
"Tidak usah! Mama bisa sendiri. Kasihan bang Farhan kan masih menunggu umi." Jeng Reni berusaha menolak bantuan Farhan
"Iya baiklah ma. Kalau mama butuh bantuan Farhan, jangan sungkan ya ma!" Ucap Farhan tak sedikit pun mencurigai Jeng Reni.
"Baik. Oh iya bagaimana kesehatan umi. Katanya masuk ICU?" Jeng Reni menanyakan kondisi bu Haji Zenal sebagai besannya
"Iya. Umi kemarin tak sadarkan diri. Sampai sekarang belum bangun." Ucap Farhan mengabarkan kondisi ibunya.
"Oh.. iya mama doakan ya biar umi sehat kembali." Jeng Reni tak mau berlama-lama di dekat Farhan takut rahasia Nisa terbongkar.
"Aamiin ma. Terimakasih." Ucap Farhan memberi hormat.
"Mama pergi dulu ya bang Far. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Farhan kembali mengurus administrasi Sani yang belum selesai.
"Bang Far.." Sarah menghampiri Farhan.
"Eh kak Sarah..Bagaimana Sani udah selesai beres-beresnya?" Ucap Farhan melihat pada kakak iparnya.
"Alhamdulillah sudah. Tadi abah menyuruh kakak menyusul kamu." Ucap Sarah yang begitu datang langsung ke ruangan Sani.
"Far.. " Lirih Sarah pelan.
"Maafkan kakak ya.. " Tiba-tiba Sarah meminta maaf, takutnya apa yang akan dibicarakan akan menyinggung Farhan.
Farhan yang masih memeriksa beberapa lembar yang harus ditanda tangannya, menoleh ke arah kakak iparnya.
"Iya kak?" Farhan merasa aneh, kenapa kakak iparnya tiba-tiba minta maaf.
"Mmm.. tapi sekali lagi kakak minta maaf. Mungkin yang akan dibicarakan kakak, akan membuat kamu kecewa." Sarah tak berani to the point.
__ADS_1
"Iya kak, ada apa? InsyaAllah kak, kenapa harus kecewa?" Farhan mengerutkan keningnya.
"Mmm.. tadi kakak ketemu teman lama di sana. Kebetulan dia dokter kandungan." Sarah menjeda.
"Terus?" Farhan memperhatikan Sarah serius.
"Mmm... anu. Tadi kakak lihat mertuamu masuk ke satu ruangan. Kakak lihat di daftar pintunya tertera Nisa." Sarah kembali menjeda. Menunggu Farhan mencerna perkataannya.
"Iya.. terus maksudnya apa kak Sarah?"
"Mmm..teman kakak yang dokter itu habis tindakan, pasiennya adalah Nisa. Apa kamu tahu kalau istrimu sedang di rumah sakit Far?" Ucap Sarah tak mau melanjutkan ceritanya. Biar Farhan sendiri yang mencari tahu kebenarannya.
"Mmm... tadi Nisa di rumah. Tidak apa-apa kok! Malah tadi minta izin hangout sama tema-temannya. Mungkin itu Nisa yang lain kak." Farhan tidak percaya begitu saja cerita Sarah. Meski barusan dia bertemu dengan mertuanya
Dia tak menceritakan apapun tentang Nisa. Kalaupun memang Nisa dibawa ke rumah sakit pastinya dia akan memberitahu Farhan. Itu yang ada dalam pikiran Farhan saat ini.
"Oh... begitu ya?" Sarah bingung mau menyampaikan pada Farhan secara gamblang takut disebut tukang adu domba.
"Kak Sarah kok kaya bingung begitu? Kak Sarah tidak percaya sama Farhan?" Farhan melihat raut wajah Sarah kebingungan. Mungkin dari penerangan Farhan belum bisa membuat Sarah percaya.
"Baiklah kak.. nanti Farhan akan mencoba mencari tahu. Sekarang Farhan mau membereskan dulu administrasi Sani. Nanti Farhan menyusul ke ruangan." Ucap Farhan dengan mood kurang baik karena cerita Sarah barusan.
