rata.
Tak lama kemudian keduanya sudah sampai di halaman parkir rumah sakit. Farhan kembali membukakan safety beltnya Nisa terlebih dahulu kalau dirinya. Setelah keluar Farhan segera menggenggam tangan Nisa lalu berjalan menuju ruangan dimana Ibunya dirawat.
"Assalamu'alaikum." Farhan masuk ke dalam ruangan rawat ibunya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Semua orang yang ada di dalam ruangan itu kompak menjawab salam. Pak Haji Zenal, Reza juga Sarah sudah ada di ruangan itu. Mereka menoleh ke arah Adam dan Nisa.
Farhan menghampiri pak Haji Zenal lalu mencium punggung tangannya di susul Nisa. Lalu memeluk Reza. Sedangkan Nisa cipika cipiki pada Sarah.
"Bagaiamana umi bang? Abah?" Cemas Farhan.
"Umi dibawa ke ICU baru saja. Karena membutuhkan perawatan yang khusus. Umi terkena serangan jantung lagi. Sekarang dia belum sadar Far." Ucap Reza.
"Apa Farhan bisa melihatnya bang?" Farhan sangat menyesal akan keterlambatannya sampai di rumah sakit.
"Mmm.. abang tidak tahu. Barusan umi sedang diperiksa dokter di ruang ICU." Reza belum bisa melihat Ibunya yang sedang diperiksa ibunya.
"Bagaimana kalau kita ke sana saja? Mungkin nanti kita bisa melihat umi di sana." Pak Haji memberikan ide.
"Ya sudah kita ke sana saja sekarang! Nanti abang tanyakan pada dokternya bagaimana kondisi umi sekarang." Reza mengajak semuanya untuk pergi ke ruang ICU.
"Ya sudah mari kak!" Ucap Farhan sambil menggandeng pak Haji Zenal. Wajah ayahnya terlihat sangat cemas dan gelisah. Farhan memberikan dukungan kekuatan dengan menggandeng ayahnya.
Nisa dan Sarah saling bergandengan. Semua mengikuti langkah Reza berjalan ruang ICU.
Ruang ICU tertutup rapat tidak bisa dimasuki penjenguk. Hanya tim medis, dokter dan perawat yang boleh masuki ruangan itu.
Reza masuk ke ruangan tim medis untuk menanyakan kondisi ibunya. Terlihat Reza sedang bercakap-cakap dengan dokter yang tadi bertanggung jawab pada bu haji Zenal. Dilihat dari wajahnya nampak sekali wajah Reza sangat serius. Farhan mengusap punggung ayahnya untuk menguatkan mentalnya. Karena semua tahu, pasien yang masuk ke ruangan ICU pastinya kondisi pasien sedang tidak baik-baik saja.
Setelah beberapa saat Reza pun menghampiri semuanya.
"Bagaimana bang? Apa yang dikatakan dokter?" Farhan tak sabar ingin segera mengetahui kondisi ibunya.
"Sebaiknya kamu antar abah dan Sarah ke rumah abah! Biar abang yang menunggu umi disini Far. Besok kamu gantikan abang disini!" Reza memutuskan untuk menunggu ibunya di rumah sakit meski dia tak tahu harus berbuat apa-apa.
"Baik bang. Terus kabari kondisi umi ya bang!" Ucap Farhan yang tidak bisa memilih.
__ADS_1
Farhan lalu menuntun badan ayahnya naik ke dalam mobil.
"Kak Sarah mau menginap rumah abah saja Far!" Ucap Sarah ingin menemani mertuanya.