"Iya. Baik. Kakak tunggu! Sekali lagi kakak minta maaf ya kalau kakak barusan menyinggung kamu Far." Sarah bisa membaca raut wajah Farhan jadi berubah. Mungkin disebabkan karena berita kurang baik yang disampaikannya.
"Iya kak." Farhan tak mau memperpanjang lagi bicaranya dengan Sarah.
"Iya, kakak tinggal dulu. Assalamu'alaikum." Sarah pergi meninggalkan Farhan. Meski dia harus kecewa dengan respon Farhan, tapi penting untuk disampaikan jika memang itu ada kaitannya dengan Farhan. Sarah tak mau Farhan dibohongi oleh keluarga Nisa. Jelas-jelas tadi dia pun melihat mertua Farhan masuk ke ruangan itu. Dan pasien yang ada di dalamnya bernama Nisa. Apa ada Nisa yang lain selain Nisa istri Farhan? Sedangkan mertua Farhan hanya mempunyai anak tunggal, yaitu Nisa saja.
Farhan sudah selesai membereskan administrasi Sani. Dia bergegas menuju ruangan Sani. Beberapa hari ini Farhan tidak sempat menjenguk Sani karena tak sempat. Hanya Sarah yang menunggunya di siang hari dan kalau malam, ada perawat yang sengaja disewa keluarganya untuk menunggu Sani.
Farhan masuk ke ruang inap Sani.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ucap Farhan sebelum masuk.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Farhan pun masuk. Dia mencium punggung pak Haji Zenal dengan hormat. Lalu menghampiri Sani.
"Apa kabar Sani? Bagaimana apakah kamu sudah baikan?" Tanya Farhan.
Sani yang sudah lama tak melihat Farhan. Begitu rindu melihatnya. Ya meski hanya mendengar suaranya, tak apalah. Dia merasa senang sekali Farhan bisa menjenguknya sekarang. Dia pun memaklumi Farhan yang jarang menjenguknya, karena selain sudah beristri dia pun ada pekerjaan yang lebih penting yaitu mengurus ibunya sendiri. Sani hanya menyukainya dalam diam, Sani pun tau diri. Siapakah dia?
"Ya Allah ampuni hambamu ini. Yang menyukai suami orang. Tolong jaga hati ini agar tidak berlabuh di tempat yang salah." Sani berucap di dalam hati.
"Alhamdulillah bang Farhan." Sani Menunduk tak berani menatap wajahnya langsung.
"Mmm.. baguslah. Kalau sudah sehat. Nanti kita akan ke kantor imigrasi untuk pembuatan paspor. Oh iya bah.. apa. pak Rt sudah ada ke rumah belum mengantarkan surat kartu keluarga?" Farhan menoleh ke arah pak Haji Zenal.
"Oh iya. Hampir abah lupa. Iya sudah. Kemarin abah simpan di laci kamar kamu. Takut abah lupa lagi." Ucap pak Haji Zenal pada Farhan. Kartu keluarga yang dibuat baru itu ternyata sudah selesai. Jadi untuk kelengkapan pembuatan paspor pun sekarang sudah siap.
"Oh.. iya bah. Terimakasih."
"Mmm.. kak Sarah gak pa-pa pulangnya tidak diantar?" Karena Farhan berniat menunggu ibunya bersama pak Haji Zenal.
"Gak pa-pa. Kak Sarah bawa mobil kok." Tolak Sarah.
"Ya sudah ati-ati di jalan ya!" Ucap Farhan.
"Ayo bah kita ke ICU!" Farhan mengajak ayahnya menuju ruang ICU.
"Mari. Abah tinggal dulu ya! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam salam." Mereka pun berpisah.
__ADS_1
Farhan menuntun pah Haji Zenal ke ruang ICU untuk melihat istrinya yang masih terbaring.
"Bah.. Mmm ga pa-pa abah saya tinggal dulu? Saya ada perlu dulu." Ucap Farhan pada pak Haji Zenal